1/31/2010

Penyair dan Kata


Pada sebuah cahaya tak menyala
Aku menaruh harap pada sumbu yang menunggu terbakar

Diantara semantik konsonan yang menunggu amunisi
Tuk tersusun menjadi frase yang berteriak
Dan beraksi melancarkan barisan kata
Semiotika cerita dunia bersama retorika yang membuncah di kepala
Beserta prosa berkalang ide dan imaji yang menolak terhempas

Disanalah aku berdiri dan membakar batas!

: Malang, 30 Mei 09

Melawan Masyarakat Massa


Anarki adalah suatu keadaan dari eksistensi yang bebas dari otoritas yang koersif. Dalam keadaan ini, setiap orang bebas untuk membentuk hidupnya sendiri seperti apa yang dipilihnya, dari semua kebutuhannya, nilai-nilai dan keinginan-keinginannya.

Suatu dunia yang tidak otoriter karenanya memerlukan kebebasan untuk berasosiasi, bukan monarki (kerajaan), oligarki atau demokrasi. Banyak yang menyebut diri mereka ”anarkis”, mengaku untuk tidak menyangkal pentingnya sebuah asosiasi bebas, mengejar suatu masyarakat yang lebih demokratis dimana kesatuan korporasi dan negara akan digantikan dengan komunitas yang akan mengendalikan daerah, pekerja yang mengendalikan federasi industri, dan sebagainya. Mereka yang menginginkan hidup bebas mempunyai alasan untuk merasakan ancaman dari organisasi yang berskala besar, karena mereka bersifat imperialis dan hirarkis, sekalipun itu dimaksudkan atau digambarkan sebagai sesuatu yang ”demokratis” (seolah-olah subordinasi setiap individu kepada mayoritas merupakan suatu keharusan yang utama).

Manusia, secara alami mampu untuk bersosialisasi, beberapa ingin hidup menyendiri seperti pertapa (meskipun kebebasan untuk hidup seperti itu seharusnya tidak ditolak). Namun manusia juga selektif dalam bersosialisasi, mereka tidak bergaul akrab dengan setiap orang, dan ini merupakan penindasan untuk mengharapkan mereka seperti itu. Secara alami, manusia membentuk relasi dengan orang lain yang mereka kenal adalah untuk persahabatan dan dukungan timbal-balik. Serupa dengan kasus yang terjadi dalam sepanjang sejarah manusia. Hanya dalam sejarah baru-baru ini, orang-orang bergabung dengan organisasi massa yang terdiri dari para anggota yang tidak perlu untuk mengenal atau menyukai satu sama lain. Organisasi seperti itu tidak terbentuk karena keperluan mereka demi kelangsungan hidup.

Lebih dari 99% sejarah manusia, orang-orang menikmati asosiasi-asosiasi yang saling bertatap muka yang dimana pengaturan keluarga diperluas, dan beberapa kultur melanjutkan untuk melakukannya. Mereka yang tidak mampu berhubungan baik dengan kelompok atau sukunya bebas untuk mencari teman di tempat manapun atau bahkan hidup sendirian. Gaya dari asosiasi seperti ini bekerja dengan sangat baik – para anggota masyarakat umumnya menghabiskan waktu 2-4 jam sehari terlibat dalam aktivitas penghidupan. Meski mereka adakalanya kelaparan, pada umumnya di rumah mereka makan berlimpah, dan menikmati waktu luang jauh lebih luas daripada mereka yang hidup dengan masyarakat massa. Kultur pribumi yang masih tetap utuh hingga hari ini menyukai cara hidup tradisional mereka, dan sekarang ini banyak dari mereka yang secara mengesankan melakukan perlawanan politis terhadap korporasi dan pemerintah yang memaksa mereka menuju masyarakat massa agar nantinya lahan dan tenaga kerja mereka dapat diekploitasi. Orang-orang jarang masuk ke dalam suatu organisasi massa tanpa dipaksa, seraya mereka merampok otonomi dan independensi orang-orang.

Kemajuan peradaban didasarkan atas produksi massal yang diwajibkan. Ketika masyarakat-masyarakat tertentu mulai menghargai produktivitas agrikultur di atas semuanya, mereka secara paksa memperlakukan semua bentuk kehidupan dalam jangkauan mereka hanya demi tujuan mereka. Komunitas masyarakat yang ingin berburu, memancing, pergi mencari makanan, berkebun, atau bergembala di lahan untuk penghidupan akan dibantai dan diperbudak tanpa ampun, dan ekosistem-ekosistem yang mereka tinggali akan dikonversi menjadi tanah pertanian untuk memberi makan orang kota. Hanya mereka yang sibuk secara penuh dalam pemberian kemudahan untuk produksi panen dan binatang yang diizinkan beraktivitas di desa terdekat. Dan mereka yang berada di kota adalah para narapidana, para pedagang atau pejabat-pejabat publik yang bertugas dalam administrasi dan pengawasan sosial. Organisasi masyarakat pun menjadi lebih kompleks dan secara teknologi lebih berkembang.

Bagaimanapun, kehidupan non-manusia masih dikorbankan dan perlahan semakin dieliminasi demi kelangsungan tujuan manusia (dan pada suatu tingkat yang lebih cepat dari yang pernah ada), dan manusia masih dipaksa untuk hidup sebagai pelayan dalam kultur dan institusi dominan mereka sebagai suatu prasyarat demi eksistensi yang berkelanjutan. Bertahan hidup melalui alat langsung adalah dilarang – untuk menduduki lahan, orang harus membayar sewa atau hipotek secara berkelanjutan, dimana memerlukan kesetiaan dari tiap orang kepada satu posisi pendapatan didalam masyarakat, meninggalkan waktu yang tidak cukup menunda karena berburu atau berkebun (sangat sedikit kesenangan untuk mengiringinya). Pendidikan publik memastikan bahwa sedikit orang akan pernah belajar bagaimana caranya bertahan hidup untuk bebas dari ekonomi.

Kapitalisme adalah manifestasi atau penjelmaan dari arus peradaban yang dominan. Ekonomi di bawah kapitalisme sebagian besar diatur oleh negara—organisasi resmi yaitu korporasi. Korporasi ada untuk memenuhi tujuan perolehan keuntungan bagi para pemegang saham—mereka yang dipekerjakan oleh korporasi secara hukum diperlukan untuk mengejar keuntungan di atas semua aspek-aspek yang perlu diperhatikan (seperti ketahanan ekologis, keselamatan pekerja, kesehatan masyarakat, dsb), dan dapat dipecat, dituntut atau digugat jika mereka melakukan yang sebaliknya.

Banyak orang menghabiskan hari mereka secara sadar untuk terlibat dalam aktivitas yang tidak berarti, monoton, dan kadangkala berbahaya secara fisik dan mental hanya untuk membayar tagihan mereka, dikarenakan keperluan keuangan yang mutlak atau dikarenakan kurangnya kesadaran bahwa masih ada jalan yang lain daripada itu. Dikarenakan ketumpulan, alienasi, ketertundukan dan begitu banyak pengalaman dalam sepanjang kehidupan harian mereka, kultur kita memperlihatkan tingkat depresi yang tinggi, gangguan mental, bunuh diri, kecanduan obat, disfungsional dan relasi yang kejam, beserta cara-cara keberadaan yang seolah-olah ia mengalami sendiri sebuah aktivitas yang sebenarnya dia hanya bisa ”menonton” bukan ”melakukan” (seperti televisi, film, pornografi, video games, dsb).

Peradaban merupakan cikal bakal dari otortiarianisme yang sistemik, perbudakan dan isolasi sosial, bukan kapitalisme yang ada didalam (dirinya). Dalam konteks perspektif ini, berbagai kaum sosialis, komunis, dan bermacam anarko-kiri (seperti sindikalis, ekologi sosial, dsb) yang menyarankan untuk menghapuskan kapitalisme tanpa menyerang peradaban secara keseluruhan maka mereka hanyalah merupakan kaum reformis. Kompleksitas masyarakat adalah peradaban yang mungkin sekali diciptakan oleh institusi yang memaksa. Kelompok politis yang disebutkan diatas tidak berharap untuk mengakhiri pemaksaan, tetapi untuk mendemokrasikannya, untuk memperluas partisipasi populer dalam implementasinya.

Disamping dari betapa menjijikkannya memberi harapan kepada orang-orang untuk membantu didalam aksi yang opresif, yang harus dicatat adalah bahwa demokrasi langsung merupakan suatu khayalan dalam konteks masyarakat massa. Dalam satu asosiasi bahwa memperluas skala relasi tatap muka antar partisipannya adalah mungkin, pendelegasian tanggung-jawab kepada wakil-wakil dan spesialis-spesialis menjadi perlu jika tujuan asosiasi itu adalah untuk dilaksanakan. Meskipun jika konsensus atau suara mayoritas akan menentukan siapa yang dipilih untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan atau tanggung jawab administratif, tapi yang terpilih tidak pernah sama sekali memiliki kendali atas yang memilih ketika bertindak untuk memenuhi tugas-tugas mereka.

Suatu perintah yang tegas dalam keputusan atau perilaku delegasi-delegasi atau spesialis-spesialis menerima pengawasan yang terus menerus dari kelompok, yang mana akan mengalahkan tujuan dari suatu pembagian kerja. Tambahan pula, delegasi yang telah dipilih menerima banyak waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan dan menyajikan pandangan-pandangan dan argumentasi-argumentasi dibandingkan orang banyak. Demokrasi memerlukan perwakilan, tidak secara langsung, ketika berlangsung pada skala besar—dan demokrasi representatif adalah gaya dari politik kekuasaan yang berlangsung sekarang ini. Penghapusan hirarki menuntut penurunan pangkat yang permanen bagi para penguasa dan para bos, yang dipilih atau cara lainnya, dan karenanya juga menuntut apa yang ditolak oleh masyarakat massa.

Karena organisasi massa menghargai produksi lebih dari personalitas atau otonomi komunitas, maka mereka perlu bersifat imperialistik dalam gerak ruang lingkup mereka, dengan menghancurkan atau memperbudak semua kehidupan agar tetap berada di dalam jalur mereka. Namun, produksi bukanlah satu nilai opsional atau yang secara kebetulan bahwa masyarakat massa mampu untuk tidak memerlukannya lagi selagi melanjutkan keberadaan mereka. Jika kota-kota tidak mencukupi diri sendiri di dalam produksi makanannya, mereka akan mengambil satu lingkup area yang akan dijadikan untuk penggunaan agrikultur, dan menyumbangkan ketidakramahan kepada ekosistem-ekosistem non-manusia dan komunitas-komunitas otonom yang mencukupi diri mereka sendiri. Area ini akan diperluas dalam relasinya untuk meningkatkan populasi atau spesialisasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh kota. Orang mungkin bisa membantah bahwa produksi industri bisa dipelihara, dengan menurunkan skalanya secara serempak dan simultan, sehingga akan meninggalkan beberapa ruang bagi ekosistem dan orang-orang non-industri untuk hidup pada waktu yang sama.

Pertama-tama, proposal ini mengundang pertanyaan tentang mengapa peradaban industri harus diprioritaskan diatas wujud-wujud kehidupan yang lainnya. Ini juga diragukan, bahkan apakah itu mungkin bagi masyarakat untuk menyerang ”keseimbangan” antara kekayaan teknologi tinggi dan ketahanan ekologis tanpa pembagian-pembagian keuntungan antara bagian-bagian yang besar dari populasi bekerja atau memanfaatkan satu skema rancangan otoritas sosial yang rumit.

Kompleksitas struktur dan hirarki peradaban harus ditolak, beserta dengan imperialisme politik dan ekologinya dimana penyebarannya ke seluruh seberang dunia. Tidaklah mungkin bagi semua 6 milyar penduduk bumi untuk bertahan hidup sebagai hunter-gatherer, tetapi ini mungkin bagi mereka yang tidak dapat menumbuhkan makanan mereka sendiri secara signifikan di dalam ruang-ruang yang lebih kecil (dibandingkan dengan ukuran dari ladang-ladang yang hari ini telah diracuni dan dihabiskan untuk proses agrobisnis), seperti yang telah ditunjukkan oleh perkebunan organik dan teknik-teknik hortikultura pribumi.

Di dalam satu ekonomi yang didasarkan pada pembagian kerja, aparatus-aparatus manajerial dan institusi-institusi pengendalian sosial diwajibkan untuk mengurus proses produksi dan pertukaran komoditi, tetapi bukankah juga perlu bagi individu dan komunitas-komunitas kecil untuk memiliki kontrol terhadap mata pencaharian dan hidup mereka sendiri.

Peranan dari hirarki dan cara hidup yang teratur hanya akan melenyap ketika orang-orang sekali lagi mulai menjaga kebutuhan-kebutuhan mereka secara langsung melalui hubungan-hubungan baiknya dengan tanah mereka. Pemandangan yang hidup hanya akan dipelihara dan dikembalikan lagi ke dalam keadaan yang alami ketika perkakas-perkakas produksi massal tidak bisa lagi untuk dioperasikan. Anarki dan otonomi hanya akan tumbuh dengan subur ketika orang-orang mempelajari sekali lagi bagaimana caranya untuk hidup secara independen, bebas dari kanker peradaban dan pada akhirnya mulai sadar untuk menghancurkannya.

Manuskrip Bahagia


I

Dimana langit sesak dengan irama musik
Tanpa dawai dan jemari yang memetik
Kedamaian dan perih rasa sakit
Mendapati eksistensinya di tiap jiwajiwa yang menyala

Suka duka berbaur bersama
Sirna bersama gelora gerimis menebar dingin
Dan ruangruang hampa
Kembali terisi oleh isak tangis rengekan gelak tawa

Saat aroma matahari tertiup bersama angin
Mengebiri jantungjantung keserakahan
Dan memenjarakan penkhianatan riwayat peradaban
Yang akan menjelma menjadi histori harmoni

II

Mendung penyesalan
Mendapati dirinya sendiri teronggok busuk di liang penghakiman
Dan menuai badai kehancuran

Ketika lentera dimensi hati
Menemukan makna renungan disela persetubuhan
Yang merayap dan membasahi getar nyali
Dengan manimani gairah imajinasi

Dan disanalah putus asa hanya akan berbaris serupa nisan usang
Mati tercampakkan
Karena tiap raga yang bernyawa
Tak lagi perlu diziarahi tamutamu yang bernama kekalahan

III

Siang dan malam serasa satu
Dan tiap pintupintu rela terbuka untuk pengelana yang tersesat
Membuang dan mengubur sunyi sendiri
Masingmasing menepi ke dalam tidur berselimut birahi

Tak ada lagi berisik ratapan
Yang menggoda amarah atau ciprat genangan darah
Di setiap pinggiran jalan
Atau di tikungan kelam pojokan perempatan
Yang menggantung harapan
Dan menghanguskannya dengan letup kebencian

IV

Congkak air mata akan menghapus kesedihannya sendiri
Menelan hembusan napas riang
Dan tak lagi mengisyaratkan perih yang meradang

Dimana kita tak perlu lagi berilusi
Karena imaji telah menemukan iluminasinya sendiri

Tak ada lagi yang serasa pasrah serasa mati
Semua hidup, semua bermimpi!

: Malang, 8 Juni 09

Swakelola Sebagai Alternatif Radikal


Bila agenda nasionalisasi tidak mencukupi untuk menghadirkan pembebasan bagi proletariat [1], adakah alternatif radikal yang dapat diambil? Tentu saja alternatif tersebut dimaksudkan untuk menghapuskan fitur-fitur, watak dan keseluruhan sifat menghisap dari sebuah sistem produksi dan konsumsi yang eksis ini. Secara singkat, agenda utamanya adalah menegasikan keseluruhan sistem kapitalisme, tanpa ragu-ragu dan setengah-setengah. Oleh karena kapitalisme eksis berdasarkan 'kerja-upahan' untuk memproduksi komoditi, dan hal tersebut hanya dimungkinkan lewat sebuah relasi sosial dan ekonomi yang hirarkis - seperti majikan-pekerja, maka untuk menegasikannya, sebuah relasi sosial sekaligus ekonomi harus diorganisir melampaui bentuk-bentuk awalnya. Dan sebuah alternatif radikal yang dimaksud dapat dijumpai dalam bentuk self-management atau swakelola.

Swakelola pekerja (workers self-management) adalah suatu model dalam mengoperasikan tempat kerja tanpa majikan atau manajemen hirarkis yang baku. Sebagai gantinya, tempat kerja tersebut dijalankan secara demokratis oleh pekerjanya. Dengan demokrasi, bukan berarti bahwa para pekerja memilih seorang manajer untuk membuat keputusan kepada mereka. Tetapi para pekerja memutuskan sendiri apa yang akan mereka lakukan sebagai sebuah kelompok. Tak seorang pun dalam badan usaha yang dikelola secara mandiri, memiliki kontrol terhadap pekerja lainnya kuasa dalam menentukan setiap keputusan ada di tangan setiap pekerja secara setara.

Swakelola yang dimaksud juga bukanlah sebagaimana 'kontrol pekerja' (worker's control) yang berada di bawah kapitalisme privat atau pun kapitalisme negara, yang hanya spekulasi mengenai hak kontrol pekerja dalam menentukan segi-segi tertentu dalam produksi, seperti memilih wakil pekerja untuk bernegosiasi dengan manajer dalam memutuskan urusan-urusan bagaimana sebaiknya agar produksi tetap berjalan. Juga tidak seperti yang dipraktekkan di Yugoslavia ala rezim Komunis yang menempatkan pekerja sebagai pemegang saham dalam perusahaan kapitalis yang menghasilkan berbagai komoditi untuk bersaing dengan komoditi lain dalam sebuah ekonomi pasar, dan berhak memilih sebuah komite direksi untuk mengelola perusahaan, tentu saja di bawah kontrol ketat Partai berkuasa dan birokrasi negara.

Swakelola adalah negasi atas sistem produksi kapitalis, dengan mengenyahkan seluruh relasi hirarkis dan sistem kerja-upahan. Dengan mengacu pada kesatuan sistem ekonomi, swakelola berarti pola manajemen langsung oleh produsen, mulai dari proses produksi, distribusi hingga komunikasi dengan komunitas atau masyarakatnya.

Swakelola bukan sebuah konsepsi abstrak yang utopis. Dalam sejarah, swakelola telah hadir berulang kalidi Russia pada 1905 dan 1917, di Spanyol pada 19361937, di Hungaria pada 1956 dan Aljazair pada 1960 serta Chili pada 1972 hingga di Argentina pada 2001. Bentuk organisasi yang paling sering dibangun sebagai praktik dari swakelola adalah Dewan Pekerja (Soviet).

Pekerja dalam sebuah pabrik, sistem transportasi, komunikasi, dsb, membentuk sebuah badan umum yang kemudian memilih komite-komite yang berisi delegasi-delegasi untuk menangani tugas-tugas khusus, termasuk pertahanan diri dan koordinasi dengan perusahaan lain yang juga telah dikuasai oleh para pekerjanya. Pengoperasian perusahaan lantas dimulai kembali di bawah manajemen pekerja dan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang didefinisikan oleh mereka - tentu saja, selama sebuah krisis revolusioner, sektor-sektor terpenting adalah produksi pangan, senjata, sumber daya listrik, keberlanjutan urusan medis, telekomunikasi dan layanan transportasi.

Setiap tempat kerja yang diswakelolakan berjalan berdasarkan pertemuan langsung (face to face) antar pekerja dalam sebuah dewan pekerja. Pekerja di setiap perusahaan mengambil keputusan kolektif berbasis demokrasi langsung, baik one-man-one-vote atau melalui konsensus. Ini mesti berlangsung di seluruh divisi atau unit kerja terkecil dari bawah, dan pada akhirnya mencakup keseluruhan tempat kerja.

Dalam mengkoordinasikan kerja-kerja harian di tingkatan basis atau unit kerja, dilakukan lewat pertemuan Dewan Pekerja di tiap divisi atau unit kerja, yang fungsinya membicarakan masalah kerja dan mengambil keputusan harian. Tiap divisi/unit kerja mengirimkan delegasi dengan mandat khusus ke sebuah 'komite kerja', untuk mengkoordinasikan aktifitas mereka dengan unit kerja lainnya. Yang harus diingat, delegasi bukanlah manajer profesional, tetapi pekerja biasa yang beraktifitas di tempat/unit dimana mereka didelegasikan dengan mandat dari pengutusnya. Setelah menjalankan tugasnya, delegasi akan kembali kepada dewan untuk melaporkan hasilnya, yang mungkin bisa dilanjutkan dengan mengambil keputusan baru. Setelah pertemuan dewan pekerja usai, delegasi pun kembali ke aktifitasnya seperti anggota lainnya.

Delegasi dapat di-recall atau diganti kapan saja bergantung pada pekerja. Dan sebuah 'komite kerja' yang dimaksud bukanlah manajemen sebagaimana bentuk perusahaan-perusahaan kapitalis, mereka tidak membuat sebuah keputusan agar pekerja mengerjakannya. Komite tersebut hanya berfungsi sebagai badan komunikasi antar unit-unit kerja. Komite bukan pula sebuah badan permanen, sejak pendelegasian di tiap unit kerja dapat dilakukan setiap pertemuan, sehingga setiap pekerja dapat menjalankan peran tersebut.

Swakelola menghapuskan pembagian kerja permanen antara manajer dan pekerja. Pada prinsipnya, mereka yang melakukan kerja produktiflah mulai dari membuat, merancang, merawat peralatan, mengumpulkan informasi, mengalokasikan peruntukan, dan seterusnya, yang memanajemeni kerja-kerja mereka sendiri. Swakelola bermakna pekerja mengelola pekerjaan mereka secara mandiri, oleh karenanya tidak diperlukan lagi manajer professional ataupun manajemen hirarkis.

Swakelola pada esensinya bertujuan dalam penghapusan kerja-upahan dan komoditi ekonomi, dan tentu saja alienasi atas pekerja -yang selalu berlekatan dengan kerja-upahan. Ini juga berarti pekerja mesti menghapuskan dirinya (sebagai pekerja-upahan/proletariat) saat mereka menghapuskan seluruh tatanan masyarakat berkelas. Dalam prakteknya, swakelola meniscayakan penegasian keberadaan negara dan kapital, dikarenakan kedua hal tersebut menjadi irasional dalam praksis manajemen langsung. Oleh karenanya pada prinsip yang berjalan, swakelola tidak mengizinkan semua kekuasaan yang terpisah atas mereka yang terlibat. Karena sebuah model manajemen langsung, swakelola diterapkan dengan sistem Demokrasi Langsung tanpa kecuali, dimana pendelegasian berlangsung secara ketat untuk menghindari sentralisasi kekuasaan dan manipulasi [2]. Dan pada akhirnya diperlukan sebuah badan koordinasi masyarakat secara luas, namun seluruh anggotanya tetap di bawah mandat dengan ketat, sehingga fungsi mereka terbatas pada komunikasi umum.

Merujuk di masa lampau, pencapaian-pencapaian tertinggi dewan-dewan tersebut telah membuat seluruh kekuasaan negara tidak lagi dibutuhkan -kesalahan utama mereka di masa lampau (dengan pengecualian khusus atas para pekerja dan petani Spanyol di Catalonia pada 19361937) terletak pada ketidaksadaran akan hal ini dan dengan demikian dapat dengan mudah dihancurkan oleh kekuatan bersenjata yang masih tersisa dari para penyembah kekuasaan negara.

Lalu bagaimana pembentukan kekuasaan negara baru dapat dihindari dengan cara ini? Pertama, tentu saja, dengan cara mengenyahkan seluruh “partai politik revolusioner” sekalian dengan kelompok-kelompok reaksioner. Kedua, dengan memastikan bahwa seluruh kekuasaan berada di tangan badan-badan umum para pekerja dan komuniti, dan hanya di tangan mereka sajabadan-badan umum tersebut sendiri adalah dewan-dewan dan bukan sekedar komite-komite delegasi yang mendapat amanat dari keseluruhan dewan.

Pada akhirnya mesti dipahami bahwa keberhasilan swakelola terletak pada kesadaran proletariat di tingkatan individu, akan sebuah hasrat yang mendalam bagi penciptaan sebuah hidup yang bebas, kreatif dan menyenangkan di bawah kontrol mereka sendiri. Di tingkat kolektif, isi berarti apa-apa yang harus diswakelolakan.

Swakelola juga tak bisa lagi hanya terbatas pada tembok-tembok pabrik. Pertama-tama, harus dibentuk juga dewan-dewan ketetanggaan dan masyarakat yang terdiri dari mereka yang selama ini tak mendapatkan upah atas kerja mereka (ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar dan anak-anak sekolah) yang pada gilirannya juga akan memilih delegasi dan bekerja dalam tim bersama dewan-dewan pabrik, komunikasi, transportasi dan lainnya.

Tentu saja semua itu baru awal dari perjalanan jangka panjang swakelola agar dapat berhasil diterapkan di tingkat global pasca kemenangan dewan-dewan federasi atas kekuasaan seluruh negara yang eksis, sehingga sesuatu yang baru bisa tercipta dengan lebih menggairahkan dan menakjubkanperubahan-perubahan yang bahkan kita sendiripun sekarang tak akan mampu membayangkannya.

Secara empirik, semua ini bukanlah sebuah ide abstrak atau rencana besar utopis yang harus diinjeksikan ke dalam pikiran “massa”. Nyaris semua yang dijabarkan di atas pernah dilakukan dan terutama formasi dewan-dewan, federasi yang dimandatkan dengan ketat, delegasi-delegasi yang dapat dengan mudah dicopot dan diganti, dan upaya-upaya mentransformasikan lingkungan sosial bukan hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Swakelola memperlihatkan penampakan awalnya yang kecil tetapi jelas di ruang-ruang kerja oleh para pekerja di ribuan pabrik di mana-mana, dalam bentuk pendudukan pabrik dan pemogokan. Mengutip kata-kata Marx, swakelola adalah gerakan nyata yang akan menghapuskan segala bentuk tatanan yang eksis saat ini.


Catatan:

[1] Proletariat yang dimaksud disini tidak terbatas pada buruh pabrik dan pekerja industrial saja. Saat 'pabrik' dalam kapitalisme lanjut adalah keseluruhan masyarakat dalam konsepsi 'pabrik sosial', yakni dimana keseluruhan masyarakat diorganisir dalam relasi majikan-pekerja, baik yang diupah maupun tidak diupah, produktif maupun non-produktif, serta kerja yang dimaksud mencakup hingga aktifitas domestik dan non-komersil, maka definisi proletariat juga mesti diperluas. Ini juga mencakup petani, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengangguran, hingga masyarakat adat.

[2] Demokrasi Langsung sebagai oposisi terhadap Demokrasi Perwakilan/representatif.

Prosa Anatomia


- Mata -


Tak sekejap aku menerawang kehidupan
Disana aku mengukir kenangan indah ataupun kelam
Disana juga aku merekam masa depan
Yang berputar pelan, teratur dan bersambung perlahan
Meremukkan, memilin dan memelintir episode cinta dan gairah
Kujamah tiap helai peluh yang semakin memerah
Aku menatap kesedihan dan kebahagiaan, dimana keduanya sulit untuk kuabaikan
Aku melihatnya
Senja indah yang terpuruk manja diselasela kekalahan jiwa yang memberontak
Dan mengingatkanku pada sekejap jejak
Yang pernah aku tengok pada mimpimimpi yang menari
Ketika malam ketika aku terkapar
Disana aku melihatnya!

- Telinga -

Telah tergores sejuta sakit yang aku terima
Ketika fitnah kudengar, ketika ancaman membakar
Dan melanda kekosongan asa yang menjemput reaksi dengan amarah
Terngiangngiang, ujung gendangku menggelepar
Aku mendengarnya
Tangisan yang mengisak diselasela kepongahan, diantara runtuhan kezaliman
Berharap mendengar desah lembut nafas senggama yang mendebarkan
Sinyalku malah menerima teriakanteriakan putus asa
Dari mereka yang menganggap dunia ini serasa neraka
Bukan karena derai kemisikinan, itu sudah biasa
Tapi kebejatan dan kemunafikan sang pangeranpangeran kenegaraan
Kemana aku harus mengistirahatkan lelah ini
Kemana aku harus memutar nada kehidupan
Yang merdu yang melankolis dan tidak membuatku meringis miris
Sebab aku tidak tuli
Aku mendengarnya!

- Mulut -

Disinilah kita berperang melawan kebungkaman
Menghunjam ketakutanketakutan yang bersahutan
Merupa kata, menjelma menjadi senjata
Disinilah kita merangkai prosa, merupa sajak, meneriakkan kegelisahan
Menjadi helaihelai kehidupan yang kelak menatap arah
Agar tak terjebak dalam pilihan suram
Atau tersesat karam menuju kebimbangan atau kebingungan atau hanya diam
Kau tidak akan pernah lagi mendengar rintihan manja
Disini hanya akan ditentukan oleh dua kata
Ya atau tidak
Karena sesungguhnya masa depan belum tertulis kawan
Di ujung lidah kita tersembunyi kemewahan
Rajuk manja, desah rintih, teriak pasrah, sumpah serapah atau senandung keindahan
Bahkan umpatanumpatan kotor yang mengasyikkan
Djancuk! Taik! Anjing!
Aku memakimu, toh aku berhak
Karena aku bicara

- Tangan -

Aku membunuhmu
Dengan genggamanku yang mengepal
Karena lelah mendengar kebohongan
Jabat ini hanya untuk kawan yang tahu arti persahabatan
Perdamaian dan harmoni perbedaan
Karena disana aku mampu meraba
Aku menjamah
Perlahan namun kurasakan dengan dalam
Lembut kasar uraturat kolase rutinitas harian
Aku menggambar
Inilah kanvas yang kurindukan
Akan kulukis dan kutumpahkan tintatinta merah yang gemerlap dan bercucuran
Lompatanlompatan warna yang meneriakkan keceriaan
Saling menggandeng, bukan menuding dan meradang
Disini aku memegang kuasa
Yang akan kubawa melintasi sahara kehidupan
Disini aku akan menantang
Diantara getargetar kesunyian yang beraroma pengkhianatan
Aku bukan kekalahan
Aku adalah kepalan dan calon kemenangan
Karena aku menggenggam!

- Kaki -

Jejakjejakku menggores tiap jengkal kekosongan
Ketika aku merayap di atas tanah penggusuran
Melihat wajahwajah menyebalkan berseragam dengan seringai busuknya
Rasanya aku ingin menyepak wajahnya yang buruk rupa
Aku melangkah disana, menyeret pelan tiap detik yang kulalui
Terkadang bimbang kemana aku harus mengarah
Aku terlalu lelah
Membawa beban hariku ini dipanggul oleh kebodohan
Tiada henti, berharap mati
Aku terlalu lelah
Berjalan diantara kemunafikan, keserakahan, kebencian, kekejaman atau keributan
Dan berjuta katakata yang memberi makna
Bahwa segalanya adalah cerita tentang ajang menabur peperangan
Aku tahu
Karena itu aku menolak untuk berhenti
Sebab diantara pasakpasak yang terpancang
Benderabendera sombong yang berkibar di pojok tiangtiang keangkuhan
Membelah pecah bumiku dan tanah kebebasanku
Disanalah aku melangkah!

. . . . . . .

Kita tak akan mengerti
Seberapa jauh raga ini membawa kita memeluk ruangruang kehidupan
Menganga dalam dendam
Ataupun yang selalu siap untuk menjemput kemenangan
Juga kekalahan yang menunggu kita untuk menyerah
Diam dalam kebekuan penyesalan

Seorang yang bernyawa
Selalu membangun dindingdinding perlindungan
Bersama kehendak, karunia dan pesona mereka
Disanalah kita akan menyadari
Bahwa hakikat kehidupan menjalari tiap anatomi tubuh yang kita punya

Karena kita.

Manusia!

: Malang, 9 Juni 09

Pemikiran, Kata-Kata dan Aksi Langsung!


Mimpi dan khayalan adalah pupuk dari perubahan sosial. Dunia memang berubah; dan akan terus berubah karena orang-orang membuatnya berubah. Kunci menuju sukses adalah solidaritas; yang dapat berarti apapun dari sekedar menjadi tempat curhat hingga memberikan amunisi. Solidaritas adalah sesuatu yang kuat, komunitas yang bersatu, menarik garis dari masa lalu tentang berbagi pengalaman dan mengalami kesulitan, memapankan jaringan kontak dari berbagai individual ataupun organisasi dan mendukung semua tindakan melawan ketidakadilan dan penindasan. Sejarah ada di sisi kita; kita bisa dan akan mempunyai harapan untuk menang.

Aksi langsung (direct action) adalah berarti juga memilih pola independen (D.I.Y) dengan cara secara langsung menghadapi masalah yang ada di depan kita tanpa harus memberikan masalah apda orang lain ataupun meminta ijin dulu dari politisi, birokrat atau semua pecundang yang duduk di kursi kekuasaan. Ini juga berarti berjuang untuk mengontrol hidup kita sendiri dan berusaha untuk secara langsung memberikan efek pada dunia di sekeliling kita, mengambil tanggung jawab untuk setiap aksi yang kita lakukan dan definisikan sendiri.

Aksi langsung telah menjadi bagian integral dari resistansi sejak dulu manusia itu ada. Dalam masa kini, iklim politik pemerintahan melihat aksi langsung sebagai sebuah bentuk taktik protes yang cepat menarik popularitas sebagai sebuah option untuk mencapai hasilnya. Sejarah mengatakan bahwa untuk berusaha menjadi seorang boss adalah sebuah pekerjaan yang sangat beresiko, tetapi pemerintah saat ini semakin baik dalam menangani para pembangkang. Negara dipersenjatai penuh dan diproteksi dan telah terbukti berhasil menguburkan dalam-dalam siapapun yang tidak setuju dengan keputusan mereka (lihat juga keberhasilan mereka dalam memutarbalikan fakta, seperti selalu menyalahkan kekerasan, termasuk penghancuran properti, kepada diri kita).

Dalam tatanan masyarakat modern yang dijalankan oleh pemerintah yang 'demokratis', dijalankan sebuah sistem dimana segala bentuk protes dan ketidaksetujuan harus ditampung dan melalui representatif negara dahulu sebelum diperdengarkan. Dan hasil yang selalu kita dapatkan apabila kita menyampaikan keluhan kita melalui representatif negara hanya satu: aksi demonstrasi marching di jalanan yang kita organisir diabaikan, tidak ada media massa yang akan meliput dan menaikkan issue yang kita bawa dan Polisi Anti Huru-Hara (PHH) serta Dalmas-nya telah siap sedia mengganyang kita.

Demokrasi telah membuat kekuatan perubahan terlepas dari tangan kita. Suara protes secara hati-hati dikontrol dan direduksi: semua jalan diserahkan pada para birokrat dan politis untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Kekuatan kita semakin tereduksi dan semua yang kita harapkan boleh kita utarakan hanya melalui kotak pemilihan suara yang disodorkan kepada kita setiap empat tahun sekali.

"Kalau kamu tidak sibuk karena kamu telah dilahirkan, maka kamu pasti sedang sibuk belanja."
-- Angry Brigade.

Illegalism gets the good. Copyright is bullshit...

Kita, yang tinggal di negara miskin (definisi 'negara berkembang' hanyalah perhalusan dari kata 'negara miskin'), hidup seperti kecoa dan tikus got. Sistem yang diterapkan oleh kapitalisme telah sedemikian kuat. Kita didorong untuk mengkonsumsi apapun yang ditawarkan oleh sekeliling kita. Jadi apa yang perlu diprotes? Diri kita sendiri. Memang menyedihkan saat menyadari bahwa ancaman terbesar yang dihadapi oleh planet ini adalah spesies manusia.

Penyalahgunaan dan pengeksploitasian manusia, binatang dan lingkungan alam telah dan masih terjadi di sekitar kita, di seluruh dunia dan alasan tindakan tersebut adalah diperlukannya profit untuk membiayai gaya hidup kita sehari-hari yang mewah. Lebih dari 80% populasi dunia saat ini tinggal dalam kondisi kemiskinan yang parah dan semua bermimpi untuk hidup mewah, hanya mereka tak mampu, bumi tidak memiliki cukup sumber daya alam yang mendukung impian ini. Dalam faktanya, sumber daya alam bumi ini dengan cepat dihabiskan hanya untuk mendukung gaya hidup mewah segelintir manusia yang tinggal di 'negara dunia pertama' dan para pemerintah serta konglomerat di seluruh dunia. Selain segelintir manusia tersebut? Semua hidup dalam dunia fantasi yang haus untuk mengkonsumsi. Kita hidup di dunia yang memiliki begitu banyak produk, tapi harga yang harus dibayar adalah: pembantaian massal melalui pemiskinan.

Seorang petani dari Karnataka, India, saat berlangsungnya protes anti-WTO beberapa waktu lalu, mengatakan, "Kami tidak ingin amal dan belas kasihmu semua. Mereka yang tinggal di utara seharusnya dapat mengerti perjuangan kami dan menyadari bahwa ini adalah juga bagian dari hidup mereka. Dimana-mana yang kaya selalu bertambah kaya, yang miskin semakin miskin dan lingkungan semakin mendekati kiamat. Tidak peduli dimana kita tinggal, di belahan bumi uatar atau selatan, kita telah menghadapi masa depan yang sama! Globalisasi seharusnya berarti bahwa kita ingin mengglobalkan kemakmuran masyarakat dunia, bukan mengglobalkan bisnis. Karena hidup bukanlah sebuah bisnis."

Negara Dunia Ketiga hidup dari sampah, limbah dan sekarat atas kerakusan mereka yang hidup di negara Dunia Pertama. Perjuangan yang dilakukan oleh kita yang hidup di negara Dunia Ketiga bukanlah sekedar perjuangan melawan dominasi korporasi multinasional ataupun melawan rezim diktator dan militer, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Gerakan resistansi anti-globalisasi di India, Afrika dan Amerika Latin sangat besar dan itu adalah demi mengambil alih kontrol atas diri mereka. Apakah kita bisa menyamakan gerakan tersebut dengan gerakan mereka yang ada di negara Dunia Pertama? Di Meksiko, pada tahun baru 1994 Zapatista membebaskan daerah Chiapas dan menjadikannya daerah otonomi bagi kaum indian agar terlepas dari sistem yang eksploitatif yang dipaksakan oleh para kapital dari negara Dunia Kesatu kepada mereka. Perempuan dan anak-anak, telah mengangkat senjata untuk melindungi diri mereka dari dominasi kulit putih yang tinggal di negara Dunia Pertama.

"Dunia kita eksis hanya sebatas sejauh telepon kita dapat berhubungan, mobil kita dapat lalui, modem kita dapat koneksi, dan televisi kita dapat tayangkan."
-- His Hero Is Gone.

Zombie-zombie konsumen, itu adalah dirimu dan diriku, adalah sesuatu yang sangat vital dalam memperkuat ataupun memperlemah mata rantai dari eksploitasi global ini. Kita sangatlah lemah, tapi kita dapat mengubah pola pikir kita, kita dapat mengikuti ataupun menolak budaya trend konsumtif; jaringan diy ini adalah milik kita, kita mempunyai pilihan disini, kita dapat mengatakan ya ataupun tidak, kita dapat memutuskan mata rantai ini, kita dapat menghancurkan mata rantai ini walaupun hanya sebagian kecilnya, tapi kita mampu. Kata-kata tanpa aksi adalah bohong.

"Kamu tidak mendukung musuhmu saat kamu ada dalam perang - boikot!!!"
-- Aus Rotten.

Boikot: menolak untuk berhubungan atau melakukan pertukaran dalam usaha untuk melemahkan atau menghancurkan sesuatu. Sangat simpel.

Gunakan kekuatanmu, jangan beli (kebohongan dan produk mereka, cari alternatifnya. Bila tak ada alternatifnya, usahakan untuk memperolehnya dengan cuma-cuma: curilah!!! Ambil dari produsen-produsen dan distributor barang-barang tersebut. Jangan pernah percaya kepada para kapital yang selalu berpura-pura peduli kepada konsumen (seperti McDonald's dan Body Shop). Mesin yang dijalankan kapitalisme berputar terus dan terus, dan untuk menghentikannya bukanlah pada masalah hasil produksinya - mentalitas dibalik produk tersebutlah yang harus dihancurkan.

Untuk membuat perubahan nyata pada gaya hidup kita yang konsumtif berarti juga membuka ruang-ruang untuk memikirkan kembali seluruh hidup kita, tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita bereaksi, berkomunikasi, hubungan sosial kita, kerja kita, berapa banyak kebohongan dan kepalsuan yang telah kita ambil. Ini adalah sebuah revolusi dalam diri kita sendiri; ini adalah tentang pengambil alihan kontrol, mengklaim kembali kekuatan sebagai seorang individual. Ini adalah tongkat penyangga bagi resistansi kita melawan kapitalisme.

"Semakin banyak kamu mengonsumsi, semakin berkurang kamu hidup."
-- Angry Brigade

"Kita tidak hidup, melainkan mempraktekkan kematian selama kita hidup."
-- His Hero Is Gone.

Kita harus bergerak lebih jauh daripada hanya sekedar mengkonsumsi produk ramah lingkungan seperti yang dikampanyekan oleh Greenpeace ataupun grup-grup pecinta lingkungan sebagai alternatif bagi konsumen, tetapi melihat kepada sistem kapitalisme dan efek globalisasi sebagai akar dari banyak sekali permasalahan di dunia, dari kepunahan spesies, eksploitasi buruh hingga perang. Korporasi multinasional adalah wajah buruk dari ketiadaan batas dari kapitalisme. Mereka bebas untuk menjelajahi dunia demi penyedotan sumber daya alam, buruh murah dan ketiadaan hukum perlindungan ingkungan dalam usahanya untuk melarikan diri dari ketatnya dan menguatnya standar yang diajukan oleh para buruh di negara Dunia Pertama. Perjuangan demi hidup yang menyenangkan, demi upah yang mencukupi, kesehatan dan keamanan masih sangat jauh dari selesai. Kita juga harus berpikir secara global: mengapa harus membuat sepatu di Amerika disaat Nike dapat menggunakan buruh-buruh diupah rendah di Indonesia dan melipatgandakan profit bagi perusahaan?

Ekonomi mereka sudah sangat mengglobal, begitu juga resistansi kita seharusnya. Pemerintah tidak akan melakukan apapun dalam berhadapan dengan perkembangan ekonomi bagi korporasi. Ini semua terserah kepada kita sendiri untuk menghentikan lingkaran roda pengeksploitasian ini. Kita harus melenyapkannya dengan diri kita sendiri, memboikot sistem mereka yang tidak adil dan tidak merata. Ini saatnya untuk bergerak jauh melampaui sekedar produk dari korporasi. Perhatikan lagi semua kejadian yang ada di sekitar kita, hal tersebut dapat membantu pemfokusan kemarahan kita dan juga menolong untuk mempersatukan dari begitu banyak issue-issue yang dibawa oleh kelompok-kelompok faksional dengan diri kita. Aksi anti-WTO N30 dan MayDay 2000 telah memperlihatkan keapda kita semua bagaimana berbagai banyak macam organisasi, dari perserikatan, aktivis HAM, environmentalis, beraksi bersama di jalanan dalam menyerang musuh bersama mereka yang sesungguhnya: kapitalisme.

Tapi ingat, kapitalisme adalah juga mengenai diri kita sendiri dan bagaimana tipe sosialisasi kita dengan individu lainnya. Kapitalisme jauh lebih besar dan kuat daripada sekedar taraf level Nike ataupun McDonald's sebagai contohnya, tapi kapitalisme juga berarti masalah Dunia Baru, susu murni KBPS, kios-kios rokok; besar atau kecil, kapitalisme adalah tentang bagaimana pekerja menjual diri mereka dalam sebuah hubungan yang jelas eksploitatif.

"Tetaplah jadi parasit, atau jadilah pejuang bumi."
-- Kapten Paul Watson, Sea Shepherd.

"Mereka mengabaikan nyanyian dan barisan demonstrasi kita, tapi dapatkah mereka mengabaikan batu dan bata? Inilah saatnya untuk melakukan sesuatu lebih daripada sekedar bicara saat mereka telah mengabaikan aksi demonstrasi damai!"
-- Aus Rotten.

Segala sesuatunya bermula dari diri kita sendiri. Jika kamu lari untuk menyelamatkan hidupmu dan seorang polisi berteriak, "Stop!" akankah kamu berhenti? Pemerintah merepresentasikan kekuatan uang, bukan kekuatan rakyat, bukan kekuatan bumi dan selama ini kekuatan itulah yang selalu kita dukung dan kita beri kekuatan lebih. Pemerintah adalah satu-satunya sumber yang tak dapat dipercaya untuk memberikan keadilan kepada rakyatnya kecuali atas kepentingan pribadinya sendiri. Kita tidak perlu merasa berhutang pada pemerintah, toh mereka menjadi makmur atas hasil pembayaran pajak yang kita bayar (dengan dibawah ancaman). Marahlah, karena ini adalah dunia kita! Berpikirlah tentang flora dan fauna yang sebanyak 20.000 spesiesnya terancam punah setiap tahunnya; anak kecil di China yang harus bekerja keras untuk membuat mainan yang kita utak-atik setiap harinya; buruh Tangerang yang kesakitan dan kelelahan dalam membuat sepatu Nike yang kita kenakan. Garis batas antara legal dan ilegal harus kita hapuskan. Saat ketidakadilan menjadi sebuah hukum - resistansi menjadi kewajiban kita. Kita mempunyai kewajiban untuk melindungi bumi yang telah menghidupi kita beserta generasi mendatang. Penghancuran alam adalah sebuah kejahatan yang tak pernah tercatat sepanjang sejarah manusia, dan hal inilah yang menuntut sebuah gerakan resistansi dari diri kita semua. Kita tidak perlu menunggu krisis kapitalisme, yang kita tahu bahwa hal tersebut sudah lewat dan entah kapan akan datang lagi. Tidak ada waktu untuk mengabdikan diri kita kepada sistem, tak ada waktu untuk memikirkan reformis, karena setiap waktu yang kita miliki selalu tercuri oleh mereka dalam setiap ada kemajuan ekonomi. Kita harus mengklaim kembali hidup kita, bukan sekedar mengganti produk yang kita gunakan. Kuatkan dirimu, berhentilah menjadi bagian dari sistem eksploitatif ini dan fokuskan kemarahanmu.

Dalam alam politis dari Angry Brigade, RAF, 1st Of May, IRA, Weathermen, Black September, Dutch Provo, dan lain sebagainya, semuanya melakukan pemboman dan kampanye teror selama tahun 1970-an, ALF mengkampanyekan animal liberation, mereka adalah sedikit dari contoh dimana agenda operasional mereka adalah bentuk aksi langsung dan pemerintah melihatnya sebagai kriminal pelanggar batas; tapi hal-hal tersebut jugalah yang menjadi fondasi bagi para aktivis di seluruh dunia untuk mulai melakukan aksi-aksi langsung apapun bentuknya. Grup-grup dengan issue tunggal seperti environmentalis, anti rasis, serikat buruh, yang secara tradisional bergerak seperti kelompok reformis, saat ini sudah mulai menerapkan politik revolusioner dalam pola geraknya. Sayang saja di Indonesia hal ini belum biasa karena politik dan revolusi masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu dan hanya merupakan bagian dari rutinitas para politisi dan birokrat.

"Banyak aktivis yang saat ini membuat koneksitas antara perjuangan mereka dengan mereka yang berada di komunitas kelas pekerja."
-- Do Or Die no. 6.

Dan itu semuanya yang seharusnya dapat juga kita lakukan, saat semua tetap sibuk dengan berpikir soal penyusunan undang-undang, atau memikirkan soal mencari pemerintah yang lebih baik; globalisasi telah melanda hampir semua gearkan protes... gambaran yang besar beserta solusinya, sekarang telah tampak sangat jelas. Ribuan grup anti kapitalis telah mulai berkembang dimana-mana di muka bumi ini. Lalu apa yang mereka lakukan?

Mereka menandatangani petisi dan pergi ke aksi-aksi demonstrasi, mereka berpikir mengenai gaya hidup mereka, aksi mereka dan efeknya; sebagian lainnya menghancurkan mesin-mesin milik korporasi, menghancurkan properti; mereka mempertanyakan segalanya, mereka membangun alternatifnya, mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri, mereka menghapus batasan yang ditetapkan pemerintah, mereka menolak pemerintah dan beraksi langsung untuk merubah kondisi dunia tempat mereka tinggal. Pendeknya, mereka meresikokan segalanya demi kehidupan.

tanyakan pada dirimu sendiri: siapa audiens kita? Apa pesan kita? Apakah ini adalah taktik terbaik yang daapt dilakukan oleh kita saat ini? Apa tujuan kita? Dan akhirnya, sejauh mana kesiapan kita untuk melakukannya? Tapi sebelum kita lakukan aksi kita, selalu ingat bahwa kita juga perlu untuk merombak diri kita sendiri, merombak pola pikir dan pola pandang kita dan cara sosialisasi kita yang menyertai kita dalam hidup kita sehari-hari.

Segala macam aksi adalah valid; tapi... membuat aksimu sendiri adalah sebuah kreasi, sebuah langkah radikal kecil ke depan menuju dunia yang berbeda. Tanpa visi ini, aksi langsung menjadi tak berarti sama sekali. Kalau kita hanya memfokuskan pada aksinya saja, kita akan dapat terjebak ke dalam sebuah gerakan yang reaksioner dan tak mendasar sama sekali, sebuah gerakan yang sama sekali kebingungan akan siapa yang harus dilawan. Visi ini sudah barang tentu... revolusi.

"Jangan pernah tergantung pada pemerintah atau institusi untuk membuat perubahan. Semua perubahan sosial yang signifikan sepanjang sejarah manusia telah dilakukan oleh aksi-aksi individual."
-- Margaret Mead.

"Dunia ini berada dalam saat depresi, tetapi harapan dapat ditemukan dalam diri mereka yang bisa, berani dan beraksi."
-- Dave Foreman, Eco-Defence.

Seorang aktivis di Jakarta menanyakan kepada marketing manager dari perusahaan Nestle tentang bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh kampanye boikot. Jawabannya adalah, "Tentu saja ada. Setiap saat seorang konsumen datang ke sebuah toko dan membuat keputusan untuk tidak membeli salah satu dari produk kami, hal itu sangat menyakitkan."

Lihat, kamu dapat membuat sebuah perubahan.

Tapi sebagian juga berpendapat bahwa daripada kita mengkampanyekan boikot, mengapa kita tidak mengkampanyekan pencurian dan perampokan atau pembajakan produk? Karena alangkah sulit untuk melepaskan diri dari kekangan dan jebakan sistem konsumtif ini. Memang kadang taktik-taktik tertentu tidak sesuai dengan diri dan pola pandang kita. tapi itu semua terserah kepada diri kita, dirimu dan diriku sendiri untuk memutuskan dan memilih taktik.

Penghancuran properti, vandalisme, dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan dalam kacamata sistem ataupun moralis yang hipokrit. Mereka akan mengkampanyekan bahwa perusakan properti hanya akan menyulut kekerasan negara sebagai reaksi terhadap tindakan tersebut. Mereka akan selalu menghalangi tindakan tersebut. Kenapa? Karena properti adalah tulang punggung kapitalisme yang sangat lemah dan tak dapat mempertahankan diri; kapitalisme juga berawal dari kepemilikan alat produksi dan properti, mereka mendewakan properti. Dan itulah yang paling mudah kita serang.

"Mereka khawatir dengan beberapa kaca jendela yang kita pecahkan. Seharusnya mereka datang dan melihat sendiri bagaimana kekerasan telah dilakukan kepada komunitas kami dengan berada di bawah nama perdagangan bebas."
-- Seorang aktivis Meksiko.

Jadi tunggu apalagi kawan?