Showing posts with label Prosa Untuk Dunia. Show all posts
Showing posts with label Prosa Untuk Dunia. Show all posts

10/31/2008

Sang Peradaban

Lukisan mahal
Goresan tinta tetesan darah
Sejarah dan sampah
Opera megah warisan kemenangan
Dibalik cerita peperangan
Yang ditulis dengan tumpah air mata

Cinta dan perang
Suci dan keagungan
Memang barisan kata
Yang seringkali bersenggama
Untuk sekali lagi menegaskan
Bahwa kenyataan
Tidak akan pernah diam
Dan mati terbungkam!

Nyanyian peradaban
Tarian yang tidak lagi mengasyikkan
Tak ada kemeriahan
Ataupun warisan kejayaan
Selain imaji kebahagiaan
Dan jejak-jejak perbudakan

(Malang, 27 Okt '08)

Biarkan Bumi Bercerita

Semua orang tahu
Jika kamu tidak lagi mengenal matahari
Dan hidup dikejar penyesalan
Itulah saat yang kita takutkan
Dimana bumi telah kalah

Karena itu biarkan ia bercerita untuk kita...


Aku
Tidakkah kalian tahu
Apa yang sebenarnya ku rasakan

Lelah?
Tidak! Aku tidak pernah lelah
Jutaan tahun aku menghabiskan waktu
Untuk menimang kalian
Memanjakan setiap hak hidup yang kalian miliki

Seberapa sering aku menjadi rajatega
Untuk mengkhianati kalian
Apakah itu tidak cukup untuk membuat kalian tahu
Sekedar membuat kalian ingat
Bahwa seberapa sering kalian mengkhianati aku

Di saat mata kalian terbenam
Aku tidak pernah berhenti berdetak, bahkan sedetik pun
Untuk terus mengejar matahari
Agar tidak ikut terbenam bersama kalian

Dapat kulihat rahasia hati di gejolak hidup kalian
Ditemani bintang, diiringi bulan
Kumainkan sinema pagi, siang dan malam
Tetap setia kujalani rutinitas membosankan ini
Karena tanggung jawabku untuk kalian

Tapi nyatanya
Kalian memang tidak tahu terima kasih!

Wahai mata yang selalu terbenam
Gejolak jiwa yang tidak pernah terhalang
Tidakkah kalian sadari ini
Seperti kata penyair yang kalian idolakan
" Aku juga ingin hidup 100 tahun lagi..."

Tapi kalian telah berkhianat
Lihatlah betapa rasa sayang yang telah kuberikan
Telah kau rubah sendiri menjadi kutukan
Karena itu, jangan salahkan!
Jika nanti kumuntahkan amarah
Dibawah langit yang akan pekat menghitam

(Malang, 25 Okt '08)

8/11/2008

Pengkhianatan Matahari Pagi (Disharmony Of Humanity)

Pernahkah kita belajar pada...

Eksistensi yang mencoba mengabaikan nurani
Kolaborasi duniawi yang selalu menghakimi massa
Arogansi yang tak pernah jera untuk menjajah cinta
Dan siluet insan gadungan yang membunuh sayang

Sanggupkah kita takkan lupa untuk menuntut pada...

Angkara yang memadamkan nyala api kedamaian
Munafik yang mengotori kesucian sperma
Fatamorgana yang menenggelamkan panorama
Dan teatrikal yang mengangkangi firman sangkakala

Ataukah kita hanya sekedar berhenti berharap pada...
Untaian kalam hati yang terdiam bisu menangisi parodi basi
Dan ratapan sunyi yang merengek tiada pasti

Apakah salah jika nurani menuntut ?
Apakah dosa jika ia menari menantang barisan belati ?
Padahal nurani itu rasa dan rasa adalah anugerah
Yang selayaknya disajikan untuk sesama

Karena itu cobalah sejenak untuk menikmati...

" Oh betapa agungnya dunia kita
Di hadapan barisan nisan yang dikomando matahari pagi
Rancangan realita yang serupa alam mimpi
Berjajar rapi dalam etalase tirani mendekonstruksi ambisi
Menghabisi semua nyawa untuk selembar kontrak asuransi
Dengan janji surga yang diakumulasi oleh pahala bertubi-tubi
Serupa berhala konstitusi yang saling berebut jatah kursi
Membuat kebebasan hanya berkibar dibalik layar kaca televisi
Dan monumen cinta hanya akan berdiri setelah diimingi sederetan nafsu konsumsi
Hingga puncak kesabaran, tingkat keimanan dan barikade impian
Menanti ajal untuk hancur berantakan ! "

Cukup sudah !
Buyarkan lamunan sejenak untuk menabur semangat...

Sekarang cobalah untuk pasrah
Dan biarkan tubuhmu ditelanjangi oleh angkuhnya bayangan malam
Jangan beri kesempatan pada gairah bulan dan bintang
Karena mereka hanyalah biduan yang bersinar diantara kelam
Jangan berharap angin berhenti berdansa
Sebelum ia menjumpaimu untuk meniupkan asa
Karena air susu tidak akan dibalas dengan air tuba
Tapi dengan harapan yang akan terbakar
Melahirkan reinkarnasi rasa untuk mengebiri naluri

Dan karena matahari terlalu pagi untuk mengkhianati
Maka jangan izinkan dirimu untuk mati terlalu dini...

(Malang, 1 Agt '08)

5/28/2008

Konsumsi Sampai Mati

Overdosis
Kaupun mati overdosis
Bukan karena ganja
Marijuana atau putauw
Bukan, bukan karena sakauw

Tapi karena
Kau tak sadar
Bahwa kau telah dikibuli
Oleh mereka raja-raja industri
Yang bermain dibalik arus modernisasi

Perlahan tapi pasti
Otakmu telah dicuci
Jiwamu telah digerogoti
Oleh manisnya iklan produk ditivi

Inilah industri
Inilah komersialisasi
Yang pintar yang membodohi
Dan yang goblok akan terus digobloki

Konsumsi sampai mati
Hidupmu pun menjadi tak berarti lagi...

(Gresik, 18 Mei '08)

5/14/2008

Pengamen Kecil

Mereka ada disekitar kita
Mereka menghiasi hari-hari kita
Mereka berharap kerendahan hati kita
Karena mereka punya mimpi...

Si pengamen kecil
Berjalan bangga di perempatan jalan
Menenteng gitar kecil yang selalu dijaganya
Agar tidak dirampas
Oleh bapak-bapak Pamong Praja

Bernyanyi apa adanya
Mengharap pada mobil-mobil yang berkilat
Walau kadang hanya umpat yang didapat
Tapi semangat tetap melekat

Berjalan begitu mantap
Membusung dada
Dan tertawa bersama kawan-kawannya
Seolah tak ada problema
Oi, bahagia sekali nampaknya

Mungkin dalam benaknya mereka bermimpi
Kelak akan terkenal seantero negeri
Karena jadi pemimpin bangsa ini
Yang bukan doyan korupsi

Tapi karena menjaga dan merawat rakyatnya
Seperti gitar kecil yang dulu selalu dibawanya

(Malang, 4 Feb '08)

5/10/2008

Duniaku Benci Pelangi

Mereka percaya dengan pendapat sendiri
Mereka yakin dengan apa yang diyakini
Mereka konsisten dengan apa yang diikuti
Tapi mereka membenci warna pelangi

Mereka lebih suka menyeragamkan persepsi
Mereka lebih suka memberi dogma & doktrinisasi
Mereka ingin dunia ini hanyalah dalam satu sisi
Dan mereka bangga menjadi otoriter yang layak diamini

Mereka membenci warna pelangi
Karena katanya dunia ini akan lebih benar & indah
Jika pelangi hanya memiliki satu warna

(Gresik, 25 Jan '08)

Mahasiswa (Bukan Sekedar Nama)

Kawan, bukankah kita mahasiswa?
Pemilik jiwa muda yang hidup untuk sesaat
Jiwa yang kaya dengan semangat
Idealisme

Kawan, bukankah kita mahasiswa?
Sang pengemban perubahan
Yang menggenggam keberanian
Yang nantinya akan menghantam ketidakadilan

Kawan, bukankah kita mahasiswa?
Tapi dengan congkak kau khianati!
Karena kau telah jual diri
Kau terlalu mabuk dengan tuak yang selalu kau banggakan!
Bermerek 'Modernisme-Hedonisme'

Lihat!
Katanya kita sudah merdeka kawan
Tapi TIDAK!
Masih ada penindasan
Pengkhianatan
Pembodohan

Kawan, kita adalah sama
Kita adalah satu
Karena kita (memang) mahasiswa

Yang bukan cuma diam dan berjuang
Untuk selembar ijazah
Bukan pula intelek muda
Dengan teori-teori kosong
Atau slogan-slogan kosong
Tapi...
Dengan semangat
Pembebasan!

Kawan...
Kita adalah api pergerakan yang akan terus berkobar
Karena kita (adalah) mahasiswa
Dan itu bukan sekedar nama

Ayo tunjukkan pada dunia!

(Malang, 20 April '08)

5/09/2008

Preman-Preman Beriman

" Dakwah sana sini soal agama...
Mengaku punya iman tapi doyan hajar sesama "

" Ngalor ngidul soal fatwa...
Jadi imam berwibawa tapi suka ngomporin massa "

" Teriak teriak Allahu Akbar...
Pake gamis pake peci tapi kelakuan barbar "

" Koar koar atas nama haram-halal...
Berjenggot rapi kostum putih bersih tapi main brutal "

Jika atas nama agama...
Persaudaraan menjadi gengsi belaka
Salaman bagi yang berbeda menjadi nista hukumnya
Tidak ada penghargaan martabat sesama manusia
Dan ada yang terluka bahkan mati binasa

Jika manusia telah menjadi "Allah" atas sesamanya
Dan jika dengan cara seperti itu orang bisa mendapat pahala

Maka lebih baik berkhayal tidak ada surga dan neraka...

(Malang, 30 April '08)

Apa Kabar Mahasiswa!?

Hei, lihatlah mereka
Bajunya ngetren-ngetren
Tampangnya keren-keren
Dan dibilang manusia kompeten

Kalian panggil mereka apa?!

Hahahahaaa...
Iya, mereka itu Mahasiswa
Hura hura pesta pora
Berdansa ber-valentine ria
Kuping disumbat lagu cinta

Iya, mereka itu Mahasiswa
Ngakak sampai keluar air mata
Nonton Tukul Arwana
Ngalor ngidul di Empat Mata

Hahahahaaa...

Apa kabar Che Guevara?!
Pahlawan revolusi
Yang jadi simbol trendi masa kini

Apa kabar Wiji Thukul?!
Pejuang pembebasan
Yang kini mulai dilupakan

Hei, apa kabar Mahasiswa?!
Masihkah kalian tertawa
Sampai sakit perut keluar air mata

Buat apa sekolah tinggi-tinggi
Kalo cuma berburu gengsi
Buat apa punya ilmu tinggi
Kalo cuma berdiam diri
Buat apa banyak baca buku
Kalo cuma omong kosong melulu

Hahahahaaa...
Apa kabar kalian?!

(Malang, 4 April '08)

Hari Esok Yang Tidak Tercatat

Gelombang imperialisme gaya baru semakin hari semakin nyata dan terasa dampaknya bagi kita semua
Didepan kita menghadang arus global yang begitu memanjakan tapi juga sangat mengenaskan
Segala sesuatu dilabeli harga tetapi semakin sedikit yang diberi arti
Gerai-gerai produk semakin bertebaran di mana pun, tetapi di mana pun juga semakin sedikit yang mampu mengaksesnya

Hidup menjadi tak lebih dari sekedar urusan makan, minum, berkembang biak atau urusan tempat tinggal dan dekorasinya
Hidup seakan tidak bermakna, hanya urusan konsumsi tapi tidak untuk urusan kreasi
Hidup hanya berisi kompetisi bukan kooperasi
Hidup telah kehilangan artinya!

Kami hanya menginginkan hidup kembali menjadi layak untuk dijalani
Dimana segala sesuatu diberi arti bukan lagi label harga
Kehidupan bukan hanya milik segelintir orang tapi untuk kita semua
Sebagaimana kami ingin membangun kembali kerajaan surga di atas puing-puing neraka bumi bersama kalian semua
Hingga suatu masa, hidup akan berkembang kembali di hadapan kita seperti mawar di awal musim panas

Berdiri bersama, berbahagia dan bergembira...

(Malang, 3 April '08)

3/25/2008

Hancurkan Kesombongan Kalian!















Apa yang bisa kita lakukan ketika melihat foto-foto ini?

Sedih, terharu, menangis, mengelus dada atau cuma menutup mata. Tidak banyak yang mungkin bisa kita lakukan buat mereka yang mengalami penderitaan semacam ini.



Bersyukurlah karena sampai detik ini kita masih bisa makan enak, tidur tenang dan bersenang-senang. Berbahagialah karena kalian semua masih punya orangtua yang cukup mampu memenuhi kebutuhan kalian. Bergembiralah karena hari ini kita masih bisa bernafas dan menikmati hidup.



Dan sekarang, ayo kita renungkan bersama...

Coba kita sedikit membayangkan, berimajinasi atau berangan-angan...

Bayangkan seandainya kita bertukar tempat ataupun menjadi seperti mereka, merasakan apa yang mereka alami dan merasakan bagaimana tidak enaknya penderitaan mereka...

Bayangkan semua itu...

Bagaimana? Sangat sulit bukan bagi kita untuk menerima keadaan seperti itu...



Karena itu kawan...



JANGAN PERNAH BUTA KEPADA DUNIA KITA HARI INI!

JANGAN PERNAH SOMBONG DENGAN APA YANG KITA MILIKI HARI INI!

SUDAH SAATNYA KITA HANCURKAN SEMUA KESOMBONGAN YANG ADA!

Tirani Berlabel Agama

Lonceng gereja berdentang dengan bangga
Disambut oleh nyanyian yang berbahagia
Kokoh berdiri simbol kesucian umatnya
Tak lekang oleh jaman, tak lapuk dimakan usia

Tapi apalah gunanya...
Hari ini darah tercecer lagi atas nama agama

Bunyi adzan menggema menggugah jiwa
Pengikut Muhammad melantunkan ayat-ayat cinta
Lambang kesempurnaan para pemeluknya
Tak kalah oleh orkestra, tak hilang dihempas dunia

Tapi apalah gunanya...
Hari ini darah tercecer lagi atas nama agama

Mendewakan pahala, menghalalkan ambisi
Merindukan surga, menghancurkan persepsi
Seperti inikah kesucian sebuah tirani
Berdiri congkak mengatasnamakan Tuhan-nya
Menginjak kebebasan individu yang merdeka

Keagungan religius selalu diatas segalanya
Tapi apakah harus seperti ini?

Kalau perang memang bagian dari dakwah
Ah, alangkah indah seandainya dunia tanpa agama

(Gresik, 20 Maret '08)

Budaya Paranoid

Mencari jati diri
Itu kewajiban!
Mengekspresikan jiwa
Itu kebebasan!
Meneriakkan perlawanan
Itu kesadaran!
Memilih jalan hidup
Itu kemerdekaan!

Tapi dinegeri ini...
Semua itu bagaikan 'kejahatan'

Karena berbeda
Itu dilarang!
Karena menjadi diri sendiri
Itu diharamkan!

(Gresik, 21 Maret '08)

3/16/2008

Mimpi Buruk Dunia

Ketika kita lupa pada takdir akan kehidupan yang harus kita jalani
Ketika kita tak peduli lagi pada senja pertama yang kita cintai
Ketika kita terbuai dan terlena oleh kemajuan dunia
Ketika itu juga kita tak tahu lagi kebahagiaan selain apa yang dijajakan oleh TV
Dan sudah saatnya kita harus segera menyadari
Bahwa dunia perlahan namun pasti berada dalam genggaman ketakutan

Kemiskinan dianggap sebagai hal yang lumrah atas imbas kesenjangan sosial
Pendidikan kian menjadi keseharian yang tidak mendidik
Kehidupan semakin tak terhidupi selain demi akumulasi kapital dan kekuasaan
Mimpi buruk telah bertransformasi menjadi keseharian yang semakin nyata

Kita dihadapkan kepada realita yang sungguh tak manusiawi
Dimana keadilan seakan hanyalah sebuah mimpi
Dimana tingkat kekerasan menjadi semakin merajalela
Dimana biaya hidup semakin melambung tinggi
Dimana kelaparan dan kemiskinan selalu membayangi
Dan itulah gambaran nyata keadaan yang harus kita jalani sehari-hari
Bukankah sungguh ironis dengan kekayaan para pejabat
Yang sejatinya mereka adalah para pelayan rakyat

Laju produksi dan konsumsi yang sedemikian cepat
Membuat kita semakin terseok-seok demi menggapai kepuasan hasrat
Segala sesuatu yang hidup telah semakin tereduksi
Menjadi benih reproduksi kelelahan dan ketakutan

Haruskah kita membiarkan mimpi buruk ini terus berlangsung ?
Sekarang juga, kita akan berjanji :
Untuk tak lagi lupa membersihkan darah pada luka yang tak kunjung mengering ini
Untuk sesuatu yang hidup, yang kita namakan kesejahteraan bersama

(Malang, 10 Des '07)

Diam Itu Dosa

Dunia kita kaya akan warna, budaya & sumberdaya
Tapi dunia kita juga kaya akan derita

Nyawa tak ada harganya dibandingkan harta
Nurani tak ada bedanya dengan tidak peduli
Akal pikiran tak ada gunanya daripada kekuasaan

Bisakah kita diam ketika kita melihat kenyataan bahwa para birokrat kita ternyata hanya merakyat ketika pemilu tapi berkhianat ketika menjabat?

Bisakah kita diam ketika melihat banyak teman-teman kita tidak mendapatkan pendidikan layak yang katanya diwajibkan oleh negara ini?

Bisakah kita diam ketika melihat adik-adik kecil kita sudah turun ke jalan dan kehilangan masa mudanya yang bahagia?

Bisakah kita diam ketika melihat saudara-saudara kita hidup dalam ketidakberdayaan kemiskinan, serba kekurangan dan terhimpit banyak kesulitan?

Bisakah kita diam ketika ada beberapa golongan yang menumpuk kemakmuran sementara banyak yang lainnya terperangkap dalam jaring kemelaratan?

Bisakah kita diam ketika alam raya yang sebenarnya kita milki bersama untuk menjamin kesejahteraan banyak orang sudah dikapitalisasi oleh segelintir majikan?

Bisakah kita diam ketika melihat lembaga hukum yang kita percaya ternyata telah menipu kita atas nama keadilan?

Bisakah kita diam ketika melihat saudara-saudara kita yang tergusur hanya bisa marah, menangis dan menjerit tanpa bisa melawan?

Bagaimana mungkin kita bisa diam melihat semua itu?
Padahal semuanya ada di depan mata

Kepercayaan mana yang menyuruh kita diam?
Agama mana yang yang memperbolehkan kita diam?
Kitab suci mana yang menganjurkan kita diam?
Ilmu pengetahuan mana yang mengajarkan kita diam?

Kalau diam itu adalah dosa
Lalu kenapa kita tetap diam saja
Ketika melihat dunia tak lagi bisa tertawa bahagia

(Gresik, 21 Feb '08)

2/27/2008

Penghancuran Nurani

Bersifat destruktif bukan produktif
Kita selalu terlihat ingin menghancurkan
Ketika kesempatan muncul
Kita selalu ingin lebih dan mengambil alih semuanya
Tidak pernah ada kata cukup

Ambisi kita layaknya obor
Yang siap membakar semuanya
Akan tiba saatnya
Ketika semua akan dibumihanguskan

Suara hati kemanusiaan
Apakah tentang ketamakan dan kebencian?
Takdir hidup kemanusiaan
Apakah tentang penindasan dan penderitaan?

(Malang, 28 Okt '07)

Kenapa?

Kenapa darah itu merah?
Kenapa bukan putih, hitam, biru, hijau atau yang lainnya

Kenapa bukan bulan dan bintang saja yang menjemput pagi?
Biar matahari yang menyapa malam

Kenapa iblis dan setan itu ada?
Kenapa Tuhan tidak melenyapkan saja mereka
Biar dunia ini terasa lebih indah

Kenapa ada si miskin & si kaya?
Kenapa tidak semuanya sederajat dan setara

Kenapa bisa begini?
Kenapa bisa begitu?
Banyak hal yang mengundang tanya
Namun tak satu pun kata yang mampu menjawab

Aku bingung...
Pada semua pertanyaan
Aku takut...
Pada semua jawaban
Karena realita sering berkata,
"Tidak semua yang kamu dengar itu benar"
Tapi kenapa ?

Ah...
Kalau begini lebih baik aku diam saja

(Gresik, 11 Nov '07)

Air Mataku Bukan Untuk Negeriku

Ku menangis dan ku menitikkan air mata
Tapi...
Air mataku bukan untuk negeriku
Kuteteskan dan kupersembahkan
Buat ibu tua si penjual sayuran
Yang tiap pagi berjalan tanpa alas kaki
Mengelilingi kompleks-kompleks megah perumahan
Membiarkan telapak kakinya tertikam kerikil
Dan merelakan kulitnya tersengat mentari

Aku menangis untuk telapak kakinya
Yang telanjang dan kasar tergores kerasnya jalanan
Karena disana penguasa negeriku
Berjalan dengan angkuh
Memamerkan sepatunya yang berkilat dan bermerek

Aku bersedih untuk pakaian usangnya
Yang kumal dan tua terkikis ganasnya debu kemiskinan
Karena disana penguasa negeriku
Berseliweran kesana-kemari
Bangga dengan jas dan dasinya yang dibeli di luar negri

Aku berduka untuk kerut wajahnya
Yang mulai digerogoti kejamnya roh kemiskinan
Karena dalam istana negeriku
Aroma parfum mahal saling berlomba
Berbagai kosmetik dilelang
Perang merek menjadi rutinitas sehari-hari

Sekali lagi...
Air mataku bukan untuk negeriku
Monster-monster berdasi itu telah menyihirnya
Menjadi sangkar serigala dan babi serakah
Meski kini usianya beranjak tua
Tapi negeriku juga semakin tergadai
Ia menjadi rebutan dalam bursa kuasa
Menjadikan pemimpinku tak berdaya
Layaknya boneka pajangan etalase kapitalis

Dan untuk sekali lagi...
Air mataku bukan untuk negeriku
Meski aku tahu ia sekarang diuji
Sebab air mataku telah terkuras
Untuk memandikan jenazah si miskin
Yang menggadai nyawanya hanya untuk makan
Air mataku pun sudah mengering
Untuk saudara-saudaraku di Papua
Busung lapar di kerajaannya sendiri
Yang terisolasi karena hartanya dirampas
Oleh korporasi keparat yang tak tahu terima kasih

Dan untuk terakhir kalinya...
Titik-titik air mataku yang masih tersisa ini
Sekali lagi bukan untuk negeriku !
Tapi akan kutampung dalam gelas
Untuk memberi minum adik-adik kecilku
Yang beradu nyawa diperempatan jalan
Dan menggantungkan hidupnya
Pada ecek-ecek usang dan tutup botol berkayu
Serta kantong plastik bekas gorengan
Sebagian lagi akan kugunakan air mataku ini
Untuk membersihkan tubuh saudara-saudaraku
Yang terguyur pekatnya lumpur panas
Oleh mesin-mesin pemangsa alamku
Untuk melahirkan semburan uang

Dan akhirnya...
Tak ada lagi air mataku yang tersisa
Untuk kupakai meratapi negeriku
Karena aku sudah terlalu lama menunggu
Tetapi bukti dan janji tak kunjung tiba

Di hari lahirmu ini...
Ingin rasanya kuciumi telapak 'sang nahkoda' negeri ini
Tapi aku menjadi malas kembali
Karena telapaknya begitu halus tak berkerut
Dan kukunya pun begitu licin
Sementara si ibu tua penjual sayuran
Telapaknya mengelupas, kotor dan kasar
Kuku-kukunya pun hitam tak terawat
Karena setiap hari harus berjalan puluhan kilo
Bersama gerobak tua dan ember-ember usangnya
Tapi dalam hati kecilku ini berteriak
Nuraniku pun ikut berbisik
"Hey, ciumlah telapak itu dan menangislah untuknya !"

(Gresik, 17 Agt ’07)

2/09/2008

Tanpa Darah & Senjata

Muak... Bosan...
Kulihat di media-media
Lagi-lagi nyawa menjadi
Onggokan daging tanpa harga

Resah... Gelisah...
Kulihat jauh di sana
Saudara-saudaraku menjadi tak berdaya
Walau hanya untuk duduk bersama
Bergurau dan tertawa

Perih... Merintih...
Ku terpana melihatnya
Seakan mereka semua hanyalah boneka
Yang bisa dimainkan kapan saja

Kapan...
Kapan dunia ini akan tertawa
Kapan perang ini akan sirna
Kapan bumi kita bisa gembira
Melihat rakyatnya hidup mesra
Tanpa darah dan senjata...

(Gresik, 19 Jan '07)

Potret Dunia

Sistem korporasi Negara Amerika
Pengendali utama perekonomian dunia
Tukang ikut campur urusan negara orang
Pemangsa cerdik dibalik para pejabat inteleknya
Teror baru bagi negara dunia ketiga

Sang adidaya raja dunia
Potret kapitalis sejati abad ini
Tukang monopoli energi dan sumber daya
Embargo dipakai sebagai senjata utama
Ancaman bagi yang tidak mau kerjasama

Bertanya dan membantah itu terlarang
Mereka ingin kita patuh dan percaya
Seakan aksi mereka tidak ada yang salah
Kita harus selalu mendukung mereka
Jangan pernah mencoba untuk melawan
Nanti mati kau dibuatnya !

Ternyata....
Inilah potret dunia kita...
Tidak ada perubahan...
Tidak ada masa depan...
Kita akan kalah...

(Gresik, 11 Nov '07)