3/30/2008

Surat Untuk Sang Penguasa

Malang, 1 Nov ‘07

Sebuah surat...
Ditujukan Kepada Tuan Yang Terhormat
Sang Penguasa Maha Berkata
Atas nama Tuhanmu… Atas nama Ideologimu…
Kupersembahkan sebuah ‘rasa kagum’ yang mendalam untukmu…!

TENTANG TUHAN DAN PANCASILA

Apa kabar Tuan-ku?
Bagaimana keadaanmu hari ini, sehat wal afiat?
Sudah kenyangkah perutmu?
Sudah puaskah semua ambisimu?
Kalau iya, bolehkah sekarang aku bertanya padamu…

Benarkah engkau manusia yang ber-Tuhan?
Tapi kenapa melihat perilakumu aku jadi teringat pada setan
Benarkah engkau warga negara yang Pancasilais?
Tapi kenapa melihat sikapmu aku jadi teringat pada iblis

Kenapa kau menyiksa sesama anak bangsa wahai Tuan-ku
Seperti membantai anjing yang menyebar penyakit menular
"Ini untuk membela negara dan melindungi rakyat" teriakmu

Kenapa kau membunuh sesama manusia wahai Tuan-ku
Membabi buta seperti membabat rimbunan alang-alang
"Ini untuk menegakkan keadilan dan kebenaran" katamu

Kenapa kau membakar ribuan rumah saudaramu wahai Tuan-ku
Hingga lenyap tak bersisa rata dengan tanah
"Ini karena pemiliknya orang komunis yang atheis" seru mulutmu

Layaknya seorang Nabi…
Kau merampas kebebasan atasnama Tuhan
Kau merajalela atasnama bendera Pancasila
Kau main hakim sendiri atasnama panji-panji demokrasi

Kenapa? Ada apa denganmu Tuan-ku?

Sejak kapan kau menjadi tirani
Terhadap saudara-saudaramu sendiri?
Sejak kapan kau menjadi penguasa
Dengan menggunakan hukum rimba?
Sejak kapan kau menjadi manusia
Yang tidak sadar akan kodratnya?

Kau pun saudaraku
Seperti juga aku adalah saudaramu
Hanya kemudian kau lupa
Kau kemudian lupa diri dan mabok
Karena nuranimu telah dirampok
Oleh dasimu, pangkatmu dan jabatanmu

Kita sebenarnya sama-sama korban
Untuk dijadikan tumbal atasnama kekuasaan
Kita sebenarnya sama-sama rakyat
Tapi kau…
Dengan ujung bedilmu kau menindasku
Dengan kepalan tanganmu kau merenggut kebebasanku
Dengan ujung jarimu kau pasung hak hidupku

Ternyata aku baru mengerti…
Inilah sebenarnya makna Tuhan dan Pancasila
Yang kau ajarkan padaku lewat pidatomu setiap hari

Tapi Tuan-ku...
Apalah gunanya semua omong kosongmu itu
Kalau ternyata hanyalah sebuah keyakinan PALSU !

Haruskah selamanya aku menurutimu?
Tapi sampai kapan Tuan-ku?
Sampai kau puas?
Atau sampai kau sadar dan bertobat?
Tidak! Tak mungkin aku bisa menunggu Tuan-ku
Karena kesabaranku sudah luntur melihat tingkah lakumu

Sekian dulu dariku…
Maaf kalau aku terlalu banyak tanya padamu
Maaf kalau ada sedikit kata-kataku yang menyinggungmu
Terima kasih atas perhatianmu Tuan-ku
Kudoakan semoga semua ‘kebaikanmu’ mendapat imbalan yang sepantasnya

Sampai ketemu di barikade !

Salam hormat untuk Sang Penguasa,

Erwind Terrorezim

Membongkar Dosa Ekologi Bank Dunia

Gencarnya isu perubahan iklim yang ditampilkan media massa telah membuat banyak pihak, termasuk Bank Dunia, ikut menyuarakan keprihatinannya terhadap isu ini. Salah satu bentuk keprihatinan tersebut adalah gigihnya lembaga keuangan internasional ini mendukung proyek pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pencegahan deforestasi dan perusakan hutan, yang sering disebut sebagai proyek Reduced Emission from Deforestation and Degradation (REDD), di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Ide dasar proyek REDD adalah negara-negara utara membayar negara-negara selatan untuk mengurangi penggundulan hutan dalam wilayah mereka. Adapun kompensasinya ialah dengan memberikan bantuan keuangan untuk kepentingan tersebut. Beberapa pihak telah mengusulkan agar pendanaan proyek ini diambilkan dari kombinasi dana publik (Bantuan Pembangunan Resmi/ODA) dan pasar karbon.

Sejak 2006 hingga awal 2007, Bank Dunia mengembangkan usul skema pendanaan baru yang sangat besar untuk membiayai proyek-proyek pada sektor kehutanan di negara berkembang. Lembaga keuangan ini berencana menggunakan skema baru itu untuk mengimplementasikan strategi kehutanan dengan penekanan kuat pada pendanaan yang terkait dengan isu perubahan iklim.

Bahkan dalam proposal Global Forest Alliance (GFA), Bank Dunia mentargetkan pada 2015 terdapat 50 juta hektare kawasan lindung baru dan peningkatan kapasitas dari Departemen Kehutanan pusat untuk melindungi dan mengelola area-area tersebut. Bila tidak berpikir secara kritis, besarnya nilai proyek yang ditawarkan dalam proyek REDD itu mampu membuat kita terbuai dan melupakan dosa-dosa ekologi yang pernah dibuat Bank Dunia sebagai pendukung utama proyek ini. Untuk itu, tidak ada salahnya bila kita sejenak menoleh ke belakang guna menelusuri rekam jejak proyek-proyek pembangunan Bank Dunia beserta dampak sosial dan ekologinya.

Di Brasil, misalnya, pada 1982-1985 Bank Dunia memberikan dukungan kepada proyek pemindahan penduduk besar-besaran atas nama pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang lebih dikenal sebagai proyek Polonoroeste, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai proyek transmigrasi. Dukungan keuangan pada proyek ini telah menghasilkan sebuah bencana ekologi yang dahsyat, bahkan Bank Dunia juga mengakui hal itu. Betapa tidak, proyek ini telah mendorong terjadinya konversi besar-besaran kawasan hutan menjadi lahan pertanian, kawasan komersial, dan pertambangan (Ecology Law, Bruce Rich).

Akibatnya, kawasan hutan di daerah itu mengalami degradasi yang cukup parah. Pada 1982 penggundulan hutan telah mencapai 4 persen dan pada 1985 meningkat menjadi 11 persen. Sementara itu, pada 1987 hampir seluruh hutan di kawasan itu telah lenyap. Bahkan pada tahun yang sama sebuah gambar citra satelit menunjukkan terdapat 6.000 titik api pembakaran untuk membuka hutan dari seluruh kawasan hutan Amazon.

Celakanya, proyek semacam itu juga dilakukan oleh Bank Dunia di Indonesia. Lembaga ini merupakan pihak yang pertama kali terlibat dalam proyek transmigrasi di Indonesia pada 1974. Sama seperti proyek Polonoroeste, proyek ini juga menimbulkan kerusakan dan penggundulan hutan besar-besaran.

Pulau Sulawesi dan Sumatera adalah kawasan yang paling parah menderita kerugian ekologi akibat proyek ini. Di Sumatera, sekitar 2,3 juta hektare tanah yang semula merupakan hutan hujan alam telah menjadi lahan kritis. Adapun di Sulawesi, 30 persen wilayah hutan yang terkena proyek transmigrasi ini berubah menjadi lahan kritis (Lord of Property: The Power, Prestige, and Corruption of the International Aid Business, Graham Hancock, 1989).

Ironisnya, meskipun gencar mendanai proyek rehabilitasi hutan dengan mengatasnamakan perlindungan bumi dari bencana perubahan iklim, lembaga ini juga gencar mendanai proyek-proyek pada sektor energi fosil sebagai penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Pada periode 1992 hingga 2004, misalnya, grup Bank Dunia justru mengucurkan US$ 28 miliar dananya untuk membiayai proyek yang terkait dengan energi fosil. Sedangkan pada tahun fiskal 2005, proporsi pendanaan proyek energi terbarukan kurang-lebih hanya 5 persen dari seluruh pendanaan dari Bank Dunia untuk proyek energi.

Melihat rekam jejak proyek Bank Dunia tersebut, timbullah sebuah pertanyaan apakah proyek REDD tersebut sengaja digulirkan sekadar sebagai proyek pencuci dosa ekologi dari Bank Dunia dan negara-negara kaya lainnya di masa lalu yang telah berdampak pada bencana ekologi di masa sekarang? Atau proyek ini digulirkan agar negara-negara selatan tidak ribut meminta pertanggungjawaban atas gagalnya model pembangunan yang telah dinasihatkan oleh Bank Dunia selama ini? Persis seperti pemberian permen dari seorang kakak kepada adiknya yang masih anak kecil agar jangan terus menangis meskipun kakaknya baru saja menjitak kepalanya.

Mencermati Gerakan Hari Tanpa Televisi

Haruskah kita peduli pada siapa suami berikut Tamara Bleszinky atau Alya Rohali? Bagaimana kisah kasih gelapnya Taufik Hidayat yang konon membuahkan Exel? Lalu apa mobil terbaru Krisdayanti misalnya dan berapa nomor (maaf) bra nya Sarah Azhari? Sebenarnya tidak ada yang penting sama sekali.

Namun faktanya, sekitar 60 juta anak Indonesia menonton acara yang seperti itu di TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Apalagi kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas kepada anak-anaknya. Seorang ibu yang gemar telenovela atau sinetron biasanya tidak peduli apakah anaknya tanpa sengaja ikut nonton juga meski masih di bawah umur misalnya.

Beberapa waktu polisi menemukan sesosok tubuh remaja puteri yang tergantung di rumahnya dengan menggunakan scarf putih. Motif kematian sang gadis ternyata bentuk peniruan dari cara yang digunakan sang puteri Huanzhu, idolanya, dalam salah satu episode drama televisi populer di Negeri Tirai Bambu, berjudul ‘Puteri Huanzhu’ dalam menghadapi masalah yang tidak teratasi.

Sebulan sebelumnya, si gadis tersebut mengubah model rambutnya mirip puteri pujaannya dan seringkali berperilaku menyerupai tokoh favoritnya tersebut. ”Televisi memang ibarat pisau bermata dua yang suatu saat bisa makan tuannya,” ujar Ketua Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN), Jhon Herwanto SPsi MSi dalam sebuah bincangnya dengan Riau Pos akhir pekan lalu.

Menurutnya anak-anak dan juga remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan punya sifat ingin tahu tentang banyak hal. Celakanya, demi memuaskan rasa ingin tahu itu kebanyakan mereka mencoba mempraktikkan hal-hal negatif yang mereka contoh dari tayangan yang mereka lihat di televisi.

Ia menekankan peran orang tua sangat besar sekali untuk mendampingi sang anak dan remaja yang tengah mencari jati diri tidak tersesat kepada hal-hal negatif karena kuatnya pengaruh tayangan televisi yang penuh dengan adegan kekerasan, seks, mistik, intrik dan hedonisme lainnya.

Apalagi sebagian besar acara televisi saat ini memang memprihatinkan karena dari hasil penelitian psikologi ternyata tayangan-tayangan negatif telah memicu agresivitas pada anak. Tayangan negatif memperkuat teori Sigmuen Frued bahwa tingkah laku manusia didominasi oleh prilaku libido seksual.

Redatin Parwadi, seorang yang berhasil mempertahankan disertasinya di depan senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada 25 Juli 2002 mengatakan ada relasi positif antara jenis tontonan televisi dan perilaku agresif responden. Dan, uniknya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula kecenderungan terjadi penyimpangan nilai dan perilaku seseorang.

Hal ini pula lah yang memicu seorang aktivis Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) di Jakarta, B Gunarto, menggagas Gerakan Hari Tanpa TV yang disamakannya dengan peringatan Hari Anak Nasional yakni setiap 23 Juli.

B Gunarto mengatakan, hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV. ”Jutaan orangtua di Indonesia pada umumnya cemas dan khawatir dengan isi siaran TV kita,” ujarnya.

Pengamat acara televisi Firman Firdaus mendata hampir semua sinetron remaja saat ini menggambarkan persekongkolan yang menjijikan di kalangan anak sekolah, intrik asmara yang hiperbolis, cercaan terhadap pembantu, kata-kata kasar pada orang tua, dan segudang laku minus lainnya, dengan jam tayang yang sangat strategis: pukul 17.00-21.00 WIB.

Keberhasilan putera-puteri yang mengharumkan nama Indonesia lewat olimpiade sains tingkat dunia seakan menghilang ditelan gemerlapnya warna-warni lampu panggung Indonesian Idol. Kesuksesan luar biasa Septinus Saa dari Papua -daerah yang katanya terbelakang- menjadi pemenang Nobel Junior, melalui rumusannya mengenai bangun heksagonal, ‘dieliminasi’ nyanyian dan tarian para peserta Akademi Fantasi Indosiar.

Menurutnya lagi pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya. Sehingga, tidak ada pilihan lain kecuali individu sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini.

Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi kita, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang luar biasa besar.

Untuk itulah, menurut B Gunarto perlu ada ”Gerakan Hari Tanpa TV”. Ahad, 23 Juli 2006 bertepatan dengan ”Hari Anak Nasional” dipilih sebagai Hari Tanpa TV sebagai bentuk keprihatinan. Ia menambahkan bahwa keberhasilan dari gerakan ini akan membuktikan bahwa apabila masyarakat bisa bersatu melakukan penolakan terhadap perilaku industri televisi, maka sejak saat itulah kita bisa berharap ada perbaikan. Jadi, ia mengimbau pada hari itu, matikan TV selama sehari dan ajaklah anak-anak untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Ia juga menggalang dukungan Gerakan Hari Tanpa TV ini kepada seluruh masyarakat lewat web mail, www.kidia.org. Menurutnya, tayangan negatif berdampak serius pada anak seperti sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, persepsi yang keliru, budaya ‘instan’, pertanyaan-pertanyaan yang ‘di luar dugaan’ dan sebagainya.

Semua potensi pengaruh televisi bagi perilaku sosial masyarakat yang dapat dilihat dan dirasakan memang masih berada pada tataran kecenderungan-kecenderungan, meski sebenarnya tidak kalah mengkhawatirkan. Tidak lama lagi, (atau malah sudah?) kita akan mendapati masyarakat yang hedonis, konsumtif, bebas nilai dan norma, serta bodoh.