Showing posts with label Belajar Sama-Sama. Show all posts
Showing posts with label Belajar Sama-Sama. Show all posts

1/31/2010

Melawan Masyarakat Massa


Anarki adalah suatu keadaan dari eksistensi yang bebas dari otoritas yang koersif. Dalam keadaan ini, setiap orang bebas untuk membentuk hidupnya sendiri seperti apa yang dipilihnya, dari semua kebutuhannya, nilai-nilai dan keinginan-keinginannya.

Suatu dunia yang tidak otoriter karenanya memerlukan kebebasan untuk berasosiasi, bukan monarki (kerajaan), oligarki atau demokrasi. Banyak yang menyebut diri mereka ”anarkis”, mengaku untuk tidak menyangkal pentingnya sebuah asosiasi bebas, mengejar suatu masyarakat yang lebih demokratis dimana kesatuan korporasi dan negara akan digantikan dengan komunitas yang akan mengendalikan daerah, pekerja yang mengendalikan federasi industri, dan sebagainya. Mereka yang menginginkan hidup bebas mempunyai alasan untuk merasakan ancaman dari organisasi yang berskala besar, karena mereka bersifat imperialis dan hirarkis, sekalipun itu dimaksudkan atau digambarkan sebagai sesuatu yang ”demokratis” (seolah-olah subordinasi setiap individu kepada mayoritas merupakan suatu keharusan yang utama).

Manusia, secara alami mampu untuk bersosialisasi, beberapa ingin hidup menyendiri seperti pertapa (meskipun kebebasan untuk hidup seperti itu seharusnya tidak ditolak). Namun manusia juga selektif dalam bersosialisasi, mereka tidak bergaul akrab dengan setiap orang, dan ini merupakan penindasan untuk mengharapkan mereka seperti itu. Secara alami, manusia membentuk relasi dengan orang lain yang mereka kenal adalah untuk persahabatan dan dukungan timbal-balik. Serupa dengan kasus yang terjadi dalam sepanjang sejarah manusia. Hanya dalam sejarah baru-baru ini, orang-orang bergabung dengan organisasi massa yang terdiri dari para anggota yang tidak perlu untuk mengenal atau menyukai satu sama lain. Organisasi seperti itu tidak terbentuk karena keperluan mereka demi kelangsungan hidup.

Lebih dari 99% sejarah manusia, orang-orang menikmati asosiasi-asosiasi yang saling bertatap muka yang dimana pengaturan keluarga diperluas, dan beberapa kultur melanjutkan untuk melakukannya. Mereka yang tidak mampu berhubungan baik dengan kelompok atau sukunya bebas untuk mencari teman di tempat manapun atau bahkan hidup sendirian. Gaya dari asosiasi seperti ini bekerja dengan sangat baik – para anggota masyarakat umumnya menghabiskan waktu 2-4 jam sehari terlibat dalam aktivitas penghidupan. Meski mereka adakalanya kelaparan, pada umumnya di rumah mereka makan berlimpah, dan menikmati waktu luang jauh lebih luas daripada mereka yang hidup dengan masyarakat massa. Kultur pribumi yang masih tetap utuh hingga hari ini menyukai cara hidup tradisional mereka, dan sekarang ini banyak dari mereka yang secara mengesankan melakukan perlawanan politis terhadap korporasi dan pemerintah yang memaksa mereka menuju masyarakat massa agar nantinya lahan dan tenaga kerja mereka dapat diekploitasi. Orang-orang jarang masuk ke dalam suatu organisasi massa tanpa dipaksa, seraya mereka merampok otonomi dan independensi orang-orang.

Kemajuan peradaban didasarkan atas produksi massal yang diwajibkan. Ketika masyarakat-masyarakat tertentu mulai menghargai produktivitas agrikultur di atas semuanya, mereka secara paksa memperlakukan semua bentuk kehidupan dalam jangkauan mereka hanya demi tujuan mereka. Komunitas masyarakat yang ingin berburu, memancing, pergi mencari makanan, berkebun, atau bergembala di lahan untuk penghidupan akan dibantai dan diperbudak tanpa ampun, dan ekosistem-ekosistem yang mereka tinggali akan dikonversi menjadi tanah pertanian untuk memberi makan orang kota. Hanya mereka yang sibuk secara penuh dalam pemberian kemudahan untuk produksi panen dan binatang yang diizinkan beraktivitas di desa terdekat. Dan mereka yang berada di kota adalah para narapidana, para pedagang atau pejabat-pejabat publik yang bertugas dalam administrasi dan pengawasan sosial. Organisasi masyarakat pun menjadi lebih kompleks dan secara teknologi lebih berkembang.

Bagaimanapun, kehidupan non-manusia masih dikorbankan dan perlahan semakin dieliminasi demi kelangsungan tujuan manusia (dan pada suatu tingkat yang lebih cepat dari yang pernah ada), dan manusia masih dipaksa untuk hidup sebagai pelayan dalam kultur dan institusi dominan mereka sebagai suatu prasyarat demi eksistensi yang berkelanjutan. Bertahan hidup melalui alat langsung adalah dilarang – untuk menduduki lahan, orang harus membayar sewa atau hipotek secara berkelanjutan, dimana memerlukan kesetiaan dari tiap orang kepada satu posisi pendapatan didalam masyarakat, meninggalkan waktu yang tidak cukup menunda karena berburu atau berkebun (sangat sedikit kesenangan untuk mengiringinya). Pendidikan publik memastikan bahwa sedikit orang akan pernah belajar bagaimana caranya bertahan hidup untuk bebas dari ekonomi.

Kapitalisme adalah manifestasi atau penjelmaan dari arus peradaban yang dominan. Ekonomi di bawah kapitalisme sebagian besar diatur oleh negara—organisasi resmi yaitu korporasi. Korporasi ada untuk memenuhi tujuan perolehan keuntungan bagi para pemegang saham—mereka yang dipekerjakan oleh korporasi secara hukum diperlukan untuk mengejar keuntungan di atas semua aspek-aspek yang perlu diperhatikan (seperti ketahanan ekologis, keselamatan pekerja, kesehatan masyarakat, dsb), dan dapat dipecat, dituntut atau digugat jika mereka melakukan yang sebaliknya.

Banyak orang menghabiskan hari mereka secara sadar untuk terlibat dalam aktivitas yang tidak berarti, monoton, dan kadangkala berbahaya secara fisik dan mental hanya untuk membayar tagihan mereka, dikarenakan keperluan keuangan yang mutlak atau dikarenakan kurangnya kesadaran bahwa masih ada jalan yang lain daripada itu. Dikarenakan ketumpulan, alienasi, ketertundukan dan begitu banyak pengalaman dalam sepanjang kehidupan harian mereka, kultur kita memperlihatkan tingkat depresi yang tinggi, gangguan mental, bunuh diri, kecanduan obat, disfungsional dan relasi yang kejam, beserta cara-cara keberadaan yang seolah-olah ia mengalami sendiri sebuah aktivitas yang sebenarnya dia hanya bisa ”menonton” bukan ”melakukan” (seperti televisi, film, pornografi, video games, dsb).

Peradaban merupakan cikal bakal dari otortiarianisme yang sistemik, perbudakan dan isolasi sosial, bukan kapitalisme yang ada didalam (dirinya). Dalam konteks perspektif ini, berbagai kaum sosialis, komunis, dan bermacam anarko-kiri (seperti sindikalis, ekologi sosial, dsb) yang menyarankan untuk menghapuskan kapitalisme tanpa menyerang peradaban secara keseluruhan maka mereka hanyalah merupakan kaum reformis. Kompleksitas masyarakat adalah peradaban yang mungkin sekali diciptakan oleh institusi yang memaksa. Kelompok politis yang disebutkan diatas tidak berharap untuk mengakhiri pemaksaan, tetapi untuk mendemokrasikannya, untuk memperluas partisipasi populer dalam implementasinya.

Disamping dari betapa menjijikkannya memberi harapan kepada orang-orang untuk membantu didalam aksi yang opresif, yang harus dicatat adalah bahwa demokrasi langsung merupakan suatu khayalan dalam konteks masyarakat massa. Dalam satu asosiasi bahwa memperluas skala relasi tatap muka antar partisipannya adalah mungkin, pendelegasian tanggung-jawab kepada wakil-wakil dan spesialis-spesialis menjadi perlu jika tujuan asosiasi itu adalah untuk dilaksanakan. Meskipun jika konsensus atau suara mayoritas akan menentukan siapa yang dipilih untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan atau tanggung jawab administratif, tapi yang terpilih tidak pernah sama sekali memiliki kendali atas yang memilih ketika bertindak untuk memenuhi tugas-tugas mereka.

Suatu perintah yang tegas dalam keputusan atau perilaku delegasi-delegasi atau spesialis-spesialis menerima pengawasan yang terus menerus dari kelompok, yang mana akan mengalahkan tujuan dari suatu pembagian kerja. Tambahan pula, delegasi yang telah dipilih menerima banyak waktu dan sumber daya untuk mempersiapkan dan menyajikan pandangan-pandangan dan argumentasi-argumentasi dibandingkan orang banyak. Demokrasi memerlukan perwakilan, tidak secara langsung, ketika berlangsung pada skala besar—dan demokrasi representatif adalah gaya dari politik kekuasaan yang berlangsung sekarang ini. Penghapusan hirarki menuntut penurunan pangkat yang permanen bagi para penguasa dan para bos, yang dipilih atau cara lainnya, dan karenanya juga menuntut apa yang ditolak oleh masyarakat massa.

Karena organisasi massa menghargai produksi lebih dari personalitas atau otonomi komunitas, maka mereka perlu bersifat imperialistik dalam gerak ruang lingkup mereka, dengan menghancurkan atau memperbudak semua kehidupan agar tetap berada di dalam jalur mereka. Namun, produksi bukanlah satu nilai opsional atau yang secara kebetulan bahwa masyarakat massa mampu untuk tidak memerlukannya lagi selagi melanjutkan keberadaan mereka. Jika kota-kota tidak mencukupi diri sendiri di dalam produksi makanannya, mereka akan mengambil satu lingkup area yang akan dijadikan untuk penggunaan agrikultur, dan menyumbangkan ketidakramahan kepada ekosistem-ekosistem non-manusia dan komunitas-komunitas otonom yang mencukupi diri mereka sendiri. Area ini akan diperluas dalam relasinya untuk meningkatkan populasi atau spesialisasi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh kota. Orang mungkin bisa membantah bahwa produksi industri bisa dipelihara, dengan menurunkan skalanya secara serempak dan simultan, sehingga akan meninggalkan beberapa ruang bagi ekosistem dan orang-orang non-industri untuk hidup pada waktu yang sama.

Pertama-tama, proposal ini mengundang pertanyaan tentang mengapa peradaban industri harus diprioritaskan diatas wujud-wujud kehidupan yang lainnya. Ini juga diragukan, bahkan apakah itu mungkin bagi masyarakat untuk menyerang ”keseimbangan” antara kekayaan teknologi tinggi dan ketahanan ekologis tanpa pembagian-pembagian keuntungan antara bagian-bagian yang besar dari populasi bekerja atau memanfaatkan satu skema rancangan otoritas sosial yang rumit.

Kompleksitas struktur dan hirarki peradaban harus ditolak, beserta dengan imperialisme politik dan ekologinya dimana penyebarannya ke seluruh seberang dunia. Tidaklah mungkin bagi semua 6 milyar penduduk bumi untuk bertahan hidup sebagai hunter-gatherer, tetapi ini mungkin bagi mereka yang tidak dapat menumbuhkan makanan mereka sendiri secara signifikan di dalam ruang-ruang yang lebih kecil (dibandingkan dengan ukuran dari ladang-ladang yang hari ini telah diracuni dan dihabiskan untuk proses agrobisnis), seperti yang telah ditunjukkan oleh perkebunan organik dan teknik-teknik hortikultura pribumi.

Di dalam satu ekonomi yang didasarkan pada pembagian kerja, aparatus-aparatus manajerial dan institusi-institusi pengendalian sosial diwajibkan untuk mengurus proses produksi dan pertukaran komoditi, tetapi bukankah juga perlu bagi individu dan komunitas-komunitas kecil untuk memiliki kontrol terhadap mata pencaharian dan hidup mereka sendiri.

Peranan dari hirarki dan cara hidup yang teratur hanya akan melenyap ketika orang-orang sekali lagi mulai menjaga kebutuhan-kebutuhan mereka secara langsung melalui hubungan-hubungan baiknya dengan tanah mereka. Pemandangan yang hidup hanya akan dipelihara dan dikembalikan lagi ke dalam keadaan yang alami ketika perkakas-perkakas produksi massal tidak bisa lagi untuk dioperasikan. Anarki dan otonomi hanya akan tumbuh dengan subur ketika orang-orang mempelajari sekali lagi bagaimana caranya untuk hidup secara independen, bebas dari kanker peradaban dan pada akhirnya mulai sadar untuk menghancurkannya.

Swakelola Sebagai Alternatif Radikal


Bila agenda nasionalisasi tidak mencukupi untuk menghadirkan pembebasan bagi proletariat [1], adakah alternatif radikal yang dapat diambil? Tentu saja alternatif tersebut dimaksudkan untuk menghapuskan fitur-fitur, watak dan keseluruhan sifat menghisap dari sebuah sistem produksi dan konsumsi yang eksis ini. Secara singkat, agenda utamanya adalah menegasikan keseluruhan sistem kapitalisme, tanpa ragu-ragu dan setengah-setengah. Oleh karena kapitalisme eksis berdasarkan 'kerja-upahan' untuk memproduksi komoditi, dan hal tersebut hanya dimungkinkan lewat sebuah relasi sosial dan ekonomi yang hirarkis - seperti majikan-pekerja, maka untuk menegasikannya, sebuah relasi sosial sekaligus ekonomi harus diorganisir melampaui bentuk-bentuk awalnya. Dan sebuah alternatif radikal yang dimaksud dapat dijumpai dalam bentuk self-management atau swakelola.

Swakelola pekerja (workers self-management) adalah suatu model dalam mengoperasikan tempat kerja tanpa majikan atau manajemen hirarkis yang baku. Sebagai gantinya, tempat kerja tersebut dijalankan secara demokratis oleh pekerjanya. Dengan demokrasi, bukan berarti bahwa para pekerja memilih seorang manajer untuk membuat keputusan kepada mereka. Tetapi para pekerja memutuskan sendiri apa yang akan mereka lakukan sebagai sebuah kelompok. Tak seorang pun dalam badan usaha yang dikelola secara mandiri, memiliki kontrol terhadap pekerja lainnya kuasa dalam menentukan setiap keputusan ada di tangan setiap pekerja secara setara.

Swakelola yang dimaksud juga bukanlah sebagaimana 'kontrol pekerja' (worker's control) yang berada di bawah kapitalisme privat atau pun kapitalisme negara, yang hanya spekulasi mengenai hak kontrol pekerja dalam menentukan segi-segi tertentu dalam produksi, seperti memilih wakil pekerja untuk bernegosiasi dengan manajer dalam memutuskan urusan-urusan bagaimana sebaiknya agar produksi tetap berjalan. Juga tidak seperti yang dipraktekkan di Yugoslavia ala rezim Komunis yang menempatkan pekerja sebagai pemegang saham dalam perusahaan kapitalis yang menghasilkan berbagai komoditi untuk bersaing dengan komoditi lain dalam sebuah ekonomi pasar, dan berhak memilih sebuah komite direksi untuk mengelola perusahaan, tentu saja di bawah kontrol ketat Partai berkuasa dan birokrasi negara.

Swakelola adalah negasi atas sistem produksi kapitalis, dengan mengenyahkan seluruh relasi hirarkis dan sistem kerja-upahan. Dengan mengacu pada kesatuan sistem ekonomi, swakelola berarti pola manajemen langsung oleh produsen, mulai dari proses produksi, distribusi hingga komunikasi dengan komunitas atau masyarakatnya.

Swakelola bukan sebuah konsepsi abstrak yang utopis. Dalam sejarah, swakelola telah hadir berulang kalidi Russia pada 1905 dan 1917, di Spanyol pada 19361937, di Hungaria pada 1956 dan Aljazair pada 1960 serta Chili pada 1972 hingga di Argentina pada 2001. Bentuk organisasi yang paling sering dibangun sebagai praktik dari swakelola adalah Dewan Pekerja (Soviet).

Pekerja dalam sebuah pabrik, sistem transportasi, komunikasi, dsb, membentuk sebuah badan umum yang kemudian memilih komite-komite yang berisi delegasi-delegasi untuk menangani tugas-tugas khusus, termasuk pertahanan diri dan koordinasi dengan perusahaan lain yang juga telah dikuasai oleh para pekerjanya. Pengoperasian perusahaan lantas dimulai kembali di bawah manajemen pekerja dan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang didefinisikan oleh mereka - tentu saja, selama sebuah krisis revolusioner, sektor-sektor terpenting adalah produksi pangan, senjata, sumber daya listrik, keberlanjutan urusan medis, telekomunikasi dan layanan transportasi.

Setiap tempat kerja yang diswakelolakan berjalan berdasarkan pertemuan langsung (face to face) antar pekerja dalam sebuah dewan pekerja. Pekerja di setiap perusahaan mengambil keputusan kolektif berbasis demokrasi langsung, baik one-man-one-vote atau melalui konsensus. Ini mesti berlangsung di seluruh divisi atau unit kerja terkecil dari bawah, dan pada akhirnya mencakup keseluruhan tempat kerja.

Dalam mengkoordinasikan kerja-kerja harian di tingkatan basis atau unit kerja, dilakukan lewat pertemuan Dewan Pekerja di tiap divisi atau unit kerja, yang fungsinya membicarakan masalah kerja dan mengambil keputusan harian. Tiap divisi/unit kerja mengirimkan delegasi dengan mandat khusus ke sebuah 'komite kerja', untuk mengkoordinasikan aktifitas mereka dengan unit kerja lainnya. Yang harus diingat, delegasi bukanlah manajer profesional, tetapi pekerja biasa yang beraktifitas di tempat/unit dimana mereka didelegasikan dengan mandat dari pengutusnya. Setelah menjalankan tugasnya, delegasi akan kembali kepada dewan untuk melaporkan hasilnya, yang mungkin bisa dilanjutkan dengan mengambil keputusan baru. Setelah pertemuan dewan pekerja usai, delegasi pun kembali ke aktifitasnya seperti anggota lainnya.

Delegasi dapat di-recall atau diganti kapan saja bergantung pada pekerja. Dan sebuah 'komite kerja' yang dimaksud bukanlah manajemen sebagaimana bentuk perusahaan-perusahaan kapitalis, mereka tidak membuat sebuah keputusan agar pekerja mengerjakannya. Komite tersebut hanya berfungsi sebagai badan komunikasi antar unit-unit kerja. Komite bukan pula sebuah badan permanen, sejak pendelegasian di tiap unit kerja dapat dilakukan setiap pertemuan, sehingga setiap pekerja dapat menjalankan peran tersebut.

Swakelola menghapuskan pembagian kerja permanen antara manajer dan pekerja. Pada prinsipnya, mereka yang melakukan kerja produktiflah mulai dari membuat, merancang, merawat peralatan, mengumpulkan informasi, mengalokasikan peruntukan, dan seterusnya, yang memanajemeni kerja-kerja mereka sendiri. Swakelola bermakna pekerja mengelola pekerjaan mereka secara mandiri, oleh karenanya tidak diperlukan lagi manajer professional ataupun manajemen hirarkis.

Swakelola pada esensinya bertujuan dalam penghapusan kerja-upahan dan komoditi ekonomi, dan tentu saja alienasi atas pekerja -yang selalu berlekatan dengan kerja-upahan. Ini juga berarti pekerja mesti menghapuskan dirinya (sebagai pekerja-upahan/proletariat) saat mereka menghapuskan seluruh tatanan masyarakat berkelas. Dalam prakteknya, swakelola meniscayakan penegasian keberadaan negara dan kapital, dikarenakan kedua hal tersebut menjadi irasional dalam praksis manajemen langsung. Oleh karenanya pada prinsip yang berjalan, swakelola tidak mengizinkan semua kekuasaan yang terpisah atas mereka yang terlibat. Karena sebuah model manajemen langsung, swakelola diterapkan dengan sistem Demokrasi Langsung tanpa kecuali, dimana pendelegasian berlangsung secara ketat untuk menghindari sentralisasi kekuasaan dan manipulasi [2]. Dan pada akhirnya diperlukan sebuah badan koordinasi masyarakat secara luas, namun seluruh anggotanya tetap di bawah mandat dengan ketat, sehingga fungsi mereka terbatas pada komunikasi umum.

Merujuk di masa lampau, pencapaian-pencapaian tertinggi dewan-dewan tersebut telah membuat seluruh kekuasaan negara tidak lagi dibutuhkan -kesalahan utama mereka di masa lampau (dengan pengecualian khusus atas para pekerja dan petani Spanyol di Catalonia pada 19361937) terletak pada ketidaksadaran akan hal ini dan dengan demikian dapat dengan mudah dihancurkan oleh kekuatan bersenjata yang masih tersisa dari para penyembah kekuasaan negara.

Lalu bagaimana pembentukan kekuasaan negara baru dapat dihindari dengan cara ini? Pertama, tentu saja, dengan cara mengenyahkan seluruh “partai politik revolusioner” sekalian dengan kelompok-kelompok reaksioner. Kedua, dengan memastikan bahwa seluruh kekuasaan berada di tangan badan-badan umum para pekerja dan komuniti, dan hanya di tangan mereka sajabadan-badan umum tersebut sendiri adalah dewan-dewan dan bukan sekedar komite-komite delegasi yang mendapat amanat dari keseluruhan dewan.

Pada akhirnya mesti dipahami bahwa keberhasilan swakelola terletak pada kesadaran proletariat di tingkatan individu, akan sebuah hasrat yang mendalam bagi penciptaan sebuah hidup yang bebas, kreatif dan menyenangkan di bawah kontrol mereka sendiri. Di tingkat kolektif, isi berarti apa-apa yang harus diswakelolakan.

Swakelola juga tak bisa lagi hanya terbatas pada tembok-tembok pabrik. Pertama-tama, harus dibentuk juga dewan-dewan ketetanggaan dan masyarakat yang terdiri dari mereka yang selama ini tak mendapatkan upah atas kerja mereka (ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar dan anak-anak sekolah) yang pada gilirannya juga akan memilih delegasi dan bekerja dalam tim bersama dewan-dewan pabrik, komunikasi, transportasi dan lainnya.

Tentu saja semua itu baru awal dari perjalanan jangka panjang swakelola agar dapat berhasil diterapkan di tingkat global pasca kemenangan dewan-dewan federasi atas kekuasaan seluruh negara yang eksis, sehingga sesuatu yang baru bisa tercipta dengan lebih menggairahkan dan menakjubkanperubahan-perubahan yang bahkan kita sendiripun sekarang tak akan mampu membayangkannya.

Secara empirik, semua ini bukanlah sebuah ide abstrak atau rencana besar utopis yang harus diinjeksikan ke dalam pikiran “massa”. Nyaris semua yang dijabarkan di atas pernah dilakukan dan terutama formasi dewan-dewan, federasi yang dimandatkan dengan ketat, delegasi-delegasi yang dapat dengan mudah dicopot dan diganti, dan upaya-upaya mentransformasikan lingkungan sosial bukan hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Swakelola memperlihatkan penampakan awalnya yang kecil tetapi jelas di ruang-ruang kerja oleh para pekerja di ribuan pabrik di mana-mana, dalam bentuk pendudukan pabrik dan pemogokan. Mengutip kata-kata Marx, swakelola adalah gerakan nyata yang akan menghapuskan segala bentuk tatanan yang eksis saat ini.


Catatan:

[1] Proletariat yang dimaksud disini tidak terbatas pada buruh pabrik dan pekerja industrial saja. Saat 'pabrik' dalam kapitalisme lanjut adalah keseluruhan masyarakat dalam konsepsi 'pabrik sosial', yakni dimana keseluruhan masyarakat diorganisir dalam relasi majikan-pekerja, baik yang diupah maupun tidak diupah, produktif maupun non-produktif, serta kerja yang dimaksud mencakup hingga aktifitas domestik dan non-komersil, maka definisi proletariat juga mesti diperluas. Ini juga mencakup petani, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengangguran, hingga masyarakat adat.

[2] Demokrasi Langsung sebagai oposisi terhadap Demokrasi Perwakilan/representatif.

Pemikiran, Kata-Kata dan Aksi Langsung!


Mimpi dan khayalan adalah pupuk dari perubahan sosial. Dunia memang berubah; dan akan terus berubah karena orang-orang membuatnya berubah. Kunci menuju sukses adalah solidaritas; yang dapat berarti apapun dari sekedar menjadi tempat curhat hingga memberikan amunisi. Solidaritas adalah sesuatu yang kuat, komunitas yang bersatu, menarik garis dari masa lalu tentang berbagi pengalaman dan mengalami kesulitan, memapankan jaringan kontak dari berbagai individual ataupun organisasi dan mendukung semua tindakan melawan ketidakadilan dan penindasan. Sejarah ada di sisi kita; kita bisa dan akan mempunyai harapan untuk menang.

Aksi langsung (direct action) adalah berarti juga memilih pola independen (D.I.Y) dengan cara secara langsung menghadapi masalah yang ada di depan kita tanpa harus memberikan masalah apda orang lain ataupun meminta ijin dulu dari politisi, birokrat atau semua pecundang yang duduk di kursi kekuasaan. Ini juga berarti berjuang untuk mengontrol hidup kita sendiri dan berusaha untuk secara langsung memberikan efek pada dunia di sekeliling kita, mengambil tanggung jawab untuk setiap aksi yang kita lakukan dan definisikan sendiri.

Aksi langsung telah menjadi bagian integral dari resistansi sejak dulu manusia itu ada. Dalam masa kini, iklim politik pemerintahan melihat aksi langsung sebagai sebuah bentuk taktik protes yang cepat menarik popularitas sebagai sebuah option untuk mencapai hasilnya. Sejarah mengatakan bahwa untuk berusaha menjadi seorang boss adalah sebuah pekerjaan yang sangat beresiko, tetapi pemerintah saat ini semakin baik dalam menangani para pembangkang. Negara dipersenjatai penuh dan diproteksi dan telah terbukti berhasil menguburkan dalam-dalam siapapun yang tidak setuju dengan keputusan mereka (lihat juga keberhasilan mereka dalam memutarbalikan fakta, seperti selalu menyalahkan kekerasan, termasuk penghancuran properti, kepada diri kita).

Dalam tatanan masyarakat modern yang dijalankan oleh pemerintah yang 'demokratis', dijalankan sebuah sistem dimana segala bentuk protes dan ketidaksetujuan harus ditampung dan melalui representatif negara dahulu sebelum diperdengarkan. Dan hasil yang selalu kita dapatkan apabila kita menyampaikan keluhan kita melalui representatif negara hanya satu: aksi demonstrasi marching di jalanan yang kita organisir diabaikan, tidak ada media massa yang akan meliput dan menaikkan issue yang kita bawa dan Polisi Anti Huru-Hara (PHH) serta Dalmas-nya telah siap sedia mengganyang kita.

Demokrasi telah membuat kekuatan perubahan terlepas dari tangan kita. Suara protes secara hati-hati dikontrol dan direduksi: semua jalan diserahkan pada para birokrat dan politis untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Kekuatan kita semakin tereduksi dan semua yang kita harapkan boleh kita utarakan hanya melalui kotak pemilihan suara yang disodorkan kepada kita setiap empat tahun sekali.

"Kalau kamu tidak sibuk karena kamu telah dilahirkan, maka kamu pasti sedang sibuk belanja."
-- Angry Brigade.

Illegalism gets the good. Copyright is bullshit...

Kita, yang tinggal di negara miskin (definisi 'negara berkembang' hanyalah perhalusan dari kata 'negara miskin'), hidup seperti kecoa dan tikus got. Sistem yang diterapkan oleh kapitalisme telah sedemikian kuat. Kita didorong untuk mengkonsumsi apapun yang ditawarkan oleh sekeliling kita. Jadi apa yang perlu diprotes? Diri kita sendiri. Memang menyedihkan saat menyadari bahwa ancaman terbesar yang dihadapi oleh planet ini adalah spesies manusia.

Penyalahgunaan dan pengeksploitasian manusia, binatang dan lingkungan alam telah dan masih terjadi di sekitar kita, di seluruh dunia dan alasan tindakan tersebut adalah diperlukannya profit untuk membiayai gaya hidup kita sehari-hari yang mewah. Lebih dari 80% populasi dunia saat ini tinggal dalam kondisi kemiskinan yang parah dan semua bermimpi untuk hidup mewah, hanya mereka tak mampu, bumi tidak memiliki cukup sumber daya alam yang mendukung impian ini. Dalam faktanya, sumber daya alam bumi ini dengan cepat dihabiskan hanya untuk mendukung gaya hidup mewah segelintir manusia yang tinggal di 'negara dunia pertama' dan para pemerintah serta konglomerat di seluruh dunia. Selain segelintir manusia tersebut? Semua hidup dalam dunia fantasi yang haus untuk mengkonsumsi. Kita hidup di dunia yang memiliki begitu banyak produk, tapi harga yang harus dibayar adalah: pembantaian massal melalui pemiskinan.

Seorang petani dari Karnataka, India, saat berlangsungnya protes anti-WTO beberapa waktu lalu, mengatakan, "Kami tidak ingin amal dan belas kasihmu semua. Mereka yang tinggal di utara seharusnya dapat mengerti perjuangan kami dan menyadari bahwa ini adalah juga bagian dari hidup mereka. Dimana-mana yang kaya selalu bertambah kaya, yang miskin semakin miskin dan lingkungan semakin mendekati kiamat. Tidak peduli dimana kita tinggal, di belahan bumi uatar atau selatan, kita telah menghadapi masa depan yang sama! Globalisasi seharusnya berarti bahwa kita ingin mengglobalkan kemakmuran masyarakat dunia, bukan mengglobalkan bisnis. Karena hidup bukanlah sebuah bisnis."

Negara Dunia Ketiga hidup dari sampah, limbah dan sekarat atas kerakusan mereka yang hidup di negara Dunia Pertama. Perjuangan yang dilakukan oleh kita yang hidup di negara Dunia Ketiga bukanlah sekedar perjuangan melawan dominasi korporasi multinasional ataupun melawan rezim diktator dan militer, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Gerakan resistansi anti-globalisasi di India, Afrika dan Amerika Latin sangat besar dan itu adalah demi mengambil alih kontrol atas diri mereka. Apakah kita bisa menyamakan gerakan tersebut dengan gerakan mereka yang ada di negara Dunia Pertama? Di Meksiko, pada tahun baru 1994 Zapatista membebaskan daerah Chiapas dan menjadikannya daerah otonomi bagi kaum indian agar terlepas dari sistem yang eksploitatif yang dipaksakan oleh para kapital dari negara Dunia Kesatu kepada mereka. Perempuan dan anak-anak, telah mengangkat senjata untuk melindungi diri mereka dari dominasi kulit putih yang tinggal di negara Dunia Pertama.

"Dunia kita eksis hanya sebatas sejauh telepon kita dapat berhubungan, mobil kita dapat lalui, modem kita dapat koneksi, dan televisi kita dapat tayangkan."
-- His Hero Is Gone.

Zombie-zombie konsumen, itu adalah dirimu dan diriku, adalah sesuatu yang sangat vital dalam memperkuat ataupun memperlemah mata rantai dari eksploitasi global ini. Kita sangatlah lemah, tapi kita dapat mengubah pola pikir kita, kita dapat mengikuti ataupun menolak budaya trend konsumtif; jaringan diy ini adalah milik kita, kita mempunyai pilihan disini, kita dapat mengatakan ya ataupun tidak, kita dapat memutuskan mata rantai ini, kita dapat menghancurkan mata rantai ini walaupun hanya sebagian kecilnya, tapi kita mampu. Kata-kata tanpa aksi adalah bohong.

"Kamu tidak mendukung musuhmu saat kamu ada dalam perang - boikot!!!"
-- Aus Rotten.

Boikot: menolak untuk berhubungan atau melakukan pertukaran dalam usaha untuk melemahkan atau menghancurkan sesuatu. Sangat simpel.

Gunakan kekuatanmu, jangan beli (kebohongan dan produk mereka, cari alternatifnya. Bila tak ada alternatifnya, usahakan untuk memperolehnya dengan cuma-cuma: curilah!!! Ambil dari produsen-produsen dan distributor barang-barang tersebut. Jangan pernah percaya kepada para kapital yang selalu berpura-pura peduli kepada konsumen (seperti McDonald's dan Body Shop). Mesin yang dijalankan kapitalisme berputar terus dan terus, dan untuk menghentikannya bukanlah pada masalah hasil produksinya - mentalitas dibalik produk tersebutlah yang harus dihancurkan.

Untuk membuat perubahan nyata pada gaya hidup kita yang konsumtif berarti juga membuka ruang-ruang untuk memikirkan kembali seluruh hidup kita, tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita bereaksi, berkomunikasi, hubungan sosial kita, kerja kita, berapa banyak kebohongan dan kepalsuan yang telah kita ambil. Ini adalah sebuah revolusi dalam diri kita sendiri; ini adalah tentang pengambil alihan kontrol, mengklaim kembali kekuatan sebagai seorang individual. Ini adalah tongkat penyangga bagi resistansi kita melawan kapitalisme.

"Semakin banyak kamu mengonsumsi, semakin berkurang kamu hidup."
-- Angry Brigade

"Kita tidak hidup, melainkan mempraktekkan kematian selama kita hidup."
-- His Hero Is Gone.

Kita harus bergerak lebih jauh daripada hanya sekedar mengkonsumsi produk ramah lingkungan seperti yang dikampanyekan oleh Greenpeace ataupun grup-grup pecinta lingkungan sebagai alternatif bagi konsumen, tetapi melihat kepada sistem kapitalisme dan efek globalisasi sebagai akar dari banyak sekali permasalahan di dunia, dari kepunahan spesies, eksploitasi buruh hingga perang. Korporasi multinasional adalah wajah buruk dari ketiadaan batas dari kapitalisme. Mereka bebas untuk menjelajahi dunia demi penyedotan sumber daya alam, buruh murah dan ketiadaan hukum perlindungan ingkungan dalam usahanya untuk melarikan diri dari ketatnya dan menguatnya standar yang diajukan oleh para buruh di negara Dunia Pertama. Perjuangan demi hidup yang menyenangkan, demi upah yang mencukupi, kesehatan dan keamanan masih sangat jauh dari selesai. Kita juga harus berpikir secara global: mengapa harus membuat sepatu di Amerika disaat Nike dapat menggunakan buruh-buruh diupah rendah di Indonesia dan melipatgandakan profit bagi perusahaan?

Ekonomi mereka sudah sangat mengglobal, begitu juga resistansi kita seharusnya. Pemerintah tidak akan melakukan apapun dalam berhadapan dengan perkembangan ekonomi bagi korporasi. Ini semua terserah kepada kita sendiri untuk menghentikan lingkaran roda pengeksploitasian ini. Kita harus melenyapkannya dengan diri kita sendiri, memboikot sistem mereka yang tidak adil dan tidak merata. Ini saatnya untuk bergerak jauh melampaui sekedar produk dari korporasi. Perhatikan lagi semua kejadian yang ada di sekitar kita, hal tersebut dapat membantu pemfokusan kemarahan kita dan juga menolong untuk mempersatukan dari begitu banyak issue-issue yang dibawa oleh kelompok-kelompok faksional dengan diri kita. Aksi anti-WTO N30 dan MayDay 2000 telah memperlihatkan keapda kita semua bagaimana berbagai banyak macam organisasi, dari perserikatan, aktivis HAM, environmentalis, beraksi bersama di jalanan dalam menyerang musuh bersama mereka yang sesungguhnya: kapitalisme.

Tapi ingat, kapitalisme adalah juga mengenai diri kita sendiri dan bagaimana tipe sosialisasi kita dengan individu lainnya. Kapitalisme jauh lebih besar dan kuat daripada sekedar taraf level Nike ataupun McDonald's sebagai contohnya, tapi kapitalisme juga berarti masalah Dunia Baru, susu murni KBPS, kios-kios rokok; besar atau kecil, kapitalisme adalah tentang bagaimana pekerja menjual diri mereka dalam sebuah hubungan yang jelas eksploitatif.

"Tetaplah jadi parasit, atau jadilah pejuang bumi."
-- Kapten Paul Watson, Sea Shepherd.

"Mereka mengabaikan nyanyian dan barisan demonstrasi kita, tapi dapatkah mereka mengabaikan batu dan bata? Inilah saatnya untuk melakukan sesuatu lebih daripada sekedar bicara saat mereka telah mengabaikan aksi demonstrasi damai!"
-- Aus Rotten.

Segala sesuatunya bermula dari diri kita sendiri. Jika kamu lari untuk menyelamatkan hidupmu dan seorang polisi berteriak, "Stop!" akankah kamu berhenti? Pemerintah merepresentasikan kekuatan uang, bukan kekuatan rakyat, bukan kekuatan bumi dan selama ini kekuatan itulah yang selalu kita dukung dan kita beri kekuatan lebih. Pemerintah adalah satu-satunya sumber yang tak dapat dipercaya untuk memberikan keadilan kepada rakyatnya kecuali atas kepentingan pribadinya sendiri. Kita tidak perlu merasa berhutang pada pemerintah, toh mereka menjadi makmur atas hasil pembayaran pajak yang kita bayar (dengan dibawah ancaman). Marahlah, karena ini adalah dunia kita! Berpikirlah tentang flora dan fauna yang sebanyak 20.000 spesiesnya terancam punah setiap tahunnya; anak kecil di China yang harus bekerja keras untuk membuat mainan yang kita utak-atik setiap harinya; buruh Tangerang yang kesakitan dan kelelahan dalam membuat sepatu Nike yang kita kenakan. Garis batas antara legal dan ilegal harus kita hapuskan. Saat ketidakadilan menjadi sebuah hukum - resistansi menjadi kewajiban kita. Kita mempunyai kewajiban untuk melindungi bumi yang telah menghidupi kita beserta generasi mendatang. Penghancuran alam adalah sebuah kejahatan yang tak pernah tercatat sepanjang sejarah manusia, dan hal inilah yang menuntut sebuah gerakan resistansi dari diri kita semua. Kita tidak perlu menunggu krisis kapitalisme, yang kita tahu bahwa hal tersebut sudah lewat dan entah kapan akan datang lagi. Tidak ada waktu untuk mengabdikan diri kita kepada sistem, tak ada waktu untuk memikirkan reformis, karena setiap waktu yang kita miliki selalu tercuri oleh mereka dalam setiap ada kemajuan ekonomi. Kita harus mengklaim kembali hidup kita, bukan sekedar mengganti produk yang kita gunakan. Kuatkan dirimu, berhentilah menjadi bagian dari sistem eksploitatif ini dan fokuskan kemarahanmu.

Dalam alam politis dari Angry Brigade, RAF, 1st Of May, IRA, Weathermen, Black September, Dutch Provo, dan lain sebagainya, semuanya melakukan pemboman dan kampanye teror selama tahun 1970-an, ALF mengkampanyekan animal liberation, mereka adalah sedikit dari contoh dimana agenda operasional mereka adalah bentuk aksi langsung dan pemerintah melihatnya sebagai kriminal pelanggar batas; tapi hal-hal tersebut jugalah yang menjadi fondasi bagi para aktivis di seluruh dunia untuk mulai melakukan aksi-aksi langsung apapun bentuknya. Grup-grup dengan issue tunggal seperti environmentalis, anti rasis, serikat buruh, yang secara tradisional bergerak seperti kelompok reformis, saat ini sudah mulai menerapkan politik revolusioner dalam pola geraknya. Sayang saja di Indonesia hal ini belum biasa karena politik dan revolusi masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu dan hanya merupakan bagian dari rutinitas para politisi dan birokrat.

"Banyak aktivis yang saat ini membuat koneksitas antara perjuangan mereka dengan mereka yang berada di komunitas kelas pekerja."
-- Do Or Die no. 6.

Dan itu semuanya yang seharusnya dapat juga kita lakukan, saat semua tetap sibuk dengan berpikir soal penyusunan undang-undang, atau memikirkan soal mencari pemerintah yang lebih baik; globalisasi telah melanda hampir semua gearkan protes... gambaran yang besar beserta solusinya, sekarang telah tampak sangat jelas. Ribuan grup anti kapitalis telah mulai berkembang dimana-mana di muka bumi ini. Lalu apa yang mereka lakukan?

Mereka menandatangani petisi dan pergi ke aksi-aksi demonstrasi, mereka berpikir mengenai gaya hidup mereka, aksi mereka dan efeknya; sebagian lainnya menghancurkan mesin-mesin milik korporasi, menghancurkan properti; mereka mempertanyakan segalanya, mereka membangun alternatifnya, mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri, mereka menghapus batasan yang ditetapkan pemerintah, mereka menolak pemerintah dan beraksi langsung untuk merubah kondisi dunia tempat mereka tinggal. Pendeknya, mereka meresikokan segalanya demi kehidupan.

tanyakan pada dirimu sendiri: siapa audiens kita? Apa pesan kita? Apakah ini adalah taktik terbaik yang daapt dilakukan oleh kita saat ini? Apa tujuan kita? Dan akhirnya, sejauh mana kesiapan kita untuk melakukannya? Tapi sebelum kita lakukan aksi kita, selalu ingat bahwa kita juga perlu untuk merombak diri kita sendiri, merombak pola pikir dan pola pandang kita dan cara sosialisasi kita yang menyertai kita dalam hidup kita sehari-hari.

Segala macam aksi adalah valid; tapi... membuat aksimu sendiri adalah sebuah kreasi, sebuah langkah radikal kecil ke depan menuju dunia yang berbeda. Tanpa visi ini, aksi langsung menjadi tak berarti sama sekali. Kalau kita hanya memfokuskan pada aksinya saja, kita akan dapat terjebak ke dalam sebuah gerakan yang reaksioner dan tak mendasar sama sekali, sebuah gerakan yang sama sekali kebingungan akan siapa yang harus dilawan. Visi ini sudah barang tentu... revolusi.

"Jangan pernah tergantung pada pemerintah atau institusi untuk membuat perubahan. Semua perubahan sosial yang signifikan sepanjang sejarah manusia telah dilakukan oleh aksi-aksi individual."
-- Margaret Mead.

"Dunia ini berada dalam saat depresi, tetapi harapan dapat ditemukan dalam diri mereka yang bisa, berani dan beraksi."
-- Dave Foreman, Eco-Defence.

Seorang aktivis di Jakarta menanyakan kepada marketing manager dari perusahaan Nestle tentang bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh kampanye boikot. Jawabannya adalah, "Tentu saja ada. Setiap saat seorang konsumen datang ke sebuah toko dan membuat keputusan untuk tidak membeli salah satu dari produk kami, hal itu sangat menyakitkan."

Lihat, kamu dapat membuat sebuah perubahan.

Tapi sebagian juga berpendapat bahwa daripada kita mengkampanyekan boikot, mengapa kita tidak mengkampanyekan pencurian dan perampokan atau pembajakan produk? Karena alangkah sulit untuk melepaskan diri dari kekangan dan jebakan sistem konsumtif ini. Memang kadang taktik-taktik tertentu tidak sesuai dengan diri dan pola pandang kita. tapi itu semua terserah kepada diri kita, dirimu dan diriku sendiri untuk memutuskan dan memilih taktik.

Penghancuran properti, vandalisme, dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan dalam kacamata sistem ataupun moralis yang hipokrit. Mereka akan mengkampanyekan bahwa perusakan properti hanya akan menyulut kekerasan negara sebagai reaksi terhadap tindakan tersebut. Mereka akan selalu menghalangi tindakan tersebut. Kenapa? Karena properti adalah tulang punggung kapitalisme yang sangat lemah dan tak dapat mempertahankan diri; kapitalisme juga berawal dari kepemilikan alat produksi dan properti, mereka mendewakan properti. Dan itulah yang paling mudah kita serang.

"Mereka khawatir dengan beberapa kaca jendela yang kita pecahkan. Seharusnya mereka datang dan melihat sendiri bagaimana kekerasan telah dilakukan kepada komunitas kami dengan berada di bawah nama perdagangan bebas."
-- Seorang aktivis Meksiko.

Jadi tunggu apalagi kawan?

3/03/2009

Organisasikan Komunitasmu: Jangan Memilih!

Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah
Hillary Clinton, Program Musik Dahsyat di RCTI 19 Feb 09

Semua revolusi modern telah berakhir dengan kembalinya kekuatan negara
Albert Camus

Dewasa ini, “demokrasi” menguasai dunia. Runtuhnya rezim komunis Rusia, pendudukan di Afghanistan dan Irak yang mengatasnamakan demokrasi, sistem Pemilu multipartai yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas persoalan demokrasi ekonomi, pembantaian warga sipil palestina di Jalur Gaza dan serangan balas dendam pada warga Israel yang tidak bersalah demi kekuasaan modal, juga jadwal Pemilu pada bulan April 2009 di Indonesia—yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah kita dan dunia? Kenyataannya dunia masih juga berjalan di antara kemiskinan, pengangguran, penghancuran ekologi, penghancuran hak-hak warga oleh korporasi, dan masalah-masalah lainnya. Lebih dari itu, kemandirian komunitas telah menjadi sesuatu yang benar-benar langka. Apakah ada yang salah dengan “demokrasi”? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan dari “demokrasi”?

Setiap Anak Kecil Dapat Tumbuh Menjadi Seorang Presiden

Bohong. Menjadi seorang Presiden berarti memegang sebuah kekuatan dalam posisi yang hierarkis, sama halnya dengan menjadi seorang milyuner: untuk ada satu orang Presiden, harus ada milyaran orang yang memiliki kekuatan lebih rendah dari dirinya. Dan seperti halnya dengan milyuner, hal yang sama berlaku juga dengan keberadaan seorang Presiden: bukan sebuah kebetulan bahwa kedua tipe tersebut saling menguntungkan, semenjak keduanya datang dari dunia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dengan cara membatasi hak-hak kita sebagai orang-orang yang bukan bagian dari mereka. Sistem ekonomi kita, juga sebenarnya tidaklah demokratis, kita semua sudah tahu bahwa sumber kekayaan didistribusikan dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Untuk menjadi seorang Presiden engkau harus memulainya dengan memiliki sumber kekayaan, atau setidaknya memiliki kedudukan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi sumber kekayaan. Walaupun apabila memang benar bahwa setiap orang dapat tumbuh menjadi seorang Presiden, hal tersebut tidaklah akan menolong milyaran dari kita yang kebetulan tidak menjadi seorang Presiden—yang masih harus hidup dalam bayang-bayang kekuasaannya. Hal inilah yang menjadi kesulitan mendasar, yang intrinsik, dalam sistem demokrasi representatif[1]—di mana kesulitan tersebut terjadi dalam level paling bawah maupun dalam level teratas. Sebagai contoh: Walikota, bersama beberapa orang politisi profesional, dapat mengagendakan pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan masalah-masalah yang dialami oleh warga kota tersebut. Kemudian mereka menghasilkan berbagai keputusan setiap harinya untuk ditaati oleh setiap warga kota, tanpa sekalipun pernah mengkonsultasikannya dengan para warganya. Masalahnya, masalah yang dialami oleh tiap warga pasti berbeda-beda, sehingga mereka yang tidak mengalami masalah yang sama jelas akan merasa keberatan dengan diberlakukannya keputusan sepihak dari Walikota. Tidak perlu heran apabila ketidakpuasan akan terus terjadi. Para warga kota dapat memilih Walikota yang lain, walaupun pilihannya hanya akan kembali ke lingkaran yang itu-itu saja: mereka yang telah disediakan dalam daftar politisi atau calon politisi yang sudah dipilihkan untuk warga kota. Dari pilihan itu, tetap saja kepentingan dan kekuatan kelas dari para politisi tersebut akan selalu bertentangan dengan kepentingan warga kota. Lagipula, para loyalis partai politik selalu saja hanya melakukan hal-hal yang dianggap baik demi mendapatkan kursi kekuasaan dan bagaimana caranya mempertahankan kursi tersebut. Apabila tidak ada Presiden, maka bukan berarti bahwa “demokrasi” kita tersebut kurang demokratis. Masalah mendasarnya adalah korupsi, kepemilikan hak-hak istimewa dan hierarki tidak akan pernah lenyap walaupun kita telah memilih jutaan Presiden; karena cacat tersebut tidak terletak secara personal pada siapa yang menjadi Presiden, melainkan bahwa hal-hal tersebut merupakan metode-metode pemerintahan yang telah melekat erat dalam bentuk pemerintahan apa pun.

Tirani Mayoritas

Apabila anda pernah mengalami suatu masa di mana anda menjadi bagian dari kelompok minoritas yang tidak masuk hitungan sama sekali, sementara kelompok mayoritas memutuskan bahwa anda harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi diri anda sendiri tapi dianggap tidak penting oleh kelompok mayoritas, akankah anda hanya menurut demi kepentingan mayoritas? Saat hal tersebut terjadi, benarkah seseorang akan menyadari bahwa kekuasaan sekelompok orang ada karena mereka telah menyingkirkan hak-hak orang lainnya? Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita—dan biasanya mereka, para minoritas yang telah terancam kepentingannya, telah ditutup dulu mulutnya sebelum kita sempat mendengar langsung tentang kondisi yang mereka alami. Tak ada “masyarakat biasa” yang mengakui bahwa dirinya terancam oleh aturan mayoritas, karena setiap orang berpikir ada sebuah “kekuasaan moral” yang menyatakan bahwa kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya: sesuatu yang di dalam kenyataan disebut sebagai fakta dengan merujuk pada standarisasi nilai-nilai yang tidak pernah ditanyakan terlebih dahulu, apakah kita sepakat atau tidak dengan aturan tersebut. Kalaupun hal tersebut tidak disebut sebagai fakta, setidaknya kita begitu sering mendengar hal tersebut dari berbagai teori, yang menyatakan bahwa ide tentang kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya. Dari demokrasi tersentral ala negara-negara Komunis, demokrasi Pancasila, sampai dengan demokrasi pasar yang eksis sekarang ini, kesemuanya tidak pernah mengakomodir kepentingan yang berbeda dari kepentingan mayoritas[2], bahkan jika itu adalah sesuatu yang keliru. Demokrasi dengan aturan mayoritas selalu berakhir dengan keputusan bahwa, apabila segala fakta telah terbukti benar, maka semua orang akan dibuat melihat bahwa hanya ada satu macam cara melakukan sesuatu yang bisa dikatakan benar alias hanya ada satu macam kebenaran. Tak heran jika pola demokrasi seperti demikian tak ada bedanya dengan kediktatoran. Masalahnya, dalam banyak kasus bahkan apabila “fakta” dapat dihadirkan secara jelas pada semua orang (yang jelas tak akan mungkin) beberapa hal tak dapat disetujui begitu saja, yang merupakan bukti bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya satu macam saja. Ada begitu banyak kebenaran di dunia ini, karena masing-masing individu dan lingkungan yang membentuknya punya keunikannya sendiri. Memaksa kebenaran yang bervariatif menjadi kebenaran tunggal akan menghilangkan keindahan yang mewarnai hidup ini. Kita semua membutuhkan bentuk-bentuk demokrasi yang mampu menghitung peristiwa-peristiwa tentang perbedaan kebenaran, di mana kita juga bebas dari sebuah sistem kediktatoran mayoritas sebagaimana kediktatoran kelas yang memiliki hak-hak istimewa.

Aturan Hukum

Perlindungan yang disediakan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sama sekali tidak cukup. “Aturan dan hukum yang adil”, yang dewasa ini diberhalakan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingannya (misalnya tuan tanah atau direktur bank), tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan atau ketidakadilan; hal tersebut hanya menciptakan arena spesialisasi baru, di mana potensi dan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh komunitas akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau pengacara. Masyarakat yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. Di bawah kondisi demikian, potensi mandiri dan kekuatan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat akan disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas. Memapankan keadilan dalam masyarakat melalui penguatan dan pemaksaan kontrol oleh hukum tidak akan pernah berhasil: beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. Apa yang kita butuhkan adalah meninggalkan demokrasi representatif, untuk sebuah demokrasi partisipatoris[3] sepenuhnya.

Bukan Sebuah Kebetulan Apabila “Kebebasan” Tak Ada Dalam Kotak Pemilu

Kebebasan bukanlah sebuah kondisi—melainkan sesuatu yang lebih dapat dikatakan sebagai sebuah sensasi—dan hal tersebut bukanlah sebuah konsep akan janji kesetiaan untuk dituju, sebuah sebab yang mendasari tindakan, ataupun sebuah standar yang mengharuskan kita berbaris di bawah satu bendera; melainkan sebuah pengalaman yang harus anda alami sehari-hari yang bila tidak dialami, maka kebebasan tersebut akan meninggalkan anda. Kebebasan bukanlah saat kita beraksi ketika bendera dikibarkan dan bom-bom dijatuhkan hanya demi “membuat dunia aman untuk demokrasi”, tak peduli apa pun warna bendera yang dikibarkan (bahkan juga bendera hitam). Kebebasan tak bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan ataupun doktrin filosofis apa pun. Memberikan kebebasan pada orang lain tak akan mampu memperkuat kebebasan, selain hanya mengekang kemampuan orang tersebut untuk menemukan kebebasannya sendiri. Kebebasan muncul pada saat-saat yang sederhana; saat membuat anak kecil percaya pada sesuatu yang dilakukannya, pada momen-momen bersama dengan beberapa teman dekat dan kerabat, ataupun pada saat para pekerja menolak perintah pimpinan serikat buruhnya, dan kemudian mengorganisir pemogokan mandiri tanpa pemimpin. Apabila kita memang memperjuangkan kebebasan kita, maka kita harus mulai berjanji pada diri kita sendiri untuk selalu mengejar dan menghargai momen-momen tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkannya. Hal ini jelas lebih baik daripada menghabiskan waktu kita untuk melayani kepentingan partai atau ideologi (apa pun). Kebebasan yang nyata tak akan dapat ditemui dalam kotak Pemilu. Kebebasan bukan sekedar kemampuan untuk memilih satu dari beberapa pilihan, melainkan berpartisipasi aktif untuk membuat pilihan sendiri: membentuk dan mendekor ulang lingkungan di mana pilihan-pilihan tersebut dapat terbentuk. Tanpa hal ini, kita tak akan memiliki apa pun, selain hanya menerima pilihan yang telah ada berulang-ulang kali—membuat keputusan yang hasil akhirnya juga akan selalu sama. Apabila pilihan ada di tangan kita, maka segala sesuatu berarti kemungkinan baru. Dan ketika telah tiba saatnya untuk mengambilalih kekuatan dan kekuasaan atas diri kita sendiri, maka tak akan ada seorang pun yang dapat merepresentasikan diri kita—hal itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara mandiri. Kedaulatan tak akan pernah bisa direpresentasikan, bukan?!

Lihat, Kotak Suara Pemilu—Demokrasi!”

Apabila kebebasan adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak generasi yang berjuang dan mati untuknya, maka kotak suara Pemilu adalah sebuah pereduksian makna atas kebebasan itu sendiri; seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali ke tempat kerjanya di mana dirinya tak lagi memiliki kontrol atas hidupnya, yang juga berarti hal tersebut justru tidak dapat dibilang sebagai upaya untuk meneruskan perjuangan demi kebebasan yang telah dilakukan lebih dulu oleh generasi-generasi sebelum kita. Untuk gambaran yang lebih mudah mengenai kebebasan, lihatlah musisi yang sedang melakukan improvisasi musikal bersama beberapa partnernya; ia melakukannya dalam suasana yang menyenangkan, dengan kerjasama yang benar-benar tanpa paksaan, sehingga mereka dapat aktif mencari nada, tempo, dan suasana yang nyaman di mana mereka dapat eksis—semua berpartisipasi untuk mentransformasikan dunia yang sebaliknya juga mentransformasikan diri mereka. Ambil model tersebut dan terapkan pada setiap interaksi kita dengan orang lain, maka anda akan memiliki sesuatu yang secara kualitas jadi lebih baik daripada sistem yang ada saat ini: sebuah harmoni dalam hubungan dan kehidupan manusia—sebuah demokrasi yang sesungguhnya. Untuk mencapai titik tersebut, kita harus mulai menganggap Pemilu sebagai sebuah ekspresi kebebasan dan partisipasi yang telah ketinggalan zaman dan tak layak dilakukan untuk merengkuh kebebasan yang lebih nyata.

Demokrasi Representatif Memiliki Kontradiksi Dalam Istilahnya Sendiri

Tak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan kekuatan dan ketertarikan yang anda miliki—anda hanya akan mendapat kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan anda hanya akan dapat tahu apa ketertarikan anda dengan cara melibatkan diri secara langsung. Para politisi telah mengembangkan karirnya dengan mengklaim bahwa mereka merepresentasikan orang lain seolah-olah kebebasan dan kekuatan politis dapat diselenggarakan oleh seorang wakil. Sejujurnya, para politisi yang sering disebut sebagai wakil rakyat, hanya orang-orang yang mewakili kepentingannya sendiri—dan kepentingan kelasnya yang berbeda dengan kita, masyarakat kebanyakan. Kepentingan para politisi yang mencari suara kita adalah mempertahankan sistem yang membeda-bedakan manusia ke dalam kelas-kelas sosial, sehingga mereka dapat menikmati hak istimewa yang hanya tersentral di sekitar mereka saja. Kepentingan kita adalah menghancurkan tersentralnya akses-akses atas hak-hak hidup dan pembagian manusia ke dalam kelas-kelas sosial, di samping memberdayakan dan memandirikan diri kita sendiri. Pemilu adalah ekspresi dari ketidakberdayaan dan ketidakmandirian kita: sebuah ijin yang kita berikan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengerti kemampuan masyarakat kita melalui orang lain yang nantinya akan mewakili kita. Saat kita membiarkan para politisi tersebut menyediakan pilihan bagi kita, maka hal tersebut tak ada bedanya dengan saat kita menyerahkan urusan teknologi pada para teknokrat, urusan kesehatan pada dokter, tata kota yang kita tinggali pada ahli planologi; kita akan berakhir dengan terus hidup di sebuah dunia yang asing bagi diri kita sendiri, yang walaupun tenaga kita yang menciptakannya, kita tetap tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan selain hanya menunggu diberitahu oleh para pemimpin dan para spesialis tentang apa saja kemungkinan yang kita miliki. Faktanya adalah kita tak perlu memilih satu di antara beberapa kandidat Presiden, merk soft-drink, channel televisi, koran, ataupun ideologi politik. Kita dapat membuat keputusan kita sendiri sebagai individu dan komunitas, kita dapat membuat makanan yang enak dengan tangan kita sendiri, membuat koalisi sendiri, media sendiri, hiburan sendiri: kita dapat menciptakan pendekatan individual kita sendiri pada hidup yang memberi kita semua keunikan masing-masing.

Konsensus

Secara radikal, demokrasi partisipatoris juga dikenal sebagai demokrasi konsensus, sesuatu yang di belahan dunia lain telah dikenal cukup akrab dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari komunitas adat di Amerika Latin sampai pada sel-sel aksi politis posmodern (grup affiniti atau kelompok affinitas[4]) di berbagai negara Dunia Pertama ataupun pertanian organik yang dioperasikan secara kooperatif di Australia. Demokrasi konsensus juga telah berlangsung selama sekian waktu dalam komunitas Sedulur Sikep[5] sampai pada aksi gotong-royong para petani di Kulon Progo yang menolak penambangan pasir besi. Demokrasi konsensus adalah sebuah bentuk demokrasi langsung, yang sangat berbeda dengan demokrasi representatif: para partisipan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan harian, melalui desentralisasi ilmu pengetahuan dan kekuasaan, sehingga pengambilan kontrol atas hidup sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Berbeda dengan demokrasi yang mengandalkan aturan mayoritas, nilai-nilai yang dianut demokrasi konsensus membutuhkan keterlibatan setiap individu secara setara; apabila ada satu saja orang yang tidak setuju dengan sebuah keputusan yang diambil, maka adalah tugas semuanya untuk menemukan solusi baru yang dapat diterima oleh semua. Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain; walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri.

Otonomi

Agar demokrasi langsung dapat menjadi berarti, orang-orang harus memiliki kontrol atas hidup yang berkaitan dengan dirinya maupun sekelilingnya. Otonomi adalah ide di mana pilihan untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri kita masing-masing ada di tangan kita, dan bukan orang lain—apalagi orang yang hanya kita kenal dari poster atau baliho yang dipasang menjelang Pemilu. Otonomi juga berarti bahwa tak ada seorang pun yang dapat menentukan pilihan tentang apa yang harus anda lakukan untuk mengisi waktu dan potensi yang anda miliki—ataupun menentukan bagaimana lingkungan sekitarmu harus dibentuk. Jangan kacaukan hal tersebut dengan “kemerdekaan” individual yang sempit—dalam kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar merdeka dan mandiri sejak banyak hal dalam kehidupan kita saling terhubung dan tergantung dengan sesama kita (kita terbiasa bekerja dan menyebut diri kita mandiri, padahal kita tetap membutuhkan peran orang lain untuk membuat kita dapat hidup mandiri[6])—kedua hal tersebut hanyalah sebuah mitos individualis sempit yang membuat kita menolak mengakui perlunya keberadaan komunitas. Pemujaan yang berlebih terhadap istilah “mandiri” dalam masyarakat kompetitif menegaskan sebuah penyerangan terhadap siapa pun yang tak mau melakukan pengeksploitasian atas orang lain demi kepentingannya sendiri. Contoh jelasnya terdapat pada istilah otonomi dan mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh media massa dan pemerintah (seperti dalam kata “Otonomi Daerah”[7]). Otonomi yang kita tekankan adalah sebuah hubungan saling ketergantungan yang bebas di antara sesama kita yang berbagi konsensus, seperti pilihan dengan siapa kita bertindak secara bebas demi pembangunan swakelola atas seluruh aspek kehidupan, dll. Otonomi adalah sebuah antitesis dari birokrasi (sebuah hal yang jelas membuat kata “Otonomi Daerah” tampak sebagai sebuah lelucon). Agar otonomi dapat terwujud, segala aspek komunitas, dari teknologi hingga sejarah harus diorganisir ulang agar dapat diakses oleh siapa pun. Agar perjuangan ini menemui titik terang, semua orang harus menggunakan kesempatan akan akses tersebut. Grup-grup otonomis dapat dibentuk tanpa perlu sebuah agenda yang jelas, selama sesama anggotanya mendapat keuntungan dari partisipasi anggota lainnya. Beberapa grup dapat mengandung kontradiksinya sendiri, sebagaimana secara individu kita semua juga seperti itu, tetapi masih tetap dapat bekerja bersama-sama.

Momen-momen di mana kita semua harus diseragamkan di bawah satu bendera, satu model dan satu pola, sudah tak mampu lagi untuk menjawab kebutuhan kita akan kebebasan yang setara. Kita harus mencoba memasuki dunia baru. Grup-grup otonomis harus mengambil sikap yang jelas untuk melawan tekanan dari luar (maupun dari dalam) yang menyatakan bahwa tak ada hak bagi individu untuk menentukan hidupnya sendiri, atau mereka yang berusaha mengilfiltrasi otonomi dan konsensus dengan melakukan penghancuran struktur. Kekuasaan atas otonomi harus dilakukan dengan cara apa pun, termasuk penghancuran struktur status quo dan menggantikannya dengan struktur yang lebih demokratis secara radikal. Sangat tidak cukup saat kita menghancurkan jalanan karena menganggap pembangunan jalan hanya menimbulkan lebih banyak lagi polusi. Kita harus mampu mencari cara seperti menyediakan transportasi gratis, misalnya. Atau contoh lainnya, kita tak cukup sekedar mengkritik pola pendidikan di Indonesia tanpa mencoba membentuk sebuah sekolah dengan pola pendidikan yang berbeda. Tak perlu sekolah besar, cukup sekolah kecil non-formal yang menggunakan pola pengajaran yang progresif.

Aksi Langsung

Otonomi juga berarti aksi langsung, tidak menunggu proposal untuk disetujui oleh “jalur legal” yang selalu memakan waktu yang berkepanjangan dan dana yang mengalir terus menerus tanpa jelas ke mana akhirnya. Mari bangun jalur kita sendiri. Kalau kita ingin orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, jangan berikan uangmu pada institusi legal yang biasanya membutuhkan biaya-biaya administrasi yang akhirnya uangmu akan habis untuk keperluan birokratis mereka—cari di mana sumber makanan murah dan cukup bergizi, kumpulkan, dan bagikan langsung pada mereka yang mengalami kelaparan. Kalau kamu membutuhkan makanan murah, jangan tunggu sampai ada orang kaya memberimu makanan ataupun mencari tanah kosong dan meminta ijin pada insitusi legal untuk menggunakan lahan tersebut—hal itu hanya akan memakan waktu bertahun-tahun dan jalur berbelit-belit yang malahan akan menghabiskan dana yang kamu miliki. Cari lahan-lahan kosong, tanami dengan tanaman pangan yang mampu tumbuh di tempat tersebut. Langkah berikutnya adalah memelihara dan menjaganya agar dapat tumbuh subur. Akan lebih baik jika dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut secara gotong-royong dengan lebih banyak orang. Kita akan mampu untuk memelihara dan menikmati hasilnya bersama-sama. Apabila ada tuan tanah berusaha meratakan lahan panganmu karena kamu dianggap menggunakan lahan kosongnya tanpa izin, pertahankanlah bersama-sama. Para tuan tanah tersebut terlihat benar hanya karena mereka memiliki uang yang jauh lebih banyak daripada dirimu dan hukum memang melindungi mereka, bukan kalian. Jangan tunggu sebuah ijin legal disahkan untukmu, jangan tunggu mereka yang memegang kekuasaan memberitahu padamu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu. Lakukan sesuatu. Saat ini juga.

Federasi Tanpa Pemimpin

Grup-grup otonomis independen dapat bekerjasama dalam sebuah federasi tanpa satu kelompok pun yang memiliki hak lebih untuk memutuskan sesuatu yang merupakan kepentingan semua kelompok. Beberapa struktur sosial seperti demikian tampak seperti sebuah utopia. Tapi sebenarnya hal-hal seperti itu mampu direalisasikan—tak perlu berharap akan terjadi dalam skala besar, cukup kita lakukan dalam skala kecil terlebih dahulu. Hal-hal besar sendiri selalu lahir dari hal-hal kecil yang terus terakumulasi dan berkelanjutan. Individu-individu yang merasa setuju sepenuhnya dengan keputusan sebuah grup tidak boleh menutup dirinya untuk bergabung juga dengan grup lainnya untuk mengembangkan keinginannya. Agar hal-hal seperti itu dapat berjalan dalam jangka panjang, kita semua perlu untuk tetap mengembangkan sikap kooperatif, saling membutuhkan dan toleransi terhadap generasi yang muncul berikutnya—hal-hal seperti itulah yang kami usulkan saat ini.

Bagaimana Menyelesaikan Perbedaan Masalah Tanpa Perlu Keberadaan Pemerintah Ataupun Pemimpin?

Dalam struktur sosial di mana partisipasi tiap individu diutamakan, maka harus ada sebuah tekanan untuk mendorong pereduksian kebiasaan-kebiasaan yang merusak dan penuh kekerasan. Dibutuhkan sebuah pendekatan yang humanis, bukan yang penuh paksaan dan tekanan seperti yang selama ini pemerintah lakukan dengan ancaman penjara dan aparat keamanannya yang terkenal penuh kekerasan—yang hanya memupuk korupsi di antara para petugas hukum dan membenarkan tindakan kriminal yang ada. Mereka yang menolak untuk berintegrasi dengan komunitas manapun, serta menolak bantuan atau masukan dari yang lain, jelas akan menemukan kenyataan bahwa diri mereka akan tersisihkan dari interaksi manusia; tetapi hal tersebut pun lebih baik daripada pengasingan di penjara, seperti yang selama ini selalu berlaku dalam sistem sosial kita. Kekerasan seharusnya hanya dijadikan sebuah alat untuk mempertahankan diri bagi sebuah komunitas, bukannya sebagai alasan untuk menghancurkan komunitas lainnya atas pembenaran superioritas diri seperti yang selama ini juga selalu terjadi dalam sistem sosial kita. Hal ini juga diaplikasikan bagi kelompok masyarakat ataupun grup otonomis yang belum menjalin hubungan baik dengan komunitas kita. Ketidaksetujuan yang memasuki tahapan sangat serius dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti reorganisasi grup ataupun pembubaran. Seringkali individu-individu yang tidak dapat lagi mendapatkan kata setuju dalam sebuah grup ataupun komunitas, justru dapat lebih banyak meraih sukses dalam melakukan pola kooperatif yang dilakukan bersama individu lain di luar komunitasnya yang pertama. Apabila dalam konsensus tak dapat ditemukan kata setuju pada sebuah komunitas, maka grup tersebut perlu untuk dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan saling setuju dalam beberapa aktifitasnya. Hal tersebut memang kadang membuat frustrasi, tetapi hal itu tetap lebih baik daripada akhirnya keputusan dipaksakan oleh sebagian individu yang merasa memiliki kekuatan lebih dari yang lainnya. Semua komunitas independen harus selalu berurusan dengan hal tersebut, suka atau tidak suka, apabila memang tetap ingin membangun sebuah komunitas yang sehat dan terbuka.

Hidup (Ternyata) Tak Memerlukan Ijin

Ini adalah bagian tersulit, tentu saja. Tetapi bukankah kita tidak sedang membicarakan sebuah aturan sosial yang adil? Kita sedang mendiskusikan mengenai sebuah revolusi total atas hubungan manusia sehari-hari—sebuah solusi yang perlu dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh spesies kita dewasa ini. Mari hadapi kenyataan—bahwa sebelum kita semua mampu menerapkan hal tersebut, maka tak perlu heran saat kekerasan yang terjadi dalam interaksi kita sehari-hari akan terus berlanjut, dan tak ada sistem ataupun hukum yang dapat menghentikannya dan melindungi kita. Alasan terbaik untuk menggantikan demokrasi representatif adalah dengan cara membangun demokrasi konsensus di mana tak akan ada lagi solusi palsu. Memang tak ada cara yang mudah untuk menekan angka konflik tanpa mencari akar konflik itu sendiri. Mereka semua yang terlibat harus mulai belajar untuk menjadi eksis tanpa harus merendahkan yang lain, serta mengeliminir kebiasaan-kebiasaan menyebalkan kita sendiri yang justru membuat kita lelah untuk membuat sesuatu yang lebih baik di dunia ini. Perkembangan pertama yang dapat diraih dalam dunia baru ini dapat ditemukan dalam hubungan pertemanan dan cinta kita. Saat kita semua terbebaskan dari hubungan yang dipaksakan, hubungan akan menjadi lebih nyaman. Ambil contoh ini, dan terapkan dalam seluruh masyarakat—ini arti yang dimaksud dengan kalimat “melampaui demokrasi”. Adalah sebuah prospek yang menantang untuk mencapai hal tersebut dari tempat kita berada saat ini… tetapi apa yang menjadi menarik dan indah dari konsensus dan otonomi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu terpilihnya sebuah pemerintahan yang adil dan mengerti keinginan kita semua untuk mengaplikasikan konsep di atas—kita dapat mempraktekkannya saat ini juga, dengan orang-orang di sekitar kita dan secara langsung menerima keuntungan dari hal tersebut. Sekali saja hal tersebut dipraktekkan, maka akan terbuka jelas pola hidup tersebut bagi orang lainnya; tak perlu ada khotbah mengenai mana yang baik dan mana yang buruk saat kita menghidupi aktifitas-aktifitas secara langsung. Bentuk grup otonomismu sendiri untuk menjawab tantangan bahwa penguasa tak diperlukan untuk menentukan jalan hidupmu, dan untuk membentuk lingkungan di sekitarmu yang berarti juga hidupmu sendiri. Tak ada seorang wakil pun yang dapat melakukannya untukmu—seperti juga bahwa sejak dulu tak pernah ada seorang wakil pun yang mampu melakukan sesuatu untuk hidup kita. Dari hal-hal kecil seperti yang kita lakukanlah maka demokrasi yang sesungguhnya akan terbentuk. Maka, saat seseorang berkata kepada kita di suatu waktu, “Berterimakasihlah bahwa kamu telah hidup di dalam alam yang lebih demokratis dibanding masa lalu,” kita akan menjawabnya: “Tidak cukup sampai di situ! Kita harus mengetahui dengan lebih jelas apa yang kita inginkan dan apa yang harus kita lakukan, lewat pengalaman langsung kita sendiri.”

Aksi Langsung Versus Pemilu
Panduan Bagi Komunitas-Masyarakat Non-Partai

Di Indonesia, Pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi di mana “masyarakat umum” akan memilih calon pemimpin mereka—yang diharapkan akan menciptakan perubahan—telah kehilangan pamornya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat itu sendiri telah memiliki kesadaran bahwa sistem demokrasi elit ini sudah busuk dan sepatutnya diganti. Buktinya rutinitas ajang popularitas politisi dan elit borjuis terus saja berlangsung. Mengapa seperti ini? Jawaban yang mungkin paling mudah dan sederhana adalah bahwa, meskipun masyarakat “tidak percaya lagi” terhadap pemilu, mereka tidak punya pilihan lain mengenai pilihan macam apa yang dapat menciptakan perubahan yang berarti, selain memilih politisi.

Inilah mengapa banyak masyarakat merasa tak berdaya. Apalagi menimbang mentalitas budaya dominan masyarakat Indonesia di mana ketergantungan dan pendambaan akan pemimpin politik masih sangat kental. Artinya, rasa percaya diri masyarakat terhadap potensi diri mereka sendiri untuk membuat perubahan sangatlah rendah. Meski begitu, budaya sendiri merupakan sesuatu yang dibuat oleh relasi antar manusia, oleh aktivitas manusia itu sendiri, yang berarti mentalitas yang dihasilkan oleh budaya itu sendiri sangat mungkin untuk dirubah. Untuk merubahnya, kita harus terbiasa untuk melakukan aksi langsung.

Bila memang benar bahwa pemilu hanya akan memperbesar kantong para politisi dan elit borjuis, maka, adakah cara yang lebih efisien dan efektif untuk dapat merubah kehidupan kita? Jawaban yang paling mungkin dan berarti adalah bagaimana kita mewakilkan diri kita sendiri untuk memengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat mengenai kehidupan kita. Bagi sebagian orang, pilihan semacam ini disebut sebagai aksi langsung.

Untuk lebih menjelaskannya, aksi langsung bukanlah cara-cara melobi atau kembali memilih kandidat untuk partisipasi politik, sama sekali bukan. Aksi langsung adalah bagaimana kita membangun suatu cara di mana kita sendiri secara langsung berpartisipasi aktif dalam perencanaan hidup kita. Ini berarti kita memotong peranan para penengah. Aksi langsung adalah juga bagaimana kita menyelesaikan permasalahan tanpa harus kompromi atau mempercayai peranan para elit politik di DPR, kepanjangan tangan korporasi, atau siapa pun yang mengklaim memiliki kekuasaan di atas kita. Contoh konkrit aksi langsung ada di mana-mana. Ketika sekelompok orang mendistribusikan pangan secara cuma-cuma bagi tunawisma tanpa harus menunggu kucuran dana atau izin pemerintah, mereka telah melakukan aksi langsung. Ketika seseorang membuat dan mendistribusikan medianya sendiri tanpa harus tergantung pada media-media milik borjuis untuk memuatnya, dia telah melakukan aksi langsung. Ketika komunitas kampung membangun sekolah mandirinya sendiri dan menginisiatifkan pelajarnya untuk membuat kurikulum pelajaran menurut kebutuhan mereka masing-masing tanpa harus bersandar atau tergantung pada lembaga pendidikan resmi, itu adalah aksi langsung. Aksi langsung merupakan fondasi perjuangan masyarakat yang sebenarnya, ketika mereka ingin melakukan perubahan yang berarti. Artinya, aksi langsung adalah ketika kita tidak lagi menuntut atau mengemis agar perubahan dapat dilakukan oleh seseorang yang berada di luar dari kita dan komunitas kita—tapi bagaimana kita dan komunitas kita sendiri yang mengupayakan perubahan tersebut sekarang juga.

Dalam banyak hal, aksi langsung jelas lebih efektif dibandingkan pemilu. Pemilu itu seperti judi, bila salah satu kandidat tidak terpilih, maka energi yang telah diupayakan oleh komunitas-masyarakat untuk menggolkan kandidatnya akan terbuang sia-sia. Dengan aksi langsung, komunitas-masyarakat akan lebih yakin dengan kerjasama serta energi yang mereka keluarkan. Dan manfaat yang didapat dari aksi langsung akan membuat infrastruktur dalam masing-masing komunitas semakin kuat. Hubungan antar komunitas pun akan lebih hidup—serta manfaat-manfaat lainnya yang tidak akan sia-sia.

Pemilu memusatkan seluruh kekuatan masyarakat ke tangan segelintir politisi. Semua itu dilakukan dengan berbagai intrik, manipulasi politik, serta kongkalikong dengan para pengusaha. Mereka memaksa setiap masyarakat untuk tunduk dan tidak punya partisipasi apa-apa, selain apa yang mereka perintahkan lewat mobilisasi massa dan bayaran yang sangat kecil dibanding keuntungan yang mereka dapatkan. Dengan aksi langsung, engkau akan lebih mengenal kemampuan, inisiatif, serta sumber daya-sumber daya yang ada di sekitarmu, dan memahami sejauh mana kau bisa melakukan perubahan yang sebenarnya.

Pemilu juga memaksa semua orang agar menyepakati suatu landasan yang belum tentu cocok dengan kita. Berbagai bentuk koalisi akan dibangun untuk membuat kompromi—setiap faksi bersikukuh bahwa landasan merekalah yang paling benar dan faksi yang lainnya hanya menjadi perusak semenjak tidak dapat mengikuti landasan faksi tersebut. Namun dari kesemuanya, tak ada satu pun yang memperjuangkan kepentingan kita. Akan ada banyak energi yang terbuang sia-sia dalam rutinitas tuding-menuding ini. Dengan aksi langsung, kita tidak membutuhkan dagelan semacam itu: berbagai kelompok yang berbeda dapat menggunakan cara yang berbeda juga—semua itu dilakukan menurut apa yang mereka percayai dan mereka butuhkan. Berikutnya, yang lebih penting, mereka merasa nyaman melakukannya. Dengan demikian, kemungkinan untuk membangun kerjasama yang saling mengisi dapat terjadi. Masyarakat yang menggunakan aksi langsung yang berbeda-beda tidak perlu berdebat sengit, kecuali mereka memang sedang mencari konflik (mungkin karena ekses pengalaman pemilu bertahun-tahun yang membuat mereka sulit untuk menerima pendapat berbeda dari yang lain). Konflik yang terjadi di masa-masa pemilu seringkali menjadi pengalihan dari permasalahan-permasalahan yang nyata, sebagaimana ketika beberapa kelompok masyarakat terlibat dalam drama dan konflik dari partai politik tertentu. Dengan aksi langsung, permasalahan yang mendesak harus diangkat, dibahas, dan menuntut untuk diselesaikan.

Lagipula, Pemilu hanya dilakukan dalam kurun waktu lima tahun sekali. Aksi langsung dapat dilakukan kapan saja. Pemilu hanya mengangkat beberapa agenda politik yang dibuat oleh elit politik, sementara aksi langsung dapat dilakukan di setiap aspek kehidupanmu dan di mana saja engkau berada. Pemilu dan voting sering dilebih-lebihkan sebagai “kebebasan” yang sedang beraksi. Pemilu bukanlah kebebasan, karena kebebasan berarti secara aktif memikirkan dan memutuskan sesuatu dari awal—bukan sekedar kebebasan dalam memilih apa yang hanya disediakan oleh mereka, para elit politik yang tak pernah kita kenal. Tak ada yang dapat menggantikan aksi langsung. Dengan aksi langsung, engkau sendirilah yang membuat rencana, mencoba pilihan-pilihan dan resiko-resikonya. Dan batas dari semua itu hanyalah langit.

Catatan :

[1] Demokrasi representatif atau demokrasi perwakilan, adalah jenis demokrasi yang paling umum kita ketahui—dari yang dipraktekkan dalam kenegaraan, sampai pada komunitas kecil pada umumnya. Demokrasi model seperti ini sangat rentan terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh para wakil yang diklaim dipilih oleh banyak orang. Selain itu, kendali terhadap pilihan yang akan diambil sangat terpusat hanya pada para pemimpinnya, sehingga mayoritas orang, sebenarnya hanya dijadikan alat saja bagi para pemimpin tersebut. Tak heran jika kemudian demokrasi representatif melahirkan pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Demokrasi representatif, secara mudahnya dapat diidentifikasi berbentuk piramida di mana keputusan yang dibuat berasal dari atas (minoritas) ke bawah (mayoritas).

[2] Pada kenyataannya, kepentingan mayoritas ini juga memiliki kontradiksi. Contohnya, saat Partai Golkar memenangkan pemilu dengan suara paling banyak, mayoritas dari para pemilihnya tetap saja berkubang dalam kemiskinan dan rasa frustasi—hanya para pemimpin dan elit-elit partai tersebut saja yang dapat menikmati hak-hak istimewanya. Siapa pun pemimpinnya, selama masyarakat tidak mempunyai kontrol langsung terhadap keputusan-keputusan yang dibuat, masyarakat hanya akan dijadikan sebagai sapi perahan oleh para pemimpin.

[3] Demokrasi partisipatoris atau demokrasi akar-rumput atau biasa juga disebut demokrasi konsensus, adalah kebalikan dari demokrasi representatif. Demokrasi model ini sangat menekankan pada partisipasi aktif dari anggota komunitas bukan hanya untuk menentukan pilihan saja, tapi juga dalam pembuatan pilihan-pilihan. Demokrasi partisipatoris jelas tidak dapat dipraktekkan dalam kenegaraan karena negara membutuhkan birokrasi yang bertingkat, yang memisahkan para wakil dengan para pemilihnya. Demokrasi partisipatoris adalah demokrasi dalam artian sesungguhnya, di mana masing-masing orang memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Jika demokrasi representatif menggunakan metode dari atas ke bawah (top-down), maka demokrasi partisipatoris lebih menekankan pengambilan keputusan dari bawah (bottom-up).

[4] Kelompok affinitas merupakan kelompok kecil berjumlah 5 sampai 20 orang yang bekerjasama secara otonom pada proyek-proyek aksi langsung ataupun proyek lain. Kelompok affinitas menantang pengambilan keputusan dari atas ke bawah, dan memberdayakan mereka yang terlibat untuk mengambil aksi langsung yang kreatif. Kelompok affinitas memampukan orang untuk melihat aksi mereka dengan kemerdekaan penuh dan kekuasaaan untuk pengambilan keputusan. Kelompok affinitas menggunakan prinsip-prinsip desentralis dan non-hierarki.

[5] Sedulur Sikep atau dikenal juga dengan sebutan Masyarakat Samin, adalah komunitas yang di awal kelahirannya memberontak untuk membayar pajak pada pemerintah kolonial Belanda. Metode perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan pembangkangan sosial terhadap kepatuhan yang dipaksakan pada mereka. Komunitas ini menganggap setiap orang setara. Sampai sekarang komunitas ini masih eksis dan tersebar di beberapa wilayah seperti Blora, Pati, Pacitan, dll.
[6] Kemandirian dan keberdayaan yang kami maksud adalah kemandirian yang saling terhubung antar individu maupun antar komunitas—kemandirian yang tidak terpisah dengan hal-hal lainnya. Faktor-faktor ini perlu ditekankan karena sebenarnya setiap individu maupun komunitas punya keunikannya masing-masing. Bandingkan dengan individu maupun komunitas yang hanya bisa membebek pada komunitas-komunitas lainnya: semua hal akan menjadi seragam dan membosankan.

Di sisi lainnya, kemandirian yang dimaksud oleh para individualis sempit adalah kemandirian yang memutuskan relasi sosial dengan sesamanya. Mereka merasa dirinya sendiri jauh lebih baik dari orang lain. Kemandirian yang diklaim oleh para individualis sempit ini biasanya berujung pada tindakan kekerasan terhadap kelompok lain.

[7] Otonomi Daerah adalah sebuah parodi tak lucu akan kemandirian. Bagaimana mungkin sebuah daerah mampu otonom dalam konstelasi birokrasi yang terpusat, yang keputusannya tetap berada di tingkat paling atas? Otonomi daerah hanyalah sebuah restu yang diberikan pejabat-pejabat pusat di Jakarta agar para pejabat daerah bisa korupsi lebih banyak lagi, dan artinya, yang paling menderita lagi-lagi orang-orang seperti kita.

10/26/2008

Fenomena Era Konsumtif

Faktor utama yang membuat masyarakat konsumen modern menjadi mungkin dan niscaya adalah keberhasilan dari Revolusi Industri, khususnya dalam meningkatkan produktivitas buruh. Revolusi Industri --dimulai dengan Inggris lebih dari 200 tahun silam-- yang menggabungkan inovasi teknologi dan manajemen sehingga memungkinkan buruh pada umumnya menghasilkan output (produk) yang lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Populasi kita juga menjadi dua kali lipat, beberapa kali dan menjadi lebih banyak lagi, namun pertumbuhan produktivitas --juga outputnya-- berlangsung jauh lebih cepat sehingga output per orang akan semakin lebih banyak beberapa kali lipat. Inilah yang secara mendasar merupakan penjelasan bagi meningkatnya standar kehidupan yang demikian menonjol pada bagian awal abad ini, hingga masa sekarang.


Sebelum abad ke-17, orang pada umumnya hanya memiliki satu pakaian, atau apabila ia cukup sejahtera, bisa memiliki dua atau lebih potongan pakaian selama masa dewasanya. Jumlah barang yang dimiliki oleh sebuah keluarga yang bukan golongan elit mungkin dapat dihitung dengan jari. Sedikit sekali. Dan kini gaya hidup semacam itu kita sebut sebagai kemiskinan.

Karena itu, dengan pertumbuhan produktivitas yang begitu cepat dan fantastis, melampaui pertumbuhan populasi itu sendiri, maka ekonomi kita lantas bergantung pada konsumsi massa(1). Logikanya sederhana! Karena kita menjadi semakin produktif maka akan semakin banyak pula barang yang dihasilkan. Apa yang dihasilkan harus dijual, ini adalah syarat mendasar. Karena kebutuhan dasar orang semakin terpenuhi, maka ada kemungkinan bahwa kita sedang mendekati titik jenuh. Lalu, apa yang akan terjadi pada sistem yang terus berputar untuk menghasilkan barang-barang yang semakin bertambah ini? Perhatian ini merupakan dasar bagi pengerahan lebih banyak bakat dan energi masyarakat kita untuk menemukan cara agar orang menginginkan barang-barang yang semula tidak mereka butuhkan.

Oleh karena itu, korporasi atau industri raksasa diciptakan untuk membujuk setiap orang agar yang mempunyai uang agar tetap menggunakannya untuk membeli semakin banyak dan semakin banyak. Bukan hanya barang-barang yang akan membuat hidup mereka lebih baik, tetapi juga barang X yang hanya menciptakan persoalan, serta barang Y untuk memecahkan persoalan yang diciptakan oleh barang X, dan ini terjadi berulang-ulang dalam berbagai hal. Inikah yang kita inginkan, kawan?

Imaji yang Ditawarkan kepada Manusia

Sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh mayoritas setiap manusia? Yaitu rasa aman, kenyamanan, kehormatan dan hiburan. Manusia telah sangat berhasil dalam meraih tiga di antara empat hal tersebut.

Rasa aman; sebagian dari kita tidak harus mencemaskan dari mana makanan kita berasal. Toh, pada akhirnya kita semua akan mati, tetapi umumnya kita beralasan untuk selalu berharap dapat hidup lebih dari 70 atau bahkan 80 tahun.

Kenyamanan; di antara banyak kenyamanan istimewa yang telah kita raih, perrtumbuhan produktiftas telah memungkinkan masyarakat sekarang memiliki komoditas yang lebih baik yang pastinya akan membuat iri para raja maupun bangsawan di abad-abad silam. Sebagian besar hal itu merupakan hasil dari teknologi, yang sekaligus merepresentasikan fakta bahwa akses kita terhadap benda material maupun energi menjadi lebih kaya ketimbang aristokrat di zaman kuno.

Hiburan; kita juga telah menikmati hal ini sama baiknya dengan kenyamanan. Contohnya adalah akses kita sepanjang 24 jam sehari untuk membaca buku, mendengarkan atau bermain musik, menonton film ataupun bermacam-macam hiburan lainnya.

Lalu bagaimana dengan kehormatan? Hal-hal yang membuat kita merasa dihargai oleh orang lain, hal-hal yang menciptakan rasa seperti ini akan sangat bervariasi dari tiap individu maupun budaya, namun keinginan akan rasa hormat itu tampaknya bersifat universal. Dalam masyarakat kita, salah satu cara untuk mendapatkan kehormatan ialah melalui keberhasilan. Bagi banyak orang, penghargaan sangat terkait dengan apakah mereka mampu meraih keberhasilan dalam hal-hal yang diakui oleh kelompok mereka. Istilahnya mungkin bisa berbeda-beda, namun seluruh definisi keberhasilan ini sangat terkait dengan apa yang terjadi pada pertumbuhan setelah masa Revolusi Industri. Kita dibujuk oleh produsen bahwa harga diri kita menuntut agar kita bertindak lebih pintar daripada orang lain (yang bekerja sangat keras agar lebih maju dibanding kita), karena keberhasilan didefinisikan sebagai keberhasilan material !

Siapa yang mati dengan banyak mainan, dialah yang menang… “

Kita tidak bisa melepaskan diri dari alur atau siklus kehidupan ini, sebab uang untuk membiayai kehidupan yang aman, nyaman, menghibur serta berhasil tentu menuntut adanya kerja keras dari pekerjaan yang bisa menghasilkan; dan tidak akan ada pekerjaan jika orang-orang tidak selalu membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan yang diproduksi oleh para pekerja produktif ini. Dan hal inilah yang menjadi bagian dari penjelasan tentang mengapa masyarakat kita mendefinisikan kehormatan dengan istilah keberhasilan. Inilah imaji kebahagiaan yang sangat kuat yang bisa memikat manusia sedemikian rupa, karena definisi itu membuat kita ingin terus mengejar lebih banyak uang dan membelanjakan lebih banyak uang lagi sehingga akan terus membuat sistem yang menyebalkan ini tetap hidup dan bekerja. Inilah jantung budaya konsumerisme, imbas dari sistem dominasi kapitalisme.

Sebuah Harapan Menuju Transisi
Jadi, disinilah sekarang kita berada, di dalam situasi ketika masyarakat harus mengonsumsi lebih banyak sekalipun hal-hal yang dikonsumsi tersebut tidak akan menambahkan apapun pada kesejahteraan atau kebutuhan tertentu. Seandainya orang melawan tekanan untuk memasuki arena balap-tikus konsumerisme --mencari lebih banyak uang untuk mengonsumsi lebih banyak lagi—maka akan terbayanglah suatu kegagalan bisnis, karena para produsen tidak dapat menjual apabila konsumen tidak dapat membeli. Bayangkan seandainya kita semua bersepakat bahwa kita harus menjauh dari budaya konsumerisme yang begitu total dan mengakar karena alasan-alasan kemanusiaan, lingkungan, kultural atau mungkin spiritual, sangat jauh! Mustahil kita bisa membayangkannya secara menyeluruh, mungkin kita hanya dapat membayangkan retakan-retakan yang akan muncul disekitarnya. Tapi jelas retakan inilah kesempatan yang kita punya untuk lebih memperbesar lagi retakan yang nantinya akan meluluhlantakkan sistem (menyebalkan) ini.

Dan inilah yang harus kita sadari, ketika Anda memikirkan mengenai hal ini, tentunya Anda akan menyadari bahwa tidak ada yang lebih buruk daripada sistem kita saat ini. Dimana semuanya dilabeli oleh harga dan imaji-imaji kebahagiaan semu. Untuk mengubah nilai-nilai yang telah telanjur dipegang teguh oleh khalayak luas ini sangatlah sulit bukan?! Apalagi menuju transisi dunia yang berbasis nilai-nilai manusia daripada nilai-nilai yang didikte oleh harga. Ah, situasi yang sangat kompleks dengan banyak unsur yang saling dependen. Namun, tentunya kita masih memiliki cukup waktu untuk sedikit demi sedikit menyadarinya dan berjalan bersama menuju indahnya transisi tersebut.

So, let’s dance together dude,
believe that your desires are more essencial than your useless needs…

Rekam Jejak :
(1) Ketika berbicara mengenai ‘barang konsumsi massa’, istilah tersebut harus dipahami sebagai barang maupun jasa. Jadi barang konsumsi massa disini saya artikan sebagai barang yang mudah didapat, dan memang, diproduksi secara massal. Barang mewah, sebaliknya, diproduksi dalam jumlah sedikit dan terbatas sehingga memberi penampilan yang istimewa untuk sekelompok elit pembeli yang jumlahnya terbatas. Perlu juga dicatat bahwa barang konsumsi massa juga mencakup barang dan jasa yang diperlukan demi kelangsungan hidup manusia dan karena itu juga dapat dikatakan untuk melayani kebutuhan dasar manusia