Showing posts with label Amunisi Kata. Show all posts
Showing posts with label Amunisi Kata. Show all posts

1/31/2010

Penyair dan Kata


Pada sebuah cahaya tak menyala
Aku menaruh harap pada sumbu yang menunggu terbakar

Diantara semantik konsonan yang menunggu amunisi
Tuk tersusun menjadi frase yang berteriak
Dan beraksi melancarkan barisan kata
Semiotika cerita dunia bersama retorika yang membuncah di kepala
Beserta prosa berkalang ide dan imaji yang menolak terhempas

Disanalah aku berdiri dan membakar batas!

: Malang, 30 Mei 09

10/09/2008

Instruksi Imaji

Ketika nyawa hanya dipertaruhkan diantara titik hidup dan mati
Dan dunia selalu berputar diantara kehampaan-kehampaan pergulatan
Maka kepastian dan ketidakpastian akan tetap menjadi pertanyaan
Dan tidak akan memberikan jawaban

Ketika kepuasan hanya didefinisikan pada komoditas dan kemewahan
Dan ketidakpuasan selalu menjadi milik mereka yang terpinggirkan
Kebahagiaan tidak akan pernah terasa secara nyata
Dan tetap tidak akan memberikan jawaban

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab semua itu ?

Hanya satu yang mampu menjadi jawaban
Kreasikan hidupmu !

(Gresik, 28 Sept '08)

Total Resistensi

Ketika tindakan diam tidak akan menghasilkan apa-apa
Dan semua kreasi yang kita lakukan menjadi lenyap tak bersisa

Ketika imitasi telah menjadi budaya yang diberhalakan oleh semua orang
Dan semua area imajinasi kita hanya terbatas pada pena dan kertas

Sejak semua tindakan apatis diartikan sebagai dukungan
Dukungan penuh terhadap semua sistem yang dominan pada hari ini

Maka yang harus kita lakukan adalah
Menjadi sekuntum bunga yang akan tumbuh bersama
Diantara deretan tembok-tembok kekuasaan
Untuk sedikit demi sedikit menggerogotinya secara perlahan

Dan pada akhirnya
Akan merubuhkan kekuasaan itu sendiri !

(Gresik, 7 Okt '08)

8/11/2008

Hymne Pembakar Nalar

" Wahai kalian polisi-polisi moral yang mengatasnamakan Tuhan
Hipokrit sejati yang memupuk kebodohan
Merasa lebih suci dan paling benar
Membakukan persepsi menghalalkan kekerasan
Ingatlah bahwa dunia ini tidak berada di balik telapak tangan kalian...! "

Konspirasi para gerombolan institusi di balik argumen basi
Yang membeli takdir dan memperlakukan hidup seperti tahanan
Seakan sang kematian hanya dihargai oleh lembaran royalti
Merancang alam bawah sadar dengan ancaman golok dan senapan
Bersembunyi dibalik mitos yang kalian agungkan
Membawa kebenaran layaknya Nabi dengan aroma kesucian
Jika yang kalian inginkan adalah konflik atas nama kebanggaan
Jika kalian pikir ide kami dapat kalian berangus dan penjarakan
Maka tunggulah teriakan kami akan menembus kerongkongan kalian !

Lakukan apapun termasuk menjadi Tuhan
Kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan
Dan sebelum rima pemberontakan tercatat di pajangan nisan kalian
Maka berhentilah mengancam kebebasan kami !

Kalian serupa chauvinis Israel yang menodai mimpi bocah Palestina
Dengan serombongan fundamentalis super-arogansi tanpa dialektika
Labelisasi yang membatasi surga dan neraka
Hitam-putih dunia yang kalian ratakan dengan parang dan dakwah
Genangan darah, amarah dan sumpah serapah
Membela rezim dengan komando barbar
Bicara tentang aturan, nilai dan moral
Nyatanya kalian cuma omong kosong besar !

Karena dunia tidak lagi berakal dan nalar seakan menjadi gombal
Maka bagi para pelaknat rasional yang mendambakan tumbal
Bersiaplah kalian menuai badai di hari akhir menjelang ajal
Karena hari ini, esok atau nanti
Kami pasti akan berdiri dengan tangan terkepal !

(Gresik, 3 Agt '07)

7/19/2008

Kita Adalah Korban...!

Kita adalah korban dari sistem yang membodohi hidup kita...
Kita adalah korban simbol kemapanan yang menggerogoti nurani kita...
Kita adalah korban neoliberalisme yang mengidap kegilaan fatal dan apatis akut...

Kita terlalu sibuk dengan dunia kerja yang pada dasarnya sebagian besar alasan kita untuk bekerja karena tidak ada pilihan lain selain itu, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sampai kita meninggal dunia (yang mana kebutuhan hidup kita pun telah terkomodifikasikan sedemikian rupa)...
Kita pun acuh pada hal-hal yang telah terjadi di luar kehidupan kita...
Pada hal-hal yang dirasakan saudara-saudara kita...
Kita lupa pada penindasan, ketidakadilan, pembodohan dan ke-tidakmanusiawi-an...
Kita diam karena kita tidak memiliki waktu untuk memeriksa kehidupan kita selain hanya untuk bekerja...

Pelajar/mahasiswa diarahkan sedemikian rupa untuk terus sibuk memikirkan pelajarannya agar dapat segera lulus dan bekerja...
Ibu rumah tangga selalu sibuk untuk melayani keperluan anggota rumah tangganya agar suami dapat bekerja dengan lebih baik...
Dan sang anak pun dapat belajar dengan baik untuk dapat meraih cita-citanya, yakni bekerja dengan penghasilan tinggi...
Para pekerja dikepung sana-sini oleh berbagai benda-benda yang harus dikonsumsi agar dapat menjalani hidup bahagia...

Pada akhirnya, kita pun lupa bahwa di bawah rezim tirani neoliberal ini semua orang yang tidak memiliki kapital adalah korban...
Entah, satu detik, satu menit atau satu jam kemudian, satu hari atau minggu berikutnya, atau bulan atau tahun berikutnya...
Entah, kita bisa saja kehilangan hidup dan mimpi indah kita karena tergerus oleh logika akumulasi kapital...

Jika tetap tidak sadar...
Tunggulah saatnya, selamanya kita akan terus menjadi korban...
(Malang, 16 Juli '08)

6/16/2008

Propaganda Kehidupan

Janganlah sekedar EKSIS,
HIDUPLAH...!

Janganlah sekedar MENYENTUH,
RASAKANLAH...!

Janganlah sekedar MELIHAT,
PELAJARILAH...!

JaNganlah sekedar MEMBACA,
RESAPILAH...!

JanganLah sekedar MENDENGAR,
SIMAKLAH...!

Janganlah sekedar MENYIMAK,
PAHAMILAH...!

JanganLah sekedar BERPIKIR,
MERENUNGLAH...!

Janganlah sekedar BERBICARA,
NYATAKANLAH SESUATU...!

5/09/2008

Intelektual Mati Kutu

Suatu hari nanti...
Intelektual dari negeri ini
Akan diinterogasi oleh rakyat
Rakyat kita yang sederhana

Mereka akan ditanyai
Apa yang mereka perbuat
Saat bangsa mereka
Perlahan-lahan mati

Tak seorangpun mau tahu pada mereka
Soal pakaian dan parfum mereka
Tak seorangpun bertanya pada mereka
Soal matematika dan ekonomi yang begitu rumitnya
Tak seorangpun peduli pada mereka
Soal mata kuliah yang harus ditempuh untuk bisa sarjana

Mereka tidak akan ditanyai soal inflasi, deflasi ataupun resesi
Mereka tidak akan ditanyai soal Adam Smith ataupun George Soros
Mereka akan ditanyai soal hidup rakyat hari ini
Yang semakin hari semakin sulit karena berat di ongkos

Dan pada hari itu...
Orang-orang sederhana akan muncul
Si A yang tidak memiliki duit
Untuk membeli buku-buku yang berilmu tinggi
Si B yang setiap hari bau keringat
Karena memungut sampah dan menyapu jalanan
Atau si C yang setiap hari
Membersihkan rumah, mengepel lantai,
merawat taman, menyediakan masakan,
menyopiri mobil mereka dan bekerja pada mereka

Lalu si A, B, C dan orang-orang lainnya akan bertanya :
"Apa yang kamu lakukan saat si miskin menderita,
saat kasih sayang dan cinta berubah menjadi nestapa?

"Apa yang bisa kamu lakukan hei intelektual?!"

Sang intelektual dari negeriku yang manis
Kamu tidak akan mampu menjawab tapi hanya bisa meringis
Burung nazar akan memakan ususmu
Kengerian akan merasuki jiwamu
Dan pada akhirnya kau akan membisu dalam malu...

(Malang, 15 April '08)

4/30/2008

Narasi Revolusi

Hidup manusia didunia ini memang bagaikan kembara yang berjalan dipadang gurun
Kita perlu lentera yang bisa melihat dari kejauhan diwaktu malam atau disaat-saat yang gelap
Ya, para pengembara perlu memandang pada lentera itu, agar perjalanan mereka yang panjang dapat mencapai tujuan, yaitu sebuah kota yang dirindukan...

(Malang, 30 April '08)

4/02/2008

Manifestasi Tirani

Penindasan hari ini...
Ketika bendera investasi berkibar atas nama demokrasi
Valas dan politisi telah berubah menjadi tirani
Negara rela menjual diri bertekuk lutut dibawah hegemoni
Anarki yang tereduksi menjadi simbol trendi masa kini
Tak ubahnya rentetan invasi Illahi ala Amrozi
Komoditi duniawi membidani arus kolonial fasisme institusi
Berlindung dibalik kebanggaan layaknya Mussolini berkoalisi dengan Nazi

Mortir yang mengguncang Yerusalem, Irak dan Dili
Telah mampir kedalam mimpi semua bandit yang penuh birahi
Menghancurkan nurani dan bertopeng Revolusi Industri
Bagai para pejuang Intifada yang berkorban demi insureksi
Amunisi berkobar manis lewat iklan yang menghiasi sinetron di tivi
Iblis globalisasi mencuri hati para pemimpi
Mengubur tradisi kedalam sampah terbakar bara api
Intelektual lulusan luar negeri hanya menjadi predator dinegeri sendiri
Perampok liberal yang bernyanyi diatas kebebasan otorisasi
Halalkan teror mengoyak keperawanan ibu pertiwi
Invasi ekonomi dengan misi menghantui para pribumi
Mc'D, Starbucks dan KFC yang berkompetisi dibalik kebodohan generasi
Tak terkalahkan oleh militansi Ariel Sharon yang diguncang demonstrasi
Tetap kokoh berdiri mendekonstruksi ambisi

Dan ketika Adidas menghiasi kaki para pemuja selebriti
Manifestasi pembodohan massal oleh keparat korporasi
Membuat konsumsi menjadi harga mati
Inilah paket doktrinisasi layaknya air mani
Tengik, amis dan bau terasi
Terangsang oleh gairah modernisasi yang muncrat kesana-sini

(Malang, 1 April '08)

3/30/2008

Surat Untuk Sang Penguasa

Malang, 1 Nov ‘07

Sebuah surat...
Ditujukan Kepada Tuan Yang Terhormat
Sang Penguasa Maha Berkata
Atas nama Tuhanmu… Atas nama Ideologimu…
Kupersembahkan sebuah ‘rasa kagum’ yang mendalam untukmu…!

TENTANG TUHAN DAN PANCASILA

Apa kabar Tuan-ku?
Bagaimana keadaanmu hari ini, sehat wal afiat?
Sudah kenyangkah perutmu?
Sudah puaskah semua ambisimu?
Kalau iya, bolehkah sekarang aku bertanya padamu…

Benarkah engkau manusia yang ber-Tuhan?
Tapi kenapa melihat perilakumu aku jadi teringat pada setan
Benarkah engkau warga negara yang Pancasilais?
Tapi kenapa melihat sikapmu aku jadi teringat pada iblis

Kenapa kau menyiksa sesama anak bangsa wahai Tuan-ku
Seperti membantai anjing yang menyebar penyakit menular
"Ini untuk membela negara dan melindungi rakyat" teriakmu

Kenapa kau membunuh sesama manusia wahai Tuan-ku
Membabi buta seperti membabat rimbunan alang-alang
"Ini untuk menegakkan keadilan dan kebenaran" katamu

Kenapa kau membakar ribuan rumah saudaramu wahai Tuan-ku
Hingga lenyap tak bersisa rata dengan tanah
"Ini karena pemiliknya orang komunis yang atheis" seru mulutmu

Layaknya seorang Nabi…
Kau merampas kebebasan atasnama Tuhan
Kau merajalela atasnama bendera Pancasila
Kau main hakim sendiri atasnama panji-panji demokrasi

Kenapa? Ada apa denganmu Tuan-ku?

Sejak kapan kau menjadi tirani
Terhadap saudara-saudaramu sendiri?
Sejak kapan kau menjadi penguasa
Dengan menggunakan hukum rimba?
Sejak kapan kau menjadi manusia
Yang tidak sadar akan kodratnya?

Kau pun saudaraku
Seperti juga aku adalah saudaramu
Hanya kemudian kau lupa
Kau kemudian lupa diri dan mabok
Karena nuranimu telah dirampok
Oleh dasimu, pangkatmu dan jabatanmu

Kita sebenarnya sama-sama korban
Untuk dijadikan tumbal atasnama kekuasaan
Kita sebenarnya sama-sama rakyat
Tapi kau…
Dengan ujung bedilmu kau menindasku
Dengan kepalan tanganmu kau merenggut kebebasanku
Dengan ujung jarimu kau pasung hak hidupku

Ternyata aku baru mengerti…
Inilah sebenarnya makna Tuhan dan Pancasila
Yang kau ajarkan padaku lewat pidatomu setiap hari

Tapi Tuan-ku...
Apalah gunanya semua omong kosongmu itu
Kalau ternyata hanyalah sebuah keyakinan PALSU !

Haruskah selamanya aku menurutimu?
Tapi sampai kapan Tuan-ku?
Sampai kau puas?
Atau sampai kau sadar dan bertobat?
Tidak! Tak mungkin aku bisa menunggu Tuan-ku
Karena kesabaranku sudah luntur melihat tingkah lakumu

Sekian dulu dariku…
Maaf kalau aku terlalu banyak tanya padamu
Maaf kalau ada sedikit kata-kataku yang menyinggungmu
Terima kasih atas perhatianmu Tuan-ku
Kudoakan semoga semua ‘kebaikanmu’ mendapat imbalan yang sepantasnya

Sampai ketemu di barikade !

Salam hormat untuk Sang Penguasa,

Erwind Terrorezim

3/25/2008

Kata Adalah Senjata II

Simbol perlawanan atas kebencian
Bagai kutukan yang siap diteriakkan
Memuntahkan amarah terpendam
Meluncur deras menghantam raga

Dari amarah yang meledak-ledak
Bagai peluru yang terbius kedalam jiwa
Menembus otak memicu berontak

Dan sekali lagi...
Sebuah Kata akan menjelma menjadi Senjata

(Gresik, 21 Maret '08)

3/16/2008

Tidak Ada Surga Untuk Kita

Asap tebal mulai menjangkau langit
Seperti teriakan revolusi yang memanaskan angkasa
Di tiap jalanan dan sudut kota
Di tiap negara dimana keadilan menjadi dosa

Semua orang muak dan lelah
Dengan semua yang dibicarakan oleh media
Jenuh dan bosan pada kebohongan
Seakan mereka ingin berteriak dan berkata :
Kami ingin kebenaran !

Janji masa depan yang sempurna
Tanpa ada lagi upeti bagi sang raja
Semua omong kosong hanyalah tipu daya
Memecah amarah dan kebencian pada otak kita

Lebih baik kau dengarkan aku sekarang juga !

Kini sudah tidak ada lagi yang namanya surga
Lupakan semua angan yang ada
Kita harus merebut dunia ini sekarang juga
Kita harus mengambil alih sekarang juga
Karena dunia kita bukan milik mereka

(Malang, 23 Nov '06)

Takdir Untuk Kita

Mati satu tumbuh seribu
Hari ini satu penguasa mati
Besok muncul yang lain lagi
Hari ini satu keparat mati
Besok muncul yang lebih keparat lagi

Bagaikan tak ada habisnya
Semuanya terjadi silih berganti
Selalu datang dan pergi tiada henti
Apakah harus seperti ini...
Apakah harus seperti ini takdir yang kita jalani ?

Lihat saja...
Dunia ini seakan tidak mau berkompromi
Apalagi manusianya sudah dibutakan
Oleh Tuhan baru yang namanya 'materi'
Manipulasi berlangsung tanpa henti
Horor manusia muncul tiap hari di TV
Bagaikan film yang tidak ada ending-nya
Tidak ada lagi yang namanya halal & haram
Hukum & aturan pun sudah tak mampu lagi berkata
Sang pemberi keadilan pun diam
Sudah tak mampu lagi menunjukkan kehebatannya
Palu yang ditentengnya tiap hari
Seakan-akan hanyalah sebuah mainan
Yang telah kehilangan daya tariknya
Dan hanya demi sebuah ambisi duniawi
Benar & salah tak berlaku lagi
Apapun pasti dilakoni asal semua terpenuhi

Ah kalau sudah begini...
Cita-cita kehidupan sosial madani
Sepertinya hanyalah sebuah mimpi
Pasti semuanya akan terus seperti ini
Mungkin takdir ini tak dapat berubah lagi

Tapi apapun yang terjadi...
Kau masih tetap punya pilihan
Kau masih tetap bisa memutuskan
Ataupun kalau kau sudah tidak mampu untuk bertahan
Dan kau memilih untuk tunduk dan tidak melawan
Maka...
Menari dan bernyanyilah untuk kematian
Karena di kehidupan nanti
Kita semua sama, kita semua setara

(Malang, 3 Nov '07)

Sudah Saatnya... Revolusi !

Katanya engkau generasi muda
Pembawa pelita harapan umat manusia
Bagai intan permata di ujung sangkakala
Secercah cahaya bagi kelamnya dunia

Tapi engkau tidak bisa berkata apa-apa
Karena realita punya bukti yang ada
Nyatanya semua hanyalah utopia
Tanpa ada perubahan yang nyata

Apakah kau telah lupa diri
Akan kodratmu yang telah menanti
Sebuah perubahan yang berarti
Untukmu, untuk kita dan dunia ini...

Terbawa arus nikmatnya masa muda
Hedonisme kau puja layaknya sang dewa
Kau pun terus menutup mata
Tak sadar akan kondisi dunia
Seakan kau adalah hamba neraka
Yang tidak paham akan jeritan rakyat jelata

Apakah jiwamu itu telah mati
Terhempas oleh ambisi duniawi
Apakah nuranimu itu telah terbeli
Diganti oleh nikmatnya materi

Ternyata hanya sampai disana...
Hanya itukah nyali yang kau punya
Untuk apa labelmu sebagai mahasiswa
Kalau kau nodai semangat jiwa muda

SAMPAI KAPAN ENGKAU TERUS SEPERTI INI !?

Apa kau tidak malu pada bumi ini !?
Yang selama ini telah banyak memberi
Nikmat sesungguhnya alam raya ini

SEKALI LAGI...
APA KAU TIDAK MALU PADA BUMI INI !?

Sudah waktunya kau mengerti
Sudah saatnya kau menyadari
Kalau detik ini, hari ini dan saat ini
Revolusilah dirimu sendiri !

(Gresik, 28 Des '06)

Sajak Perlawanan

Mulutku boleh kau bungkam…
Hingga ku tak mampu teriak dan bicara apa adanya

Lidahku boleh kau sayat…
Hingga ku ta mampu berkata sesuai kata hati

Telingaku boleh kau potong…
Hingga ku tak mampu mendengar tangis negeri ini

Mataku boleh kau congkel…
Hingga ku tak mampu melihat realita yang ada

Tanganku boleh kau belenggu…
Hingga ku tak mampu mengepalkan kebebasan

Kakiku boleh kau pasung…
Hingga ku tak mampu bergerak untuk turun ke jalan

Leherku boleh kau penggal…
Hingga ku tak mampu menggeleng & berkata ‘tidak’

Otakku boleh kau remukkan…
Hingga ku tak mampu berpikir apa yang salah & benar

Kepalaku boleh kau hancurkan…
Hingga ku tak mampu menakuti detik-detik dalam hidupmu

Nafasku pun boleh kau hentikan…
Hingga ku tak mampu lagi untuk mengusik tidurmu

Tapi...
Nuraniku tidak akan bisa kau beli
Gejolak hatiku juga tidak akan bisa kau padamkan

Dan untuk hari ini dan seterusnya…
Revolusiku tidak akan pernah berhenti !
Revolusiku tidak akan pernah mati !

(Gresik, 16 Juli ’07)

Pengorbanan

Persamaan hak dan keadilan
Sebuah mimpi yang harus kita buat menjadi nyata
Tanpa ada despotis para penguasa
Bebas dari kebodohan para rasis dan fasis

Siapa yang membunuh demi ketamakan dan keuntungan?
Berapa banyak lagi kehidupan yang mati?
Siapa lagi yang akan disingkirkan oleh sistem hari ini?

Atas nama aliran darah mereka
Jika kamu melihat kebenaran
Yang akan kamu temukan adalah kepalsuan
Sampul atas kebusukan retorika yang ada

Semua pengorbanan para pemberontak
Yang telah dicuri hidupnya
Jawaban atas nama kekuasaan
Yang dinyatakan oleh peluru dan senjata

Mereka membutakan mata kita
Dengan politik dan kebohongan mereka
Mereka menghentikan tangisan
Dengan pembunuhan dan pembantaian

Pemerintahan dan manipulasi
Layaknya otoritas Hitler dan Nazi-nya
Akan datang sebuah rencana final
Dimana pemberontak lain akan mati
Demi eksistensi mereka

(Gresik, 3 Feb '07)

Pembantaian Oleh Bank Dunia

"Puluhan negara terjerumus kedalam kemiskinan, ribuan hektar hutan terbakar sia-sia, 10 juta orang dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya, dan ini semua akibat ulah mereka"

Rekonstruksi ekonomi oleh Bank Dunia & IMF
Sistem pembunuhan berencana oleh antek penguasa

Dengan image penolong yang mereka tunjukkan
Berlindung dibalik topeng untuk menutupi kejahatan mereka
Sebuah instrumen korporasi untuk menolak hukum aturan domestik
Berperan sebagai senjata Amerika untuk melancarkan politik busuk mereka
Pemicu rencana Amerika untuk memeras uang dengan manipulasi ekonomi

Mereka adalah anjing penjaga kepalsuan penguasa
Diktator yang beraksi atas nama kesengsaraan
Tirani yang berdiri dibalik kebijakan yang mereka rancang
Penghancur tatanan ekosistem dunia
Pelayan negara kaya untuk mengeruk keuntungan
Malaikat maut bagi negara miskin menuju ambang kematian

(Gresik, 23 Feb' 08)

Patriotik Rasis & Fasis

Benderamu...
Bendera perang
Merah, putih, biru dan lainnya
Warna dari sebuah sejarah
Sebuah simbol yang membatasi dunia

Atas nama panji-panji patriotisme
Untuk para rasis & fasis penindas sesama
Menjadi sebuah propaganda nista
Membuatmu saling bertarung satu sama lain

Buka matamu dan lihat sekelilingmu
Kepada rasisme, fasisme dan kepada kebencian
Buka pikiranmu dan mengertilah
Tekanan oleh penguasa di dalam pikiranmu
Tertanam kekerasan dan kebencian
Dan tekanan kepada minoritas
Untuk negaramu yang fasis itu
Semua kekosongan yang kamu yakini
Tidak akan pernah membuatmu merasa bebas & damai

Inilah saatnya…
Buka matamu dan lihat sekelilingmu
Taruh semua rasis dan fasis di sasaranmu
Begerak, bersatu & bersama
Hancurkan mereka sekarang juga !

(Malang, 10 Nov '07)

Nasionalisme Buta, Patriotisme Yang Sia-Sia

 "Sajak pendek buat prajurit-prajurit pembela negara fasis yang telah dirampas kebebasan dan kehidupannya akibat pembodohan oleh penguasa"

Jiwa dan raga
Kau persembahkan untuk negara
Harta dan nyawa
Kau persembahkan untuk negara

Atas nama nasionalisme
Ditambah doktrin patriotisme
Kau turun ke medan laga
Dan dengan bangga kau angkat senjata

Mati di pertempuran
Kau anggap itu pengorbanan
Peluru menancap di dada
Kau anggap itu sudah biasa

Tapi apa peduli mereka ?!
Apa yang bisa diberikan oleh mereka ?!

Ketika kau mulai tua
Maka saat itu juga
Kau akan sadar bahwa
Kau berkorban terlalu banyak buat mereka

Kau telah dibodohi oleh Sang Penguasa
Sampai-sampai nyawa pun
Kau berikan untuk mereka...

(Malang, 10 Okt '07)

Media Mereka Bukan Untuk Kita

Dengan uang, jabatan dan kekuasan
Penguasa, politikus dan antek-anteknya
Mereka membeli dan mengontrol media
Untuk menutupi omong kosong mereka

Kebenaran selalu menjadi korban pertama
Yang hitam diputihkan
Dan yang putih diburamkan
Inilah demokrasi kontrol media

Dengan uang, jabatan dan kekuasan
Mereka mengirimkan pesan di TV
Dan media kehilangan independensi
Karena demokrasi mereka telah terbeli

(Malang, 17 Mei ’07)